Apa Sih Susahnya Bertoleransi ?

mesjid-dibakar
Terbakarnya mushola di Papua. Sumber image: Merdeka.com

DONGBUD – Wager. Apa sih susahnya sedikit bertenggang rasa dan menghormati perbedaan? Tidak diperlukan pendidikan tinggi, membaca buku tebal ataupun harus mendengar khotbah berjam-jam untuk memahaminya. Yang diperlukan hanyalah menyediakan sedikit  ruang dalam hati menerima perbedaan, sedikit kesadaran bahwa kita hidup di masyarakat yang majemuk.

Namun kenyataannya, bertoleransi tetap saja susah. Mudah untuk diucapkan, namun susah setengah mati untuk dilaksanakan. Kepala bisa memahami, tapi hati menolaknya. Itulah yang SAYA alami selama ini. Entahlah bagi pembaca lainnya…..

Toleransi artinya kurang lebih lebih bertengang rasa terhadap batas penyimpangan tertentu. Dalam hal kebidupan beragama, toleransi (beragama) artinya bertenggang rasa terhadap kepercayaan yang berbeda.

Saya tidak minum arak namun lingkungan saya dipenuhi oleh para peminum arak.  Haruskah saya bertoleransi? Haruskah saya membiarkan atau masa bodo melihat kenyataan ini atau sebaliknya memerangi dan mengobrak abrik pelakunya? Di depan rumah saya rencananya akan dibangun tempat ibadah umat lain. Haruskah saya membiarkannya, mendukung, menyumbang atau sebaliknya, dengan sekuat tenaga menentang, menggagalkan atau bila perlu membongkar dan membarkarnya?

anjinggereja

Di zaman saya kecil dulu, toleransi sepertinya relatif mudah dan tidak perlu susah payah diajarkan karena seakan sikap ini sudah tertanam secara alami dalam raga. Mundur sejenak ke ratusan tahun lalu, menurut catatan sejarah, toleransi tampaknya jauh lebih mudah lagi. Namun zaman sudah berubah, gerakan pemurnian agama, partai agama, pakaian agama, simbol-simbol agama dan sejenisnya tumbuh subur. Sepintas kedengaranya sangat bagus namun kenyataannya, fanatisme dan radikalisme juga meningkat pesat, tersebar luas baik dalam kehidupan nyata ataupun di dunia maya.

Selama ini yang saya lihat, toleransi beragama kebanyakan dijadikan wacana dan debat dan tunggangan politik kepentingan. “Saya sudah bertoleransi tapi mereka tidak. Agama saya lebih banyak bertoleransi dibandingkan agama mereka”. Kemudian kalau mayoritas dan minoritas dilibatkan, maka masalahnya akan semakin pelik. “Kita mayoritas koq malah disuruh mengalah? Mereka minoritas harusnya tahu diri dst.” Kemudian ditambah lagi dengan letak negeri yang memang panas, tokoh agama yang memanas-manasi, pengangguran, macet, agama yang harus dicantumkan pada KTP membuat masalahnya semakin lengkap.

  • Dasar Mbah Koplak, apa hubungannya dengan cuaca dan KTP?

Ups, ndak nyambung ya? Ya maklum saja, namanya juga blog abal-abal, banyak ndak nyambungnya.

Dalam kehidupan beragama yang majemuk, toleransi mutlak diperlukan bukan hanya sebatas antar pemeluk agama lain, tapi juga antar pemeluk atau sekte agama sendiri. Kalau sikap toleran tidak dipupuk dan dibiasakan sejak dini maka kerusuhan berlatar intoleransi akan terus berulang atau bahkan tidak tertutup kemungkian akan terjadi perang saudara.

250px-anjingAnjing dan kucing saja bisa hidup rukun dalam satu rumah. Nah, kenapa kita yang mengaku manusia dan berderajat lebih tinggi justru tidak bisa?

Secara natural, seseorang umumnya cendrung susah bertoleransi pada kesalahan orang atau kelompok lain namun sebaliknya, longgar atau mudah bertoleransi pada kesalahan sendiri. Seseorang cendrung mudah bertoleransi pada kesalahan hukum yang dilakukan oleh diri sendiri atau teman sejawat, saling melindungi, membela dll. Ketertiban, kebersihan, pelanggaran lalu lintas, korupsi ataupun toleransi agama adalah sama saja.  Itulah sebabnya semua kasus tersebut akan tetap muncul dan bahkan menjadi masalah abadi di negeri ini.

end

Advertisements

17 thoughts on “Apa Sih Susahnya Bertoleransi ?

  1. selamat idul fitri mbah (kalo merayakan), mungkin perlu cuci otak secara masal y mbah biar toleransi antar umat beragama itu bisa diterapkan, bulan puasa sy pusing denger berisik suara toa tiap mlm, wktu sholat ied sy cuma mendengar awal khotib berbicara “marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan kita” trus sy mikir, khotbah selanjutnya sy sudah tidak dengar lg kr sy lg mikir meningkatkan keimanan itu seperti apa sih? Apa dg jengkelat jengkelit smpe jidat item krn kapalan, atau baca koran tiap mlm satu jus smpe 30 hari katam, atau gak usah sholat tp belajar dulu mengikis sedikit demi sedikit kekotoran dlm hati, menjaga mulut dalam ucapan agar tdk menyakiti orang lain, berusaha membantu orang yg kesusahan, ah.. mikir belum kelar keburu khotibnya selesai khotbah. Salam abal abal mbah

    1. @ Salam utk Kang PURENG, Senang bisa bersua kembali.

      Selamat Idul Fitri dan semoga sehat sekeluarga. Tentu saja, Mbah juga merayakannya koq. Mbah manusia koplak jadi hari raya apapun mbah ikut merayakannya.

      Puasa, juga ngiku ttapi bukan dilakukan siang hari tapi malam hari dari matahari terbenam dan berbuka saat matahari terbit. Kalau ditotal, puasanya 12 jam juga. Siang, mbah pilih makan banyak karena perlu banyak tenaga untuk bergerak. malam khan cuma tiduran doang.

      Saat sembahyang, mbah malas berdesak-desakan dan dengarin khotbah yang isinya monoton dan tidak menarik. Enakan berkebun atau pergi ke pinggir sungai dengerin suara gemercik air.

      Salam damai dan abal2 Kang.

      =buat rekan lain, ini komentar mabuk habis minum tuwak, mohon jangan ditiru

    2. mbah itu jadwal puasa atau waktu tidur ^_^…

      tapi menarik sekali idenya, mau siang atau malam yang penting 12 jam ya mbah, bisa di bolak-balik lagi, mau puasa sepanjang malam or sepanjang siang.

      *khusus bagi umatnya aji-no-wage :mrgreen:

  2. Pemerintah TIDAK AKAN PENAH mampu TEGAS dalam menangani kasus intoleransi beragama. Jangankan cuma korban rumah, mushola atau tempat ibadah, korban jiwa-pun penyelesainya sering kagak jelas juntrungnya.

    Kasus IMB pendirian tempat ibadah, ahmadiyah, syiah, hare krishna dll kasusnya cendrung menggantung. Pemerintah hanya tegas soal pencantuman agama pada KTP doang. “Semua orang harus mencantumkan agama pada KTP !!”

    Agama menurut saya tidak perlu diatur oleh pemerintah, yang perlu diatur adalah ketertiban umum, intoleransi atau prilaku kriminalnya.

    Puluhan Massa Front Jihad Islam Bersenjata Serang GBI Bantul

    Warga Rubuhkan Gereja HKI Samarinda Pakai Gergaji Mesin

  3. @salam Dongbud Lover’s
    @Simbah wager
    Tulisan yang bagus dan pada moment yang tepat.
    Toleransi dalam kehidupan berAgama di negri ini memang belum sepenuhnya berjalan sesuai arti toleransi itu sendiri.
    Menghargai Perbedaan yang ada hanya Slogan semata, mulut manis didepan dibelakang mencaci agama yang lainnya.
    Hukum sebab Akibat , aksi dan reaksi memang selalu terjadi.
    namun jika sebab dan aksi yang ada adalah sesuatu yang buruk maka otomatis akibat dan reaksi yang terjadi juga tak kalah buruknya.
    Pengetahuan dan pemahaman Agama di masyarakat memang meningkat sekarang ini namun sadar atau tidak sadar telah umat telah membangun dinding pemisah semakin tebal dengan pemeluk agama yang berbeda.
    “Saudara” adalah untuk orang yang punya “LABEL” dan “FAHAM” yang sama.
    Apakah ini pemahaman yang salah?
    atau memang Kegoblokan yang sedang berkembang?

    Salam Rahayu

    1. Benar Kang. Sebenarnya banyak. Apalagi kalau dibudayakan akan tumbuh semakin banyak. Sekarang tampaknya mulai terkikis. Mudah2an cuma perasaan saya saja.

      Sedangkan kalau toleransi antar Hindu Buddha sepertinya lebih mudah ditemukan. Dulu bimas hindu buddha malah jadi satu. Pura hindu ada arca buddha sudah biasa, vihara buddha di bali menggunakan sesaji bali juga sudah biasa. Ada juga Vihara malah pendetanya orang hindu. Di pura tertentu ada pemujaan untuk ethnis China. Itu juga biasa, jadi saat perayaan hari besar, banyak warga Chinanya.

      Nah, SPIRIT kebersamaan yang seperti inilah yang harusnya diteladani dan dipelajari. Kalau cuma bakar2an ya ndak perlu susah2 belajar. Kalau tidak dipelihara maka cepat atau lambat, keharmonisan yang sudah terbentuk tidak tertutup kemungkinan akan berubah menjadi budaya baka2aan.

      Apapun yang tidak dipelihara akan punah dan mati.

  4. Salam Damai
    @Simbah Wager, Kang Bala(ne)Dewa

    Memang benar masih banyak yang memelihara keberagaman atas keyakinan yang berbeda di negri ini.
    Dan Hal seperti ini hendaknya memang diberitakan / diwartakan / disampaikan oleh pemuka-pemuka Agama kepada umatnya sebagai contoh yang baik yang perlu ditiru dalam menjalani hidup keberagaman.
    (Dan bukan sebaliknya menjadi Kompor.)

    Ada beberapa contoh yang saya lihat dilingkungan disekitar saya. Sebagai contoh toleransi.
    1. Ada suatu kampung yang penduduknya masih menjaga kaharmonisan antar pemeluk agama yaitu dengan saling bergantian bantu membantu dalam setiap acara perayaan agama yang diadakan di balai kampung.
    2. Ada juga yang saling memberi ucapan selamat dengan bersalaman kepada pemeluk agama lain yang sedang merayakan hari raya agamanya.

    Mudah mudahan saja hal2 tersebut tetap terjaga. Dan tidak ter Provokasi dari pihak luar. He…he…he. … ?
    (Karena Media pun juga bisa jadi Kompor.)

    3. Saya mengenal beberapa keluarga yang menjalani perkawinan beda Agama. Saya lihat kehidupan mereka juga harmonis. Dan saya rasa ini toleransi yang sangat sulit dilakukan.

    Walaupun ada juga dari pihak keluarga pasangan ini yang menentang. Bahkan sekarangpun Pemerintah melarang pernikahan bada Agama. He…he…he
    (Ada juga kompor dari pemuka agama dengan doktrin2 nya)

    Dan tentunya masih ada contoh lain dari pembaca dongbud yang lain

    “KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA”

    Saya kira ini contoh ajaran yang baik, jadikanlah setiap manusia sebagai “SAUDARA” tanpa LABEL agama

    Salam Rahayu

    1. Salam Kang cahyo …Kang Balanedewa…

      Agama yang sebenarnya untuk menyelesaikan masalah malah berakibat banyak masalah dan kadang tidak manusiawi….

      Siapa kompornya dan siapa penjual kompor dan gasnya….

      Salam MUMET

    2. Tanpa Agama katanya manusia tidak ada tuntunan ,,,…sehingga jiwa mereka dituduh sesat

      Sudah ada agama bahkan banyak jenisnya ,,eeh ya sama saja ,,,,perang dan perang terus karena saling berebut agama yang paling benar….hidup manusia terkotak kotak , tidak harmonis dll….

      Kafir , musrik , syrik dan lain lain itu terhadap siapa , kepada sesama manusia atau kepada Tuhan Sang Penguasa semua jiwa dan kehidupan….

      Tuhan tetaplah tidak merugi atau tidak nangis histeris,golong komeng misal semua manusia tidak beragama / tidak berlebel…

    3. golong komeng…………… ha ha ha…

      ini tulisan khas sufi abal-abal dari serbeje :mrgreen:

      nggak kebayang Tuhan nangis terseduh-seduh guling-guling lihat umatnya cakar-cakaran yang sebenarnya tak pernah bisa menggapai dan membela NYA.

      daripada Tuhan itu di posisikan duduk di atas langit or singgasana surga nun jauh di sana…… padahal Tuhan itu tidak jauh… ia ada bersemayam di setiap lubuk hati yang terdalam…

      jarene simbah : cedak ning ora senggolan.

  5. dejejeng dewi
    Ndak boleh begitu
    Dalam setiap agama pasti ada ya a b c d…
    Bersaudara tanpa label agama…itu bagus tetapi lebih bagus lagi bersaudara tanpa melihat gender status budaya dan agama apapun…
    ……..
    Jangan kaku melihat agama
    Dan jangan kaku melihat dunia
    Jangan bercanda..jika urusannya dengan KETUHANAN…….
    Pandangan Tuhan bersemayam diarasy itu adalah hak bagi yg meyakininya…
    ….
    Jika tidak memahami jangan berteriak……
    Hihihi………..

    tunjukan budaya agung jowone
    ….
    …….
    alien
    Ada
    Dimana?
    Disanaaaaa
    Ayo kita kejarrrrr.
    Kemana…
    Ayooooo
    Gak jelasss ah
    Hah kenapa berhenti….
    Mana aliennya…itu ituuuuuu
    Wadad itu bukan alien
    Apaaan tuh…
    Itumah kucingggggg
    Hah kuciaaaaaaaang…
    Maksudnya?
    Gatauuuu
    Yeh ga jelassss
    Apanyaaaaaaa?
    Pedang siapa ini?
    Iya ya bagus tenan,apik tenan’
    Wehhhh bisa murubbb..
    Wehhh ko nyala….wah pedangnya bang nurkahuripan…..yayayaya
    Bukannnnn
    Itu pedang bang spwn???
    Ah masaaaa..
    Kenapa ada sarung merah…
    Iyaaaah bau apek..punya siapa ini…
    Bakaaaaaar…
    Hahahaha ga jelas….kumaha sih
    Ko jadi ngelantur…..

  6. @Salam Simbah wager, kang Baka(ne)dewa, kang Camar, jeng dewi

    Mestinya Ajaran Agama Perlu direvisi.
    Malu dong Sama Si Kafir dan Sesat yang bisa berdamai dan menghargai perbedaan.

    Salam Rahayu

  7. Salam sejahtera untuk semua, para sesepuh dan pengelana.
    Lama saya berjalan bersama sang waktu, tercium wangi kopi dari Mbah Wage membuat saya istilahat sejenak untuk melepas rindu. Semoga Mbah Wage sehat selalu, begitu pula dengan para semua penghuni di sini.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s