Tarian Geisha

Credit image : John Spacey
Credit image : John Spacey. Japan talk.com

DONGBUD – Wage Rahardjo. Di penghujung bulan April, salah seorang anak gadis sahabat saya mengirimkan hadiah spesial, selembar tiket pertunjukan tarian Geisha di kota Kyoto. “Mbah, harus datang ya. Pertunjukkan langka jadi rugi besar kalau tidak datang !” kata si anak yang sebut saja namanya Keiko. Sebetulnya sih saya rada malas, rada takut melihat wanita berwajah putih karena tertutup bedak tebal. Namun mau apa lagi, berhubung tiket sudah terlanjur dibelikan dan juga berharga lumayan mahal, maka saya terpaksa memenuhi permintaannya.

Sedikit catatan, nama yang benar untuk pertunjukkan tersebut adalah Miyako Odori, sedangkan “Tarian Geisha” adalah istilah abal-abal saya karena sepertinya lebih mudah dipahami. Geisha adalah istilah umum yang populer di negeri barat, sedangkan di masyarakat Jepang sendiri, kata ini nyaris tidak digunakan. Kata yang umun dipakai untuk para gadis yang wajahnya dicaat putih ini adalah Maiko. Nah, para gadis-gadis  yang hidup di komunitas tradisional inilah yang nantinya akan mempertunjukan kemahirannya menari dan memainkan alat musik pada pertunjukan khusus yang digelar setahun sekali setiap bulan April di kota Kyoto.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan dengan kereta api selama hampir satu jam, sayapun sampai ke lokasi pertunjukkan. Gedung besar bertingkat 2 berkonstruksi kayu yang sangat tradisional. Sambil menunggu pertunjukkan mulai, di bagian ruang tunggu kami disuguhi teh hijau dan sepotong kue tradisional. Di bagian depan tampak panggung kecil dan beberapa Maiko alias Geisha, dengan wajah dicat putih tampak memperagakan pertunjukkan menyeduh, menuangkan dan menghidangkan teh. Asem, menghidangkan teh saja ada pertunjukkannya.

Selesai menikmati hidangan teh, para penonton berbaris rapi menuju lorong-lorong kecil naik tangga kayu ke arah tempat pertunjukkan. Tempat duduk saya ternyata terletak pada urutan paling depan, tepat di depan panggung yang masih tertutup oleh tirai besar. Weleh, kursi kelas VIP nih, pikir saya dalam hati.

Sambil menunggu pertunjukkan dimulai, pandangan saya arahkan ke seluruh ruangan. Hmm….. ruang pertunjukan yang lumayan besar dengan kapasitas sekitar 920 tempat duduk. Kontruksinya sepenuhnya dari kayu, terlihat cukup tua namun terlihat terawat bagus. Di beberapa tampak alat pemadam kebakaran dan petunjuk arah pintu keluar darurat. Nah, bagian prioritas penting yang harus saya fokuskan. Maklum udah tua jadi harus lebih awas.

Sayapun mulai mempersiapkan kamera untuk mengabadikan pertujukkan yang akan segera dimulai. Namun beberapa saat kemudian, beberapa gadis tampak membawa papan pengumuman dan mengacungkannya tinggi-tinggi sehingga tulisannya bisa terlihat dengan jelas : “Selama pertunjukkan dilarang ambil foto atau video ! “. Asem koplak.

Tiba tiba tirai mulai disingkap dan tampak panggung yang sangat luas dan terang. Kemudian dari arah samping kanan dan kiri-pun tirai disingkap dan tampak puluhan wanita duduk berjajar rapi mulai memainkan alat musik seruling dan kecapi. Sejurus kemudian dari panggung arah samping mulai muncul para gadis dengan majah bercat putih berjalan berjajar sambil menari. Itulah para tarian Maiko alias Geisha asli bukan abal-abal. Para penari datang dari panggung kanan dan kiri, sehingga para penonton tampak sibuk menoleh ke kiri dan kenan. Duh, seumur hidup saya belum pernah menonton pertunjukkan sesibuk ini.

Perlahan namun pasti, para gadis Maiko sebelah kanan dan kiri sampai di panggung utama, bergabung menjadi satu sehingga tampak seperti tarian kolosal. Pakain dan wajah mereka tampak sama sehingga sayapun kebingungan harus pelototi penari yang mana? Kondisinya mungkin mirip seperti menonton pentas JKT48, yaitu para gadis lenggak lenggok dalam jumlah berjibum di atas panggung membuat mata penonton jelalatan kebingungan mencari titik fokus.

miyako234
Credit image : miyako-odori.jp

Kembali ke topik, tarian demi tarian muncul silih berganti. Group penari pertama selesai, menghilang di balik panggung, gambar latar digeser berganti lukisan lain dan penari kedua muncul. Demikian silih berganti. Kadang penari menghilang ataupun muncul lewat lantai panggung yang tiba tiba bolong kemudian menutup kembali. Jadi di bawah panggung ternyata ada lorong atau ruangan dan dari sanalah para penari dinaikan atau diturunkan dengan peralatan elevator tradisional dari kayu berteknologi ratusan tahun lalu. Wow !

Takjub, terkesima, acung jempol dengan keseriusan pelesatarian Jepang dan pikiran sayapun ngelantur kesana kemari, membandingkan dengan pelestarian budaya di negeri sendiri yang setengah hati, bagai krakap hidup di batu, mati segan hidup ndak mau.

Jujur saja, siMbah yang besar di Bali dan akrab dengan pertunjukan tari-tarian daerah di Nusantara merasa tarian Maiko tersebut kurang greget. Tarian dilakukan nyaris dilakukan tanpa melibatkan ekpresi wajah. Jadi sepintas, menurut opini saya, rada mirip tarian anak-anak. Untuk tarian Jepang yang energik dan lebih bertenaga tentu saja ada, namanya pertunjukkan Kabuki. Tapi ya itu, pemainya semuanya adalah pria termasuk tokoh wanita juga dimainkan oleh pria. Weleh, dari awal saya sudah lemas ndak berselera. (Asem !)

Tanpa terasa, lamunan sayapun buyar karena pertunjukan sudah selesai. Asem, jauh jauh datang cuma untuk ngelamun doang.

Demikianlah dongengan akhir pekan tentang pengalaman pertama menonton tarian geisha atau “Miyako Odori”.

Wage Rahadjo Referensi :

17 thoughts on “Tarian Geisha

  1. @Salam mbelgedez lover’s
    Salut buat simbah asyik juga ya mbah bisa menyaksikan kebudayaan jepang di tempat asalnya.

    Rahayu…. Rahayu… rahayu

    1. Salam Seni Lukis,

      Biaya 15 juta, dgn perincian 8 juta utk ongkos pesawat dan sisanya biaya hidup utk seminggu.

  2. ‘….dan tampak puluhan wanita duduk berjajar mulai memainkan alat musik tiup dan kecapi ‘ (Wager)
    ——————————————————————————-
    Alat tiup Jepang yang saya kagumi adalah …SAKUHACHI ! Setahu saya ini adalah suling bambu yang biasa dimainkan oleh para pendeta Zen. Saya punya satu CD sakuhachi yang sering saya dengarkan di mobil.Seperti ini -lihat video di bawah. Konon, musik seperti ini bisa untuk …meditasi.

    1. Dari dulu saya sangat kagum dgn alat musik tiup khususnya utk suling tradisional berbahan bambu. Menarik karena dari sepotong bambu bisa menghasilkan musik yang luar biasa.

      Setiap daerah atau negara memiliki alat musik tiup. Sesuai topik, utk di jepang, alat musik tiup ini adalah bagian dari tradisi yang wajib ada dan dimainkan beramai ramai dalam pawai budaya atau keagamaan.

      Di negeri kita, perayaan ritual agama tidak menggunakan alat musik tradisional. Perkecualian mungkin utk bali. Seperangkat gambelan adalah wajib dimainkan saat festival di tempat ibadah.

      salam kang.

  3. Menarik karena dari sepotong bambu bisa menghasilkan musik yang luar biasa.(Wager)
    —————————————————————————–
    Sakuhachi,dan suling bambu pada umumnya : Alat musik yang sederha-hahaha-na tapi bisa menghasilkan suara , bunyi yang mendayu-dayu ! …Sederhana, tapi tidak banyak yang bisa memainkannya dengan bagus …

    Saya jadi ingat percakapan si Hamlet karangan Pakde Shakespeare. Ada orang yang diminta oleh Hamlet untuk memainkan suling, alat musik yang sederhana.Orang itu tidak bisa. Karena memang tidak bisa. Oleh Hamlet dia diejek, lha main alat musik sederhana saja tidak bisa, tapi kau merasa bisa …memainkan aku, manusia, yang tidak …sederhana. Jangan membodohi aku, kata Oom Hamlet.

    Banyak kan di luar sana, orang yang memainkan seruling saja tidak bisa, tapi suka …menggurui ? …

    1. Waduh, KETAMPAR !!!%&
      Saya ndak bisa main ……….. suling.
      Wakakakkkkk………

      *udah skak mat, masih ketawa

    1. Maklum Kang,
      Tiap dekat-dekat datang bulan saya selalu berubah jadi perasa dan mudah tersinggung.
      Wakakakakkk………….

  4. good skak mat about uncle Hemlet 😀

    Geisha…

    sekilas berkonotasi seperti ‘wanita penghibur’.. namun cukup terdistorsi dengan ulah segelintir orang yang akhirnya merusak citra profesionalisme mereka, ibarat setitik nila rusak susu sebelangga…

    anyway, iya memang menyeramkan dempul bedak mereka ya mbah, putih pucat pasih jadi angker. tapi kalau boneka jadi lucu dan menarik penampilannya.

    tarian kolosal dengan beberapa gadis sekaligus dengan wajah nyaris sama semuanya??… ini mengingatkan saya dengan tarian Jawa ‘bedoyo ketawang’… konon tarian yang asli terkesan magis, di mainkan 7-9 gadis, anehnya semua wajah gadis tsb bisa sama!!…

    kalau ada yang jual tiket tari bedoyo ketawang saya mau lihat, sayangnya yang ada sekarang hanya bedoyo ketawang abal2, hanya sekedar hiburan dan tontonan saja, kesan sakral dan magisnya udah langka dan punah, mungkin hanya keraton saja yang masih melestarikannya, itupun tak sembarang orang boleh menontonnya. hmmm 🙂 …

    1. Muka dicat putih emang kayak boneka, munggil dan lucu. Ingin rasanya memeluknya, cuma kagak berani. Bisa si mbah setahun digantung di pohon salak oleh si nyai. Xi..xi…

  5. @Salam mbelgedez lover’s. Baru hari ini stumble di blog ini dah suka. Awalnya nyari sarasamucaya soft copy, malah ketawa sendiri baca ini blog geisha. Suka. viva asem…. hehehehe….

    1. Eh ? Yusup ?
      Wakakakkkk. Hampir tak kirain homo suka nonton yusup

      Zatoichi, duh, itu juga film kesukaan simbah. Nontonya nebeng di rumah teman yang punya home theater. Modalnya cuma nyengir dan tebelin muka doang.

    2. mungkin hanya keraton saja yang masih melestarikannya, itupun tak sembarang orang boleh menontonnya. hmmm 🙂 … (Dewi)
      ————————————————————————————
      Zatoichi : saya dulu nontonnya waktu masih …imut2, zaman dulu kala ! Duluuuu, keluarga kami juga pengagum …si Buta Dari Gua Gampar, eh dari Jepun ini …(-:

      Jeng Dewi Murrni berkembenkan sutra ungu (-:,

      Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca artikel mengenai tari dan Kraton Yogya. Saya lupa nama tarinya, mungkin tari Bedoyo Katawang itu. Yang jelas penarinya dari kalangan Kraton. Nah, jumlah penarinya sekitar sembilan – persis.nya saya lupa TAPI, sesaat kemudian …ketambahan SATU lagi penari …misterius ! Dan, bukan dari Kraton ! …Nampaknya Sultan Hb X ndak kaget, tapi oleh beliau di …acuhkan saja …Artikel itu menghubungkan satu penari misterius itu dari …laut Selatan …Lha kan, konon, selalu ada hubungan antara Kraton dan Laut Selatan / Kidul .

      Ngomong2, tarian yang bisa saya …tarikan cuma tari …kecak ….Duduk sambil cak cak cak cak dan tangan melambai-lambai ….[ Ndak tahu apa orang Bali waktu menarikan ini memanggil teman2 mereka yang dari …Jatim, Cak Nun, Cak JS, Cak ABR, Cak Pejalan,dll …(-:

      slumanslumunslametslumanslumunslamet …

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s