Catatan Kaki No 2 : “Membaca” Sejarah Nusantara Dalam Fungsi Dan Realitasnya Sebagai Anak Bangsa

Penulis : Kang Pejalan

Credit image : eastjava.com
Credit image : eastjava.com

PROLOG :

  • Tulisan ini di buat sebagai rasa cinta & bela negara terhadap Ibu Pertiwi (NKRI), dimana kita dilahirkan – dibesarkan (mencari nafkah) – meninggal di Bumi Ibu Pertiwi (NKRI), oleh karena itu isilah.., rawatlah… & jagalah Bumi Ibu Pertiwi (NKRI), dengan kebenaran, kebaikan & keindahan, prestasi yang membanggakan, sikap & tindakan yang mulia & keteladanan sebagaimana pesan Sang Proklamator (Presidem RI Kesatu – Bung Karno) : “Agar setiap orang mencintai Tanah Airnya (Ibu Pertiwi) seperti ia mencintai Ibu Kandungnya sendiri.”
  •  “Jangan tanyakan apa yang Ibu Pertiwi (Negara) dapat perbuat kepada anda, tetapi…. tanyakan apa yang dapat kita perbuat kepada Ibu Pertiwi/Negara (Presiden JF. Kennedy, dikutip dari Marcus Tullius Cicero)

Jika kita berbicara tentang Sejarah Nusantara (NKRI) , pada Masa Leluhur, khususnya Zaman Hindu sebelum Islam berkembang di Nusantara (NKRI), pun Zaman masuknya & berkembangnya agama Islam, yang kita “baca” sebagian benar, sebagian lagi terputus-putus (missing link), dan sebagian yang lainnya penuh tendensi (ego penulis, kepentingan Kolonialis/Imperialis, kepentingan negara negara industrialis – kapitalis, dsb.), ketidaklengkapan tersebut semakin bertambah karena Para Penulis Sejarah ini lazimnya terbagi menjadi 2 (dua) Kelompok,:

  • Kelompok Pertama mereka yang menulis Sejarah Nusantara (NKRI) berdasarkan Akademis.
  • Kelompok Kedua, mereka yang menulis Sejarah Nusantara (NKRI) berdasarkan Pengalaman & Spiritualisasi (Non Akademis).

Kelompok Pertama mereka yang menulis Sejarah Nusantara (NKRI) berdasarkan Akademis : Para Penulis yang berdasarkan Akademis sebagian mengutip (referensi) data dari Para Pengarang Non Pribumi, yang tentu saja ada maksud tertentu yang terselubung demi untuk kepentingan Negaranya dan/atau kepentingan Kolonialis/Imperialis, dan/atau Egonya, dan sebagian lagi berdasarkan bukti fisik temuan di lapangan, peninggalan peradaban masa lalu. Akan tetapi bukti fisik temuan di lapangan peradaban masa lalu itu tidak berarti tabir peradaban masa lalu terkuak dengan terang benderang, karena sebagian besar memerlukan keahlian untuk “membacanya,” sebagian lagi adanya perbedaan pendapat diantara para ahli (arkeolog dsb.), sedangkan di sisi lain data temuan di lapangan tidak utuh (dalam arti berkesinambungan) sehingga terdapat mata rantai yang terputus (missing link).

Kelebihan dari Penulis Kelompok ini, berdasarkan akademis, bukti & fakta bisa dilihat, dianalisis & diuji kebenarannya secara ilmiah. Mereka menuangkan dalam kerangka sistematis (akademis), lazimnya berbicara tentang Pusat Kerajaan, Struktur Kerajaan, Struktur Birokrasi, Struktur Masyarakat, Berdirinya Kerajaan, Runtuhnya Kerajaan, Kepercayaan (Agama), Ekonomi, Sosial & Budaya (Peradaban).

Akan tetapi kelemahan dari Kelompok ini, lazimnya tidak tertanam di benaknya dan jauh di lubuk hati sanubari Generasi Penerusnya, sehingga Fungsi, Maksud & Tujuan Sejarah Leluhurnya (Sejarah Nusantara/NKRI) sangat minimal (kurang tercapai) kepada Generasi Penerusnya, terutama Keluhuran budi pekertinya, sifat Ksatrya-nya, semangat Nasionalisme & Ideliasmenya. Adapun kelemahan lainnya yang mendasar adalah jarang mengupas Kerajaan-kerajaan yang kecil lainnya yang ada benang merahnya dengan Kerajaan besar pada masa itu, termasuk Kerajaan besar berikutnya (sebagai Penerusnya).

Kelompok Kedua, mereka yang menulis Sejarah Nusantara (NKRI) berdasarkan Pengalaman & Spiritualisasi (Non Akademis) :

Sedangkan Para Penulis yang berdasarkan Non Akademis, yaitu berdasarkan Pengalaman & Spiritual, dengan menguak/membuka portal gaib, dimensi lain bahkan lintas dimensi, dimana teknisnya ada yang memang terbuka untuk dirinya, dan ada juga yang harus membukanya. Kesemuanya ini atas izin Para Leluhur (Horizontal) dan Ketetapan (Qudrat dan Irodat) Tuhan Yang Maha Kuasa (Vertikal).

Kelebihan dari Penulis kelompok ini, lebih menekankan kepada keluhuran budi pekertinya (akhlak-nya), dengan menteladani jejak langkah Beliau, baik jejak langkah keluhuran budi pekertinya secara pribadi (winasis – waskita & linuwihnya), maupun sepak terjangnya secara kepemimpinannya (leadership) sebagai seorang Raja yang memegang teguh sifat Ksatrya, sehingga tertanam di benaknya dan jauh di lubuk hatinya semangat Nasionalisme & idealismenya kepada Tanah Air oleh Generasi Penerusnya.

Kelebihan lainnya adalah mengupas Kerajaan-kerajaan yang kecil lainnya yang ada benang merahnya dengan Kerajaan besar pada masa itu, termasuk Kerajaan besar berikutnya (sebagai Penerusnya). Adapun kelemahan dari Kelompok ini, lazimnya kecerdasan intelektualitasnya rata-rata, sehingga kurang pandai merangkai/menyusunnya secara sistimatis maupun asimetris.

Seperti halnya Para Penulis yang berdasarkan Akademis, tidak semua orang bisa melakukannya, karena….. selain mereka harus menjalani pendidikan akademis s/d. jenjang berikutnya (S-1, S-2, S-3 & Profesor), pun mereka memiliki talenta & style menulis.

Sedangkan Para Penulis yang berdasarkan Pengalaman & Spiritual, tidak semua orang dengan mudah bisa melakukannya, karena lazimnya mereka harus punya ilmu spritual dengan tingkat tertentu, punya trah & terpilih, pun mereka memiliki talenta & style menulis.

Para Penulis yang berdasarkan Akademis lebih mendominasi Pendidikan Formal, baik di SD, SMP sampai dengan SLA, bahkan Perguruan Tinggi (Kaum Intelektualitas), sedangkan Para penulis berdasarkan Pengalaman & Spiritualisasi (Non Akademis) berjalan di Akar Rumput & Kalangan Spiritual, sehingga beraneka ragam rasa menambah kebingungan & keapatisan Generasi Penerusnya yang hidup di Abad XXI – Zaman Modern (Zaman Teknologi), karena mereka menganggap belajar Sejarah Nusantara (NKRI) sebagai Formalitas & Hapalan, tidak menyentuh Isi & Rasa, kurang mencapai Fungsi, Maksud & Tujuan.

Itulah salah satu problematik pengajaran/pendidikan Sejarah Nusantara (NKRI), dimana Para Penulis & Pengajar hanya berdasarkan empiris, dan metodologi yang baku & monoton/membosankan, tidak integral & memakai cipta rasa, sehingga fungsi, maksud & tujuan dari sejarah Nusantara (NKRI) tidak maksimal, tidak tertanam di benaknya dan jauh di lubuk hati Generasi Penerusnya, khususnya Generasi Penerus yang hidup di Zaman Modern, Zaman Reformasi, terutama Para Pemimpin yang cenderung melupakan Sejarah Para Leluhurnya dan Para Pejuang/Pahlawan Kemerdekaan yang pernah eksis & berjuang membangun Nusantara (NKRI), sehingga Generasi Penerusnya di Zaman Pasca Kemerdekaan, khususnya di Zaman Reformasi sebagai Pelaku Estafet seharusnya melanjutkan, mengisi & membangun Nusantara (NKRI) ini tetap dengan memelihara keutuhan, kerukunan & kekompakan persatuan & kesatuan Nusantara (NKRI), semangat Nasionalisme & Idealismenya, membangun dengan sungguh-sungguh jiwa & raga Bangsa Indonesia (NKRI), yang MANDIRI dan BERDAULAT dari kepentingan & campur tangan pihak asing, pun pihak pihak oportunis (antara lain; pihak pengusaha yang anasionalis, dll.), dsb…, yang menyengsarakan hidup dan kehidupan rakyat Indonesia, sehingga terwujudnya MASYARAKAT/BANGSA YANG ADIL MAKMUR, GEMAH RIPAH LOH JINAWI, AMAN TENTRAM KERTARAHARJA.

Ingatlah Ucapan/Pesan Sang Proklamator (Presiden RI ke 1 – Bung Karno), yakni: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan Sejarahnya.”

Arti, Maksud & tujuan ucapan/pesan Beliau adalah; Belajarlah dengan baik, benar dan tulus (dimengerti, dipahami & dicintai) Sejarah NKRI, dari awal s/d. terbentuknya NKRI, periode-periodenya, tahapan-tahapannya, peristiwa-peristiwanya, perjuangan-perjuangannya, personal-personalnya, jika perlu dibuatkan “breakdown (flowchart & matriks) SWOT,” agar proporsional, integral, transparan/akuntabilitas & “terukur”, sehingga siapapun yang melihatnya, membacanya dan/atau mempelajarinya akan mengingat dalam benaknya dan meresap dalam hati sanubarinya, JASA JASA akan PERJUANGAN PERJUANGAN PARA PENDAHULU kita.

Kalaupun ada peristiwa-peristiwa tragis & perbuatan-perbuatan yang tidak patut, dan sebagianya, dan lain sebagainya, jangan dilihat secara KASAT MATA, tetapi lihatlah dengan CIPTA RASA, karena ini adalah perjalanan SEJARAH NUSANTARA (NKRI) di satu sisi (Horizontal), dan di sisi lainnya (Vertikal), ini adalah SKENARIO TUHAN YANG MAHA SEMPURNA (Qudrat dan Irodat-NYA).

Dengan “membaca….,” Sejarah bukan sekedar perjalanan (peradaban) manusia di bumi yang terjadi begitu saja adanya, akan tetapi….. jika direnungkan lebih dalam memberikan pelajaran & hikmah bagi kita sebagai Generasi Penerus akan Skenario-skenario-NYA dan Ketetapan-ketetapan-NYA.

Dengan “membaca….,” Sejarah, Tuhan memberikan pelajaran kepada kita, dalam kawruh Jawa salah satu hikmahnya dikenal dengan istilah : ”ngunduh wohing pakerti” (orang akan memetik hasil atas perbuatannya sendiri). Bangsa ini adalah merupakan Anak Cucu Para Leluhur Negeri ini, sudah semestinya kita tidak melupakan Sejarah eksistensi Beliau Para Leluhur Nusantara dan dengan segala fenomenanya, pun kepada Para Pejuang/Pahlawan Kemerdekaan yang pernah eksis & berjuang membangun Nusantara (NKRI).

Agar kita sebagai Anak Bangsa, khususnya PARA PEMIMPIN DAN JAJARANNYA menteladaninya, mengisi & meneruskan perjuangan-perjuangannya, dengan meng-implementasikan dalam niat (hati nurani/qalbu), pemikiran (AKAL), itikad (jiwa), ucapan, sikap & tindakannya (implementasinya) sebagai Aparatur Negara & Aparat Hukum dengan semangat Nasionalime & Idealismenya yang baik, benar, adil & jujur, berjiwa Ksatrya & berakhlak mulia (keluhuran budi), sehingga menjadi PANUTAN (SURI TAULADAN) rakyatnya, serta apa yang dicita-citakan oleh PARA PENDAHULUnya terlaksana yaitu MASYARAKAT/BANGSA YANG ADIL MAKMUR, GEMAH RIPAH LOH JINAWI, AMAN TENTRAM KERTARAHARJA.

EPILOG :

  • Sabagai Warga Negara (Anak Bangsa), isilah – rawatlah – jagalah dengan setulus – tulusnya, sebaik – baiknya & optimal kepada Ibu Pertiwi (Tanah Air) berupa pemikiran, sikap & tindakan yang baik (berprestasi), benar (kejujuran, kebenaran & keadilan) & indah (kesatuan – persatuan & harmonisasi).
  • Jadilah Anak Bangsa (Warga Negara), Tokoh dan/atau Pemimpin yang tidak mengkhianati CITA CITA LUHUR Para Leluhur, dan Para Pejuang/Pahlawan Kemerdekaan yang pernah eksis & berjuang membangun Nusantara (NKRI), yang tercermin dalam Pemukaan UUD 1945, yaitu : “……. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penuls : Kang “Pejalan”. 15 April 2015 / 11:32 pm Dipindahkan dari komentar di halaman khusus “Orang Gila”.

Advertisements

11 thoughts on “Catatan Kaki No 2 : “Membaca” Sejarah Nusantara Dalam Fungsi Dan Realitasnya Sebagai Anak Bangsa

  1. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan Sejarahnya” salut sama dongbud editor , ada benarnya juga arikel dongbud editor, misal banyak yang menganggap pelajaran sejarah membosankan. INi merupakan titik awal melupakan sejarah bangsa,

    1. Zaman saya dulu pelajaran sejarah kurang begitu menarik.Hanya hafalan peristiwa2 dan tahun2. Setelah dewasa baru saya …sadar pentingnya sejarah. Saya juga baru tahu, setelah dewasa, bahwa sejarah biasanya ditulis oleh …yang sedang berkuasa …Dus, fakta sejarah sering dibelokkan. Super Semar,misalnya …Mosok sih Presiden Soekarno dengan rela hati …turun
      tahta ? … Dan dokumen yang begitu penting kok bisa …lenyap tanpa bekas ? …

      Dus, saya bisa mengerti kalau bandara di Jakarta dinamakan Bandara Soekarno – Hatta. Ndak kebayang ada bandara Soeharto. Apalagi Bandara … Wage Raharjo …pengelola blog mbelgedes .

  2. Salam sejahtra & salam mbelgedez …….

    Kalau ada bandara Wage Raharjo pasti Bandara tersebut terbaik di indonesia
    ==============================================================

    @Kang Wager…..
    @Kang Mentik Sebutirilmu .., statement yg bagus…., jadi saya ketawa duluan (heheeheee…….), karena gak kebayang bandara tsb, betapa luasnya.., ramainya.., terutama KOMPLITNYA JENIS PESAWAT…., dari pesawat yg paling besar (Airbus A380, Boeing 747 8, Antonov AN 124, Lockheed C5M Galaxy, dsb), s/d. pesawat yg ringan (N-250, N-219, dsb), pun pesawat abal-abal….., pun pesawat mbelgedez …., ada kemungkinan tercatat dlm SEJARAH Bandara & Penerbangan sbg 10 Bandara dgn pesawat terkomplit & ter-aneh di dunia……. heheeheee……….

    Salam mbelgedez…..
    Rahayu

  3. Waduh, Kang Bala, baiknya jangan pakai nama saya, kesannya jadi menonjolkan diri sendiri. Pakai nama bandara Padepokan Mbelgedez atau Abal-abal saja.

    Spt yang ditulis Kang Mentik dan Kang Pejalan, nanti pasti ramai dan bernuansa baru, penuh canda dan keakraban. Nanti selain ada gate 1, gate 2 juga ada gate spam. wakakakkkk…….

  4. Kulonuwuuun…..,
    Kepada para pinisepuh, para winasis waskita, dan khususnya yang punya Warung Kang Wage R, Kang Cahyo DC, Kang Bala(ne)dewa, para sedulur @ …
    Salam sejahtra & salam mbelgedez …….

    @Kang Wager …., m nuwun atas dimuatnya tulisan saya, namun….. nuwun sewu…., ada usulan untuk diberi gambar/photo yg inspiratif & step a head… misalnya; gambar/photo peta luas wilayah kekuasaan majapahit plus gambar/photo pintu gerbang trowulan/majapahit…., atau gambar/photo lainnya yang menurut akang pas & enak di lihat…..

    Salam mbelgedez…..
    Rahayu

  5. Salam kagem semua sesepuh
    @mbah wager, kang bala(ne)dewa, kang pejalan, kang mentiksebutirilmu dan lainnya
    Wakakaka…asli ngakak ngebayangin bandara Wage Raharjo, didepan babdara ada patung lelaki tua dengan jenggot uban agak bongkok, tangan kanan pegang tongkat, tangan kiri pegang kitab bertuliskan kitab Abal-abal.
    wakakakak…pasti ramai buat selfi termasuk kang jarisakti.

    @kang pejalan tulisan yang bagus dan mencerahkan.
    Sejarah memang sangat penting tetapi benar kata kang Bala(ne) sejarah banyak yang dibelokkan.
    adakah original? (Geleng2)
    yang KW …banyaaaaak
    Tembang rawat-rawat ujare mbok bakul sinambi woro.

    Salam mbelgedez

    1. Asem Kang CAHYO. beraninya ngeledek mbah. Tak hukum nanti makan singkong rebus sekilo tanpa boleh minum air. Hitung sampai 15 harus habis. Biar tahu rasa.

    2. Kulonuwuuun…..,
      Kepada para pinisepuh, para winasis waskita, dan khususnya yang punya Warung Kang Wage R, Kang Cahyo DC, Kang Bala(ne)dewa, para sedulur @ …
      Salam sejahtra & salam mbelgedez …….

      @Kang Cahyo DC.., Tks atas apresiasinya.., btw…. klo saya ada dana terpikirkan untuk menerbitkan BUKU MATI KETAWA ALA BLOG ABAL-ABAL (PADEPOKAN MBELGEDEZ), krn ternyata warga blog ini memiliki sense of humor yg aduhai……

      @Kang Wager …., m nuwun atas gbr/covernya yg inspiratif ‘n membanggakan…., pun cover backgound blog abal-abal (padepokan mbelgedez) kereeen abiiis…. & membanggakan…..

      Sukses slalu, rahayu…..


  6. Sejarah adalah segala hal / peristiwa yang terjadi di masa lampau dimulai dari manusia telah mengenal tulisan. Sejarah dan pengalaman memiliki kemiripan walau banyak pertentangan di dalamnya ibarat sejarah adalah makro sedang pengalaman mikro. Namun benang merah yang coba ditarik adalah kejadian pada masa lalu dan telah terjadi, mungkin itu kemiripan antara sejarah dan pengalaman. Lalu apa gunanya? Inilah yang terkadang dilupakan, sejarah atau pengalaman hanya dianggap suatu peristiwa di masa lampau….padahal inti dari itu adalah pembelajaran di akan datang, agar segala sesuatu hal yang tidak baik di masa lalu dapat diperbaiki masa lalu dan segala hal yang baik di masa lalu bisa diterapkan pada masa ini atau masa depan. Sejarah dan pengalaman adalah guru yang telah teruji, walau situasi dan kondisi dulu dan sekarang berbeda namun substansinya samalah.

    Bila berbicara tentang NKRI di sana ada Indonesia, UUD45, Pancasila, Nasionalis, Bhineka Tunggal Ika, gotong royong, mufakat, dll. Unsur unsur inilah yang menjadikan Indonesia hebat bila dapat diimplementasikan secara real bukan wacana belaka.

    Keadaan sosial semakin lama semakin memprihatikan, apakah karena tingkat kemerosotan yang semakin meningkat atau karena informasi dan media yang begitu cepat dan terbuka. Namun dari survey yang beredar memang tingkat kejahatan, kekerasan dari waktu ke waktu terus meningkat, kepedulian, tenggang rasa atau toleransi pun terus merosot terjun bebas. Lalu siapa yang harus disalahkan? Presidenkah? Para pejabat? para alim ulama? para pendeta atau pastur, atau para bhiksu atau banthe, mungkin panditta, atau orang tua kita…atau mungkin ini jangan jangan salah Si Pemilik Jagad???? “uuuuupppsss”

    Secara normatif semua manusia memiliki tanggung jawab atas segala persoalan yang terjadi di sekitarnya. Namun dalam praktiknya hal ini tidaklah mudah karena pembiaran dan ketidakperdulian terhadap lingkungan sekitar. Memulai segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri, apakah hal ini bermanfaat bagi orang lain? tidak tahu, tetapi minimal menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri.
    Segala hal itu dimulai dari hal kecil, pikiran dan hati yang pertama dikendalikan, lalu ucapan dan kata kata “bukan apa yang masuk dalam mulut anda yang menjadi haram tetapi yang berasal dari hati dan keluar dari mulut itulah yang haram”, bertindak dimana anda berdiri “bila anak berlakulah seperti anak, bila jadi orang tua berlakulah seperti orang tua, bila menjadi teman berlakulah seperti seharusnya, dll” mulailah hargai semua mahluk dimulai dari diri sendiri dan keluarga, no bully, no rasist, sebarkan nilai kasih kepada sekitar, dan yang termurah dan kadang tersulit…biasakan berdoa dalam setiap aksi, selalu andalkan Allah dalam setiap perkara.
    Apakah hal hal diatas akan menjadi NKRI sesuai sumpah patih Gajah Mada? Entahlah tapi buatlah perkara bukan untuk manusia, tetapi buatlah setiap perkara hanya kepada Allah.

    “Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu pamrih.Tapi bagaimana pun berbaik hatilah.
    Bila engkau jujur, mungkin saja orang lain akan menipumu. Tapi bagaimana pun, berbuatlah jujur.
    Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja sudah dilupakan orang. Tapi bagaimana pun berbuat baiklah.
    Bagaimana pun berikan yang terbaik dari dirimu.
    Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan engkau dan Tuhanmu.
    Ini bukan urusan engkau dengan mereka.” Bunda Theressa

    NKRI harga mati, toleransi dan persatuanlah jalannya, salam damai bagi semua….MERDEKA!!! Gbu all

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s