Dana Aspirasi, Seni Menggarong Uang Rakyat

Penulis : Wage Rahadjo

credit image: infokurupsi.com
credit image: infokurupsi.com

Negeri Pandawa, negeri yang sangat tersohor seantero dunia dengan beragam seni budayanya, dari candi, batik, pakaian adat, keris, seni gambelan sampai kuliner. Namun itu dulu. Negeri Pendawa dengan 5 sila Pancasila dan 5 agama resminya saat ini, semua seni adi luhung tersebut sudah nyaris punah. Masyarakat apalagi para pejabatnya, sama sekali tidak berminat melestarikannya. Saat ini mereka lebih asik mengembangkan seni baru yaitu seni menggarong uang rakyat. Dana aspirasi, ya itu hanyalah salah satu contoh kecil dari seni garong-garongan yang akan saya bahas kali ini.

Seperti berita yang baru-baru ini marak di media massa, “Badan Anggaran DPR RI meminta dana aspirasi daerah pemilihan dinaikkan hingga Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar per anggota. Jika dikalikan 560 anggota DPR yang ada, estimasi total dana aspirasi mencapai Rp 11,2 triliun. Sumber Kompas.com,  9 Juni 2015] 

Hah?! 20 Milyar per anggota?

Tak ayal, medengar jumlah uang sebanyak itu, membuat saya menjadi terkaget kaget. Maklum, seumur-umur, uang paling banyak yang pernah saya pegang hanya 50 juta, itupun cuma pegang daong. Tentu saja bagi para anggota dewan yang bertugas salah satunya sebagai “pengatur anggaran”, jumlah uang puluhan milyar tentu saja sangat keciiiiiiiiil, seperti pendapat yang dikemukakan oleh salah seorang pajabat sbb

“Ketua sementara Komisi Pemberantasan Korupsi Taufiequrachman Ruki menilai, rencana alokasi dana aspirasi daerah pemilihan sebesar Rp 11,2 triliun per tahun masih sangat kecil bagi anggota DPR untuk mewujudkan pembangunan di daerahnya. Ruki menjelaskan, dengan anggaran Rp 11,2 triliun per tahun, setiap anggota Dewan hanya akan mendapat Rp 20 miliar. Dana itu, kata Ruki, harus dibagi-bagikan di dapil anggota Dewan tersebut yang terdiri dari sejumlah kabupaten dan kota.

“Kalau Rp 20 miliar per tahun berarti Rp 1,2 miliar per bulan, dan kalau dibagi 10 kabupaten, artinya Rp 120 juta. Berapa proyek, perbaiki mushala, sanitasi, atap sekolah yang di dapil. Ini anggarannya sangat kecil,” kata Ruki usai diundang sebagai pembicara mengenai dana aspirasi oleh Fraksi Golkar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2015).

Penjelasan yang sangat menarik. “Jadi uangnya bukan masuk kantong lho tapi untuk dibagi ke masing-masing kabupaten, untuk bangun mushola, perbaikan sekolah dll”. Namun apa tidak tumpang tindih dengan anggaran dana departem agama, pendidikan dll? Kenapa tidak sekalian disebutkan dibagi per desa saja sehingga angkanya menjadi jauh lebih kecil? Dan masih banyak lagi pertanyaan di kepala saya. Semua keanehan itu membuat saya hanya bisa urut dada sambil berguman sendirian “Emang dasar kadal”

Sedikit info tentang dana aspirasi tahun-tahun sebelumnya : “Selama ini, setiap anggota DPR memperoleh dana penyerapan aspirasi, yang besarnya Rp31,5 juta per tiga bulan, atau Rp.10,5 juta per bulan. Sumber BBC Indonesia“.

Tentu saja uang 10 juta dianggap tidak berarti, wong  20 milyar-pun masih dianggap kurang. Duh, jadi berapakan jumlah ideal menurut versi mereka? Saya yakin, seluruh asset negara plus hutang luar negeri kasih seluruhnyapun sepertinya tetap saja tidak akan cukup, karena niatnya memang untuk menggarong. Sengaja dibuat tidak jelas dan tumpang tindih sehingga pertanggungjawaban menjadi kabur. Apalagi dengan status sebagai anggota dewan, prosedur pemerikasan atau penahanan menjadi jjauh lebih rumit dibanding warga biasa. Plus korupsi berjemaah, lengkap deh status dal-kadal-nya.

Awal kebangkrutan suatu negara

Ada sejumlah orang atau kelompok yang berpendapat dengan sangat yakin bahwa awal kehancuran suatu negara adalah miras, rok mini, maksiat dan sejenisnya. Ya, pendapat yang mungkin tidak salah. Namun di tulisan ini, tidak bermaksud membahas tentang rok mini tapi tentang seni sederhana mengelola uang.

Awal kebangkrutan suatu negara menurut saya bukan karena tidak ada pemasukan tapi karena terlalu banyak pengeluaran. Jadi stop pengeluaran yang tidak perlu dan tidak jalas. Untuk ukuran negara, uang 20 milyar mungkin tergolong kecil. Namun masalahnya  bukanlah jumlah tapi asas manfaatnya. Apakah manfaat dari dana aspirasi tersebut? Aspirasi apaan? Jujur, otak tua saya tidak bisa memahaminya, walaupun beritanya sudah saya baca berulang kali.

Semua ini tidak lebih dari akal-akalan saja dalam menggarong uang rakyat. Kita bukanlah negara kaya raya tapi negara miskin yang hidupnya masih ditopang dengan hutang dan tercekik oleh jerat IMF. Jadi kenapa tidak fokus ke arah arah kebijakan pelunasan hutang, penghematan ataupun pemberatasan korupsi?

Berhemat adalah cara paling mudah, natural atau cara BODOH yang akan dilakukan oleh orang normal disaat terjerat hutang. Kehidupan personal ataupun negara adalah sama saja.  Kalau hal ini diabaikan, maka sampai kiamatpun negeri ini tidak akan mungkin menjadi kaya. cepat atau lambat, kasus seperti Yunani akan terjadi di negeri ini.

Namun apakah para pejabat atau anggota dewan itu peduli dan mau berpikir sampai ke arah itu? Hmmm….. entahlah. Lagian siapa yang peduli? Hal yang sepertinya jauh lebih penting bagi mereka adalah bagaimana caranya memanfaatkan sisa jabatan selama 5 tahun? Dengan sisa jabatan yang sedemikian singkat, bagaimana caranya menggarong uang rakyat sebanyak mungkin?

Apakah saya merasa diri saya lebih hebat, lebih benar atau lebih mampu? Jawabannya adalah tidak. Kalau seandainya saya menjadi pejabat atau anggota dewan, saya hampir yakin bahwa diri sayapun akan berubah menjadi seekor kadal. Lha, buktinya, para ulama, kyai, cerdik pandai ataupun para akademisi, berserakan memagang jabatan tapi saja akhirnya jadi kadal, apalagi saya.

=Jadi apa dong solusi atau salah satu kebijakan yang posotif menurut Mbah?

Dibanding membuat kebijakan yang notabene keluar duit, menurut siMbah salah satu kebijakan yang lebih penting yang hendaknya dibuat SALAH SATUNYA adalah membuat kebijakan PAJAK WARISAN. Jadi setiap orang yang mendapat warisan dari seseorang, keluarga atau orang tua harus membayar pajak yang sangat besar, minimal 50% dari nilai barang/uang. Jadi uang korupsi yang tidak akan habis 7 turunan tidak akan berlaku lagi.  Orang kaya tidak akan menjadi semakin kaya dan anak cucu hidup dari bunga bank. Kekayaan para pejabatpun otomatis akan terpangkas setengahnya.

Pajak Warisan seperti ini umum diterapkan di negara maju. Selengkapnya akan saya bahas di topik tersendiri. Jadi di tulisan ini setidaknya saya berusaha tidak hanya menyalahkan tapi juga memberikan solusi atau contoh kebijakan yang positif menurut saya.

Itulah sekilas tulisan tidak bermutu dan kasar di akhir pekan awal bulan July 2015. Maaf, kalau telah membuat seseorang tersinggung. Sesama kadal seharusnya tidak saling singgung. Hidup kadal !

Wage Rahadjo

7 April 2015

Referensi :

Advertisements

5 thoughts on “Dana Aspirasi, Seni Menggarong Uang Rakyat

  1. Selamat Malam Simbah Wager (Ketua Padepokan Mbelgedez merangkap TSK, Komisi Semprit /Off side ( Admin), Penulis, dll.);
    Selamat Malam kepada Para Pinisepuh, Para Winasis Waskita, Dewan Pembina, Dewan Penasihat, Komisi Semprit /Off side (Admin), Para Penulis, Para Pemandu Sorak, Para Sponsor, Para Warga Padepokan Mbelgedez, Para Alumni dan Para Sedulur Semua @ …

    Salam sejahtra ……

    @Simbah Wager……, Judul yg BOMBASTIS…., KEREN….. (saya Pemilihan Caleg DPR, Suara-nya Tdk Sah, krn di colok semua), jadi agak sedikit nothing to lose, walaupun begitu….. saya mengharapkan DANA tsb efektif & efisien, tepat sasaran ke END USER, TERUTAMA bisa DIPERTANGGUNG JAWABKAN, baik secara HORIZONTAL, pun secara VERTIKAL, jangan sampai….. kelak di AKHIRAT, RUH yang MENANGGUNG, akibat perbuatan RAGA.

    Sukses slalu, rahayu…..
    Jayadanjayalahpadepokanmbelgedez…..

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s