Fanatik Membunuh Rasa Simpatik, Radikal Membunuh Akal

teratai-wikiDongbud – Wage Rahadjo. Suatu hari, beberapa puluh tahun lalu, disaat pelajaran agama, guru saya tampak membanting sebuah buku kecil di atas mejanya. Dengan suara menggelar bak suara geledek, beliau menjelaskan bahwa buku tersebut isinya menyinggung dan menjelek-jelekkan agama Hindu. Para siswa hanya terdiam dan sang guru berbicara  sampai teregah-egah menumpahkan kekesalannya,

Selang sehari kemudian, ketika pulang dari sekolah, saya melihat buku yang “menghina agama Hindu” tersebut tergeletak di ruang tamu di rumah saya. Judul buku dan pengarangnya maaf, saya lupa. Namun yang jelas pada sampul luarnya terdapat gambar seorang anak yang ditutup dalam kurungan ayam dan di latar belakang tampak orang dewasa yang berpakaian adat Jawa. Buku tersebut membahas tentang budaya masyarakat Jawa dan Nusantara yang disebutkan oleh penulisnya merupakan sisa-sisa pengaruh agama Hindu dan Animisme.

“Nah, ini dia buku sesat tersebut” dan sayapun membacanya dengan rasa marah. Setelah membaca beberapa halaman, saya tidak mudeng (tidak paham), sehingga loncat ke bagian biografi penulisnya. Sang pengarangnya ternyata sudah meninggal mendadak karena serangan jantung. Sayapun menyeringai puas.

Besoknya saya menceritakan tentang buku tersebut kepada para teman di sekolah dan disertai dengan penjelasan tentang Sang Pengarangnya yang sudah meninggal secara mendadak. “Rasain, itulah hukumannya untuk orang yang berani menghinda agama Hindu” komentar salah seorang teman saya.

Sore hari, ketika saya pulang kerumah, ternyata buku tersebut masih ada di rumah dan sedang asik dibaca oleh ibu saya. Saya tampak sedikit tidak senang. “Bukunya siapa Bu?” tanya saya. “Bukunya Bapak, emang bukunya siapa lagi?” jawab ibu saya. Bapak saya adalah seorang guru dan sangat gemar membaca dan mengkoleksi buku.

“Bukankah itu adalah buku yang isinya menghina agama Hindu?” tanya saya. “Menghina agama apanya dan tahu dari mana? Ini buku yang sangat bagus yang mengungkap tentang budaya lokal Nusantara” jawab ibu saya.

“Hah?! Buku bagus tentang budaya? Bukankah itu buku rasis yang menjelek-jelekkan agama?” Sayapun heran tidak habis pikir, kenapa bisa berbeda pendapat? Malamnya saya benar-benar mencoba membacanya dengan hati yang lebih jernih. Setelah membaca hampir setengah halaman, ternyata ibu saya benar, isinya sama sekali tidak ada unsur penghinaan atau menjelek-jelekkan agama Hindu.  Didalamnya memang ada kata “animisme dan sisa-sisa pengaruh Hindu” dan sepertinya masih sesuai dengan konteks bahasan.

Dari kejadian tersebut saya mendapat pelajaran sangat berharga bahwa fanatisme sempit akan membuat kita buta dan kata-kata seseorang hendaknya jangan langsung dipercaya, walaupun dari guru agama sekalipun.

Tingkat pendidikan sama sekali tidak bisa dijadikana acuan kedewasaan berpikir. Saya yang saat itu berstatus siswa sekolah menengah ternyata kalah dengan ibu saya yang tidak tamat SD.

Di masa sekarang ini, ketika saya sudah besar eh.. tua, kebenaran dari kalimat fanatik membutakan akal tampak mempunyai banyak contoh. Berita yang disertai dengan image gambar mayat yang katanya korban kerusuhan agama dengan spontan langsung akan membuat emosi pembacanya meledak hebat. Gambar kadang bisa diambil dari kejadian lain yang tidak berhubungan dengan kejadian atau tidak berhubungan dengan judul. Gambar apapun asal ada mayat yang bergelimpangan bisa dicomot menjadi gambar ilustrasi. Bagi orang fanatik maka semua ini akan mematikan nalar.

“Orang China memukul wanita sampai pingsan”,  kasusnya akan menjadi berbeda ketika judulnya diganti menjadi “Orang China memukul wanita berjilbab sampai pingsan”.  Bagaimana ceritanya koq bisa dipukul? Alasannya apa? Sudah lapor polisi belum? Kalau dipukul tanpa alasan bisa jadi Si Pemukul kurang waras khan? Namun kadang banyak orang tidak peduli dan terpaku dengan kata JILBAB.

Politik, olah raga, sepakbola, nasionalisme adalah sama saja. Fanatisme mematikan nalar. Disaat nalar sudah tidak jalan maka akan sangat mudah dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuannya. Dari beragam saluran fanatisme yang ada, agama adalah merupakan media yang paling mudah menyulut emosi. Itulah sebabnya kerusuhan agama ataupun partai politik berasaskan agama bisa eksis sampai sekarang. Dan itu pula sebabnya kerusuhan agama sangat mudah terjadi di masyarakat tebelakang.

Di negara yang pendidikan dan pola berpikirnya lebih maju, kerusuhan berlatar desas desus, kabar burung ataupun agama relatif lebih susah meletus. Jadi initinya ya itu menempatkan fanatisme agama pada tempatnya.

wage-sign-rahardjo

Sumber image : wikipedia

Advertisements

22 thoughts on “Fanatik Membunuh Rasa Simpatik, Radikal Membunuh Akal

  1. selamat malam kawan,
    dari cerita panjenengan saya tangkap hal yg saya pahami satu hal mengenai sesuatu yg sangat pribadi mungkin seseorang yg memingit diri atas nama wage itu yg saya dapat simpulkan dari tulisan panjenengan adalah anda sudah Tua……..hehhehehehe hahaha

    1. Dituding2 atau bahkan dimaki2 juga ndak apa2. Mbah orangnya kepala batu, jadi dituding2 juga kagak ngaruh atau percuma, ibarat nuding batu.Wakakakkk……

      Badan boleh tua tapi hati tetap kecil dan kekanak-kanakan. Buktinya masih suka main layangan dan mobil-mobilan.

  2. Selamat pagi , salam damai lahir batin….

    Fanatik membunuhi pola pikir….
    Bagaimana bila kita kecemplung sungai yang sedang banjir ,hanyut terjebak oleh arus air yang sangat deras , bisa mati atau selamat ,tergantung upaya kita dan kondisi alur sungai ….atau kita pasrah dan diam saja ,menikmati rasa alur arus deras , sampai benar benar kita mati tenggelam….

    Fanatik timbul dari banyak sebab , mungkin dari pergaulan dan kelompok , bisa jadi hanya ikut ikutan , percaya dengan cerita yang dilebih lebihkan , ego dan mengagung agungkan sesuatu….

    Fanatik sebagai penyakit ketika manusia sudah sangat jarang mengamati obyek atau subyek yang lain , kurang menghargai sesama dan bahkan merendahkan , tidak berani jujur untuk berkata apa adanya…

    Fanatik berakibat pola pikir dan hati tidak bijaksana , tidak mau mengaku salah dan kalah….

    1. Fanatik mungkin sudah jadi trend sejak jaman dulu…..he he….

      Saya juga rasa rasanya juga fanatik tapi tidak merasa …..

      Salam .


  3. Manusia tidak bisa hidup sendirian.
    Dasar inilah manusia nencari teman yang punya suatu persamaan, membentuk suatu kelompok hingga menduduki suatu wilayah dan ber Negara, dunia pun akan dikuasai
    nafsu ingin… ingin… ini yang sering membutakan nalar. Fanatik adalah suatu kegoblokan dalam memahami sesuatu yang sangat berlebihan.

  4. Gue malah punya apah-apahlah…pinter sgalanyahlah…bisa pa sajahlah…teori be.gudang-gudang…tak te.hinggalah…
    Giliran mo ambil satu k.putus.an sajalah…malah hasilna-lengganan-bonyok~bonyok teruslahh…
    Hiks…sediiih…
    .
    Xixixi

  5. iyaaaa…perintah dari Tim masi tetep sam maaah…
    bia.r.pun bonyok~bonyok nyang penting kudu tetep kekeuh…narsiy…
    biar mangkin seruuu…asikk…
    hi hi

    1. Nuwun Kang JARISAKTI atas koreksinya. Tulisan sudah diedit. Jarang2 ada warga kritis yang mau koreksi kalimat.

  6. saya sebagai orang yg beragama hindu saja tidak marah
    karena memang BENAR hindhu & islam kejawen yg ada di indonesia memang masih kental sisa” budaya animisme nya

    sbg contoh hindu di bali tidak sama dengan hindu di india kalo di lihat ritual adat & hari raya nya

    kq bisa ?
    ya itulah indonesia 🙂

  7. Pada suatu saat, dalam sejarah Indonesia sekitar satu setengah juta orang jadi korban – mati sia2 – …karena kefanatikan atau …apa …Saya ndak paham …Satu bukti bahwa kita sebagai bangsa yang …eh hem, berbudaya adiluhung dan halus budi bahasanya, bisa juga menjadi bangsa yang …bengis …

    Seperti, tapi dalam skala yang berbeda , Jerman dibawah Hitler, Nazi , yang membantai 6 juta orang Yahudi. Dan juga Pol Pot yang dengan luar biasa kejamnya membunuh rakyatnya sendiri, Sekitar 1 sampai 3 juta rakyat Kamboja mati ….Rakyat Kamboja, anak cucu pembuat (Candi) Angkor Wat , candi agung yang mirip …Borobudur …

    Semoga kita tidak melupakan …sejarah, semoga kita bisa belajar dari sejarah. Semoga kegoblokan dan kebengisan masal tidak …terulang lagi …

    1. Kita hanya bisa berharap, sayapun selalu berharap, tapi melihat kenyataan yg ada sepertinya kegoblokan itu masih tetap ada dan akan tetap terulang.

      Sejumlah group di media sosial yg sempat saya baca, terkadang membuat saya bergidik ngeri. Mungkin saja jumlahnya tidak banyak, tapi utk menciptakan kekacauan tidaklah diperlukan banyak orang. Bukankah utk membuat rusak susu sebelangga hanya diperlukan setitik nila?

  8. Saya pernah membaca (Jiddhu) Krishnamurti. Kalau ndak salah, beliau pernah bilang ,’Revolusi harus dimulai dari diri kita sendiri.’ Tidak sama, tapi pepatah Tiongkok itu menurut saya bisa …jitu,’Daripada mengeluh karena gelap, lebih baik menyalakan …lilin.’
    Pepatah orang nganggur mungkin lebih jitu,’Daripada mengeluhkan ketidakberesan hidup di Indonesia, lebih baik mengubah nya (mulai dari) diri sendiri, dan menulis di blog mbel. ‘Perjalanan seribu kilometer dimulai dari jalan setapak (demi setapak).’ (Pepatah Tiongkok)

  9. Oom,

    Acungan jempol ke ATAS itu dari saya : Untuk Oom Wager, Dewi berkembenkan sutera ungu Mas Cahyo Dc,Pejalan,dll. Acungan jempol ke BAWAH untuk saya itu dari …saya sendiri . Boleh kan, asal ndak ke atas ?? (-:
    slumanslumunslametslumanslumunslamet ….

  10. Salam Mbelgedez Lover’s
    @Mbah Wager
    Kang Pejalan, Kang O-O, Kang Bala(ne)dewa, Kang Krishna, Kang JariSakti,Kang Lesungpipi3t, Kang Tester, Kang Nurkahuripan, Kang JS, kang Pengamat,Jeng Dewi
    dan para sedulur semua

    @kang Bala(ne)Dewa


    Jempol Keatas Untuk panjenengan Kang, TOP MARKOTOP
    =============
    “Semoga kita tidak melupakan …sejarah, semoga kita bisa belajar dari sejarah. Semoga kegoblokan dan kebengisan masal tidak …terulang lagi … ” @kang Bala(ne)Dewa

    =============
    “Kita hanya bisa berharap, sayapun selalu berharap, tapi melihat kenyataan yg ada sepertinya kegoblokan itu masih tetap ada dan akan tetap terulang” @Simbah Wager

    Salah satu hobi atau kegemaran sebagian saudara kita adalah “LATAH”, ikut-ikutan entah pingin eksis atau banyak teman. dan selalu ingin jadi yang Ter…….?
    Sebenarnya bangsa kita banyak memiliki orang-orang yang cerdas. namun kadang ada yang salah jalan

    Di bidang IT (teknologi Informasi)
    Banyak saudara yang melakukan kejahatan dibidang ini, bahkan pernah menduduki peringkat atas di Asia.
    http://ifomedia.blogspot.com/2013/03/3-kejahatan-internet-di-indonesia.html
    Ini adalah suatu Kegoblokan, hal-hal negatif dikembang biakan.

    Dibidang Agama ….?
    Saya kira negara kita adalah negara yang sok agamis dari negara asalnya.

    Dibidang Ekonomi….?

    Salam Rahayu
    Maaf mbah Jangan Dilempar Sandal

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s