Krishna : Kekuasaan Buta Nurani

Renungan Seorang Krishna (Bagian II).  Tulisan lainnya bisa dibaca di Folder Krishna.

credit image : monarch-buterffly.comOpini Warga, Penulis : Krishna. Sesungguhnya dari sejak keturunan Adam sampai sekarang permasalahan hanya satu, yaitu penyakit hati “ksombongan, tamak, iri hati dan egois”. Hal ini sudah dimulai pada masa nabi Adam, pertikaian antara Habil dan Kain, imbasnya pertikaian antar saudara,seiman, satu, satu bangsa atau negara terus berlanjut sampai hari ini.

Sadarilah kita hanyalah dampak dari dari pertikaian itu. Saat agama / kepercayaan terpecah menjadi banyak aliran / sekte / cabang/ apapun itu…dengan dalil bahwa ajarannya yang lebih benar dengan dibantu ayat ayat dalam kitab untuk menguatkan dalilnya, namun sesungguhnya ini tidak jauh hanya sekedar kekuasaan. Karena kekuasaan itu membutakan hati nurani. Kekuasaan itu ibarat pusaran air, semua akan terkena dampak putarannya….bahkan bila anda menyatakan anda pluralis atau bahkan ateis sekali pun, anda tidak bisa menghindar dari getarannya karena ateis sekali pun adalah contoh sikap dalam keyakinan.

Seperti yang terjadi belakangan ini, di timur tengah perang antar aliran besar yaitu Sunni dan Syiah walau ada Wahabi juga. Bila ditarik dalam sejarahnya maka persoalannya akan terlihat jelas yaitu kekuasaan / siapa yg menjadi khalifah “mohon maaf bila salah hanya pandangan orang awam saja” walaupun ada hal hal substantif yang dipegang masing masing aliran “perbedaan ini tidak akan pernah bertemu dan hanya menghasilkan konflik, sama seperti diskusi antara Islam dan Kristen tidak akan menemui titik sama, jalan keluarnya hanya toleransi”.

Kebenaran dan pembenaran adalah hal yang berbeda, namun manusia menjadikan pembenaran atas pandangannya dijadikan sebuah kebenaran. Ayat ayat dalam kitab hanya dijadikan propaganda landasan atas segala pembenaran segala aksi.

Terlalu jauh bila kita merasa melakukan apa yang Tuhan inginkan, namun kita belum menyadari arti diri sendiri. Banyak berdoa, rajin sembhayang, berderma, menolong yang miskin, membantu sesama, jujur, berguna untuk orang lain dan perbuatan baik lainnya tidaklah sebagai alasan Tuhan wajib menerima kita dalam rumahNya. Esensi kebaikan itu bukanlah surga, namun menjadikan kita pribadi yang baik, damai dan bahagia….tentang surga ? itu hanya Tuhan yang menentukan…!!! Apakah ada hakim yang lebih adil dari Allah?

Masa kejayaan / keemasan dengan masa kegelapan hanyalah sebuah permainan kata tergantung siapa yang melihatnya. Contohnya masa kejayaan muslimin adalah masa kegelapan bangsa nasrani, masa kejayaan nasrani adalah masa keterpurukan umat muslim. Lebih mudahnya kejayaan kekuasaan Belanda adalah masa penderitaan bangsa Indonesia, Masa bangkitnya negara Timor Leste adalah masa duka hilangnya bungsu Indonesia. Kejayaan dan kegelapan seperti permainan mata uang.

Iman terhadap Sang Pencipta sangatlah penting, mengapa? Agar kita menjadi selalu mawas diri, menjadikan kita selalu sadar betapa kecilnya kita, selalu bersyukur agar menciptakan sebuah kata sakti yang disebut “kebahagiaan”. Hidup ini singkat, hidup ini sulit, jadi nikmati hidup ini, bila tidak dapat membantu orang lain setidaknya jangan berikan derita terhadap mereka. Setiap manusia mempunyai kiamatnya masing masing. “saat seorang murid bertanya kepada gurunya, Tuan kapankah hari penghakiman itu datang? sang guru hanya menjawab hanya Bapa di surga yang tahu”

Tatap hari dengan senyum, salam sejahtera bagi semua. Gbu all

Penulis ; Krishna

Catatan dongbud : Pindahan dari halaman komentar
Dipublish apa adanya, tanpa editing apapun.  Terima kasih utk Kang Krishna

Credit image : monarch buterffly.com

5 thoughts on “Krishna : Kekuasaan Buta Nurani”

  1. Salam mbelgedez
    @para sesepuh disini
    @kang Krishna
    Tulisan yang bagus sekali
    Memang pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendirian dan harus berjuang untuk hidup. Sifat serakah/rakus/tamak kadang sangat dominan menjerat diri, hingga melupakan hati nurani. Nafsu ingin berkuasa / menguasai terhadap orang/ sesuatu juga dalam rang bertahan hidup, suatu kelompok ingin menguasai kelompok yang lain sampai negara yang menjajah negara lain dengan menghalalkan segala cara. Benar sekali kang dalih agama seringkali digunakan untuk memperoleh kekuasaan dengan mempengaruhi, menghancurkan yang dianggap tdk sejalan, sayangnya “Tidak ada Agama yang melarang umatnya untuk menyebarkan ajarannya”. Ha…ha…ha…

    Salam mbelgedez

    1. Kang Cahyo jangan terlalu banyak setuju, ini pendapat dari orang yang belum jelas bisa bisa anda ikut jadi gak jelas. Saya rekomendasi kepada mbah Wage yang lebih jelas keliatannya. hehehe
      Salam damai

    2. kang KRISHNA, weleh saya manusia yang setali 3 uang dengan Akang. Saya juga manusia tdk jelas. Di blog ini hanya si bidadari bertanduk yang tahu dan pernah berjumpa dgn saya. Saya kaget lihat tanduknya dia, diapun kaget lihat tampang saya yg kayak iguana saya. wakakakkk…..

      omong2, saya juga sama dgn kang CAHYO, yaitu setuju dgn tulisan di atas.

  2. heloow..???salam abal-abal salam mbelgedezz hehehe…😀

    Artikel bagus yg diambil dari komen yg bagus pula, sayang enggak serius nulisnya jadi we masih ada justifikasi hehehe…

    @kang Krishna, coba doong lain kali nulis artikel mansaab dimari tentang hal yg anda sebut benar heheh.tp jangan njlimet2 yak, nyang gampang ajah soalnya saya bego hihihi

    Salam nungging buat semua _/\_

    reply wager : @Mas WAN KOBANI, selamat datang di blog abal2

    1. Salam kang wan kaboni, seperti dalam laga sepakbola bukan pemainlah yang terlihat hebat namun para penontonlah yang merasa dirinya lebih hebat dari pelatih atau pemain itu sendiri. Bila dalam satu pertandingan ada 100 penonton maka 98 orang akan menjadi komentator ulung sedang sisanya sedang belajar menjadi komentaror pula. Posisi saya pun ada dalam 98 orang itu, penonton itu berada dalam zona nyaman namun berlaga bak pahlawan. Jadi mohon maaf permintaan kang Wan Kaboni belum bisa dipenuhi, benar sekali bila komentar di atas terkesan justifikasi karena ini hanya pandangan awam yang hanya mampu melihat dari kulitnya saja. Bila ada salah kata saya mohon maaf, salam sejahtera.

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s