Gila Mudik

Cerita pendek karya Kang Nurkahuripan

Mungkin orang gila tak akan bilang, bahwa dirinya gila. Hanya orang waras yang bisa berkata, bahwa dirinya sudah gila. Itulah yang aku alami beberapa hari yang lalu. Dimana para pemudik lebih memilih kenyamanan dalam perjalanan mudik.

“Aku tidak demikian.”

Aku memilih menjejakkan tumitku pada bumi sepanjang jalan dari Bekasi sampai ke Cirebon.
“Ada yang salah?”

Tidak.. Aku memang inginkan ini. Inginkan terik kering siang hari, juga angin basah malam hari. Yang pasti aku menikmati setiap langkahku tanpa berpikir, “Kapan harus sampai..”

Saat lapar, aku bisa masuk rumah makan apa saja yang aku mau. Bahkan restoran sekaliber Piringsewu dengan senang hati, akan mengantar makanan bila aku pesan dari manapun. Yah, aku kenal dengan pemiliknya. Dia masih relasi bisnis denganku.

“Saat ngantuk?”
Gampang.
Aku memang hanya membawa dompet dan sebuah tas berisi perlengkapan badan.
“Tapi aku bawa uang… Aku bawa uang…”

Aku bisa dengan mudah menyewa rumah warga yang ingin ku tinggali. Yah, uangku sudah habis sebanyak 16 juta untuk 8 rumah sederhana yang aku singgahi sekedar bermalam.

Sepanjang perjalanan, tak henti aku takjub pada budaya mudik di negeri ini. Bahu membahu dengan sepeda motornya di atas jalan yang baru di tambal 2 bulan lalu oleh Pemda setempat.

Yang sendirian srantal-sruntul bak pembalap moto GP. Yang berboncengan dengan seorang wanita jumbo, jalan bak keong racun di pinggir sawah. Ada lagi yang mengikut-sertakan 2 orang anaknya dengan satu motor bebek buatan jepang. Ditumpangi oleh satu keluarga yang entah mau mudik kemana. Ckckck.. benar-benar sebuah perjuangan mulia.

Lancar, macet, terang, gelap, dingin, panas, sudah kurasakan semua. Hingga hampir sampai aku ke kampung halaman, pada hari ke sembilan. Tepatnya di daerah celeng, indramokay. Aku melihat motor vespa yang ada gubugnya berhenti di sisi jalan. Di sana ada 4 pemuda. Aku pun bertanya padanya. Ternyata mereka menginap di atas gubug motornya, karena mogok semalam. “Busyet!”

Tapi biasa.. Aku menganggap itu hal yang biasa. Sampai pada pukul 10 pagi menjelang siang. Suara motor 2 tak, terdengar sangat bising dari arah belakang.

Dan saat aku menengok, “Yaa Tuhan Jagad Nyata..” Vespa tersebut di kemudikan sambil berdiri, oleh seorang pemuda kurus gondrong sebahu. Tangannya memegang setang motor yang sangat panjang ke atas, sampai tangannya juga ikut berdiri.

Dan kamu tahu tidak, apa yang membuatku terpingkal?
Dengan pede-nya, dia hanya memakai singlet. “Bulu ketiaknya suwir-suwir tertiup angin.”

Yah.. Ternyata ada orang yang lebih gila dariku.. Aku menyerah dan kalah padanya.

Nur Kahuripan

12 July 2015 at 5:02 pm

Dipindahkan dari komentar di halaman Tata Tertib,

20 thoughts on “Gila Mudik

  1. salam simbah dan semua sedulur padepokan dongbud@ ini ada sedikit cerita khayal abal-abal saat saya sedang ngopi, saat dlm perjalanan mudik kmrn… Fiksi mini abal-abal ini menceritakan tentang seorang yang sangat kaya-raya, namun memilih mudik dengan berjalan kaki…

    terima-kasih kpd simbah wager yg sdh berkenan mempostingkan cerita abal-abal ini.. semoga semua sedulur merasa terhibur…

    rahayu…

  2. Salam Kang Nur,
    Sama2 Kang. Cerita yang menarik. Saya sangat suka cerita dengan tema2 sosial, tentang kehidupan sehari2 yang sepertinya tidak akan pernah habis untuk diceritakan.

  3. hahaha@ sepertinya, sang aku(yg pny sudut pandang/tokoh utama), lebih cocok simbah, hehehe..
    saya jadi menghayal mbah, bagaimana respon simbah klo lihat pengendara vespa kayak gitu.. wkekeekekekekekk..

    1. Kang Noer,
      Simbah dulu, waktu muda, kendaraannya juga vespa. Cukup lihai juga dan belum pemah sekalipun jatuh saat mengendarai.

      Dulu mbah juga pernah melakukan hal gila saat beli semen dua zak dan ditaruh di bagian depa. Karena tempat pijakan kaki sudah dihalangi sama semen, berarti vespa harus dikendarai dengan posisi nyaris jongkok di sadel. Tem kaki diganjel pakai balok kayu agar tidak ditekan oleh semen.

      Mungkin ini juga termasuk gila, tapi untungnya jarak dekat cuma 2 kilo, tapi keringatan juga. Jalannya juga pelan nyaris merayap. Kalau ngebut sambil jongkok di sadel, apalagi berdiri, tidak berani.

  4. salam simbah@ Hahaha.. ternyata simbah pernah numplak vespa juga… itu dulu pasti simbah lagi di suruh beli semen sama simbahnya simbah yah..

    suwun mbah.. itu pengendara norton kayaknya lebih gila lagi yah.. hha…
    gas motornya di setel begitu..
    bagaimana kalau tokoh aku melihat vespa gubug bersamaan dgn pengendara gila itu.. hha.. jadi gila semua…

    1. weleh, mentang2 ini blog sesat sampai mudik aja di beri label ‘gila’ 😛

      @ kang Nurkahuripan and All serta Simbah,

      happy mudik for all of you… bagi yang mudik :D…

    2. Salam utk Dewi,
      Blog sesat tapi jujur jadi peringatan dini dan terus menerus itu perlu, terlebih untuk pengunjung pemula. Banyak juga pengunjung pemula yang lari terbirit2 membaca kata sesat dan gila. Ndak apa. Biarlah komuntitas ini tetap kecil asal heppi.

    3. salam simbah@ benar mbah.. Sipp.. sedikit tapi solid lebih baik daripada banyak tapi ego2an..
      kalau ada satu malam yg baik, saya akan berdoa mbah.. biar blog ini jadi besar dan banyak pengunjung.. hhe..

    1. sampun mas Nur, saya sudah nginbox, hatur tengkyu.

      lagi pindahan, nomaden lagi, lagi sibuk cari shelter/ tempat berteduh, jadi belum sempat baca novelnya, tapi saya selalu memantau perkembangan komentar di blog, so don`t worry 🙂

      @ Simbah,

      kalau warga aji-no-moto kalau mudik biasanya kemana ya mbah?

    2. ha ha ha… si Doraemon mudik naik baling-baling bambu… asyiiiikkk….

      PS:

      pingin kasih gambar emoticon… emoticonnya juga pada mudik??….

  5. @Salam Dongbud Lover’s
    @Salam Sedulur semua
    @Simbah Wager
    @kang Nurkahuripan
    @Jeng Dewi

    Ini judulnya Gila Mudik apa Mudiknya orang “Gila” he…he…he
    Bagus sekali kang ceritanya, emang ditempuh berapa hari? Habis 16 juta hah itu sih bisa dapat Matic Jepang.
    He…he…he

    Salut buat panjenengan, yah memang itulah potret kehidupan rakyat kecil saya sendiri hidup di pinggiran, sering menyaksikan problem sosial kaum pinggiran yang bila dicermati akan berujung pada kata “GILA”

    Salam Rahayu

    1. salam kang Cahyo@ judul aslinya “Gila mudik bersama pemudik gila” kang.. hha.. itu ceritanya simbah pulkam ke negeri pandawa, kang.. sudah jadi jutawan, ingin mudik jalan kaki.. Dan melihat semua fenomena gila mudik+pemudik gila… 16juta beliau bagikan untuk menginap di 8 rumah kumuh guna membantu orang.. satu rumah di sewa 2juta/malam.. wkekeekek..

      Piss Yaa Mbahhh..
      rahayu..

  6. MUDIK GAYA JEPANG

    Mudik bukan cuma ada di budaya Islam Nusantara, tapi juga ada di budaya Jepang, namanya Obon, digelar sekitar bulan Agustus.

    Walaupun jalanan dan transportasi di jepang sangat rapi dan super maju, namun menghadapi arus mudik yang membludak, tak ayal jebol. Maklum, semua orang pulangnya pakai atau sewa mobil. Maklum, namanya mudik pasti pulang ke desa dan transportasi utama orang desa ya mobil. Sepeda motor jarang ditemukan.

    Kemacetan biasanya terjadi di jalan2 tol, sedangkan jalan biasa, relatif normal.

    Kalau mudik gaya Bali, nah itu lain lagi. Digelar setiap hari raya Galungan dan berlangsung 2 kali setahun.

    simbah tidak punya kampung halaman, jadi kagak kenal istilah mudik2an. Mudik ya paling artinya balik dari ruang tamu ke kamar sendiri.

    1. @Salam Simbah Wager
      Wah di Jepang juga ada ya tradisi mudik, tapi tentunya tetep “GILA” di Negri Kita.
      Angka kecelakaann biasanya meningkat saat musim mudik tiba hebat kan?

    2. Salam simbah@ Dia yg bilang gak punya kampung, adalah dia yg jg bilang “bahwa kampungnya adalah setiap tempat yg pernah disinggahi olehnya..” itulah pemudik tersebut Mbah.. wahahahaha… cirebon, jateng, jatim, bali, wahh semua adalah kampungnya.. hihihi…
      ngomong2 ceritakan kelanjutan mudiknya dong mbah.. haha.. Piss & love mbah…

      kang cahyo@ waduh benar2 gila kang negeri pandawa ini… saya tiap tahun mudik jumlah kian meningkat.. motor kayak air bah, warung pinggir jln kayak jamur musim hujan..
      hahaha..

  7. @Salam Dongbud Lover’s
    @kang Nurkahuripan
    Wakakakak 2 jt /malam
    Fasilitas SPA + Pijat

    @Simbah Wager
    Saya punya teman kalau ditanya kanpung halaman / tempat dilahirkan ia cuma menggeleng, ternyata kampungnya hilang jadi Waduk Kedung Ombo.
    Emang kampung halaman Simbah
    Kemana?
    wakakakak

    Salam Rahayu

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s