Ramalan Sabdo Polan

Dicopy dari komentar pembaca Sdr Ardi  di topik : SUBUD.

candi-ceto
Candi Ceto, credit image : wikipedia

Siapa Sabdo Polan ?

Sumber : Wikipedia. Sabdapalon adalah tokoh legendaris yang dianggap sebagai pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Buddha. Namanya disebut-sebut dalam Serat Darmagandhul, suatu tembang macapat kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko.

Disebutkan bahwa Sabdapalon tidak bisa menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara Demak dengan bantuan dari Walisongo (walaupun pada umumnya dalam sumber-sumber sejarah dinyatakan bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana). Ia lalu bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela dan bencana melanda, untuk menyapu Islam dari Jawa dan mengembalikan kejayaan agama dan kebudayaan Jawa (dalam Darmagandhul, agama orang Jawa disebut agama Buda, yang dahulu Buda berdampingan dengan Hindu). Serat Damarwulan dan Serat Blambangan juga mengisahkan tokoh ini.

Dalam pengertian yang lebih mendalam, kedatangan Sabdapalon dalam arti sebenarnya adalah mengembalikan kejayaan nusantara dari mereka yang lupa akan kebajikan, bukan semata pengembalian dari sudut agama. Mengembalikan jati diri asli nusantara yang terjajah secara politik dan budaya dari negeri asing : Arab, Cina, India, dan kolonial-kolonial Eropa.

Pada tahun 1978, Gunung Semeru meletus dan membuat sebagian orang percaya atas ramalan Sabdapalon tersebut. Tokoh Sabdapalon dihormati di kalangan revivalis Hindu di Jawa serta di kalangan aliran tertentu penghayat kejawen.

Sabdapalon seringkali dikaitkan dengan satu tokoh lain, Nayagenggong, sesama penasehat Brawijaya V. Sebenarnya tidak jelas apakah kedua tokoh ini orang yang sama atau berbeda. Ada yang berpendapat bahwa keduanya merupakan penggambaran dua pribadi yang berbeda pada satu tokoh.

NOTE: Sumber artikel dan kredit gambar : Wikipedia

separator

semar-wayang

Ramalan Sabdo Polan

  • 1.
    Pada sira ngelingana, Carita ing nguni-nguni,
    Kang kocap ing serat babad, Babad nagri Mojopahit,
    Nalika duking nguni, Sang-a Brawijaya Prabu,
    Pan samya pepanggihan, Kaliyan Njeng Sunan Kali,
    Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

  • 2.
    Sang-a Prabu Brawijaya, Sabdanira arum manis,
    Nuntun dhateng punakawan, “Sabda palon paran karsi”,
    Jenengsun sapuniki, Wus ngrasuk agama Rosul,
    Heh ta kakang manira, Meluwa agama suci,
    Luwih becik iki agama kang mulya.

Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

  • 3
    Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi,
    Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti,
    Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu,
    Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi,
    Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

  • 4
    Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri,
    Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami,
    Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun,
    Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami,
    Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

  • 5
    Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami,
    Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi,
    Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur,
    Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami,
    Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

  • 6
    Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih,
    Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi,
    Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu,
    Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti,
    Boten kenging kalamunta kaowahan.

Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

  • 7
    Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi,
    Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji,
    Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun,
    Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi,
    Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

  • 8
    Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi,
    Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi,
    Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun,
    Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani,
    Jagad iki yekti ana kang akarya.

Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

  • 9
    Warna-warna kang bebaya, Angrusaken Tanah Jawi,
    Sagung tiyang nambut karya, Pamedal boten nyekapi,
    Priyayi keh beranti, Sudagar tuna sadarum,
    Wong glidhik ora mingsra, Wong tani ora nyukupi,
    Pametune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

  • 10
    Bumi ilang berkatira, Ama kathah kang ndhatengi,
    Kayu kathah ingkang ilang, Cinolong dening sujanmi,
    Pan risaknya nglangkungi, Karana rebut rinebut,
    Risak tataning janma, Yen dalu grimis keh maling,
    Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

  • 11
    Heru hara sakeh janma, Rebutan ngupaya bukti,
    Tan ngetang anggering praja, Tan tahan perihing ati,
    Katungka praptaneki, Pageblug ingkang linangkung,
    Lelara ngambra-ambra, Waradin saktanah Jawi,
    Enjing sakit sorenya sampun pralaya,

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

  • 12
    Kesandung wohing pralaya, Kaselak banjir ngemasi,
    Udan barat salah mangsa, Angin gung anggegirisi,
    Kayu gung brasta sami, Tinempuhing angin agung,
    Kathah rebah amblasah, Lepen-lepen samya banjir,
    Lamun tinon pan kados samodra bena.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

  • 13
    Alun minggah ing daratan, Karya rusak tepis wiring,
    Kang dumunung kering kanan, Kajeng akeh ingkang keli,
    Kang tumuwuh apinggir, Samya kentir trusing laut,
    Seia geng sami brasta, Kabalebeg katut keli,
    Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

  • 14
    Hardi agung-agung samya, Huru-hara nggegirisi,
    Gumleger suwaranira, Lahar wutah kanan kering,
    Ambleber angelebi, Nrajang wana lan desagung,
    Manungsanya keh brasta, Kebo sapi samya gusis,
    Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

  • 15
    Lindu ping pitu sedina, Karya sisahing sujanmi,
    Sitinipun samya nela, Brekasakan kang ngelesi,
    Anyeret sagung janmi, Manungsa pating galuruh,
    Kathah kang nandhang roga, Warna-warna ingkang sakit,
    Awis waras akeh kang prapteng pralaya.”

Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

  • 16
    Sabda Palon nulya mukswa, Sakedhap boten kaeksi,
    Wangsul ing jaman limunan, Langkung ngungun Sri Bupati,
    Njegreg tan bisa angling, Ing manah langkung gegetun,
    Keduwung lepatira, Mupus karsaning Dewadi,
    Kodrat iku sayekti tan kena owah.

Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

–end–

 

Advertisements

10 thoughts on “Ramalan Sabdo Polan

  1. Satria paningit tidak akan memuncul kan wujudnya … tapi satria paningit akan tetap melundungi semua kerabat dan saudara serta semua umat manusia.satria paningit juga akan tetap menjadi manusia biasa … yang roncang rancing bahkan hampir mirip seperti orang gila.getaran power terbesar akan terjadi pada bulan malam rabu pon kemis wage jumat kliwon di bulan april 2015.dan akan bergelombang powernya … berasal dari jawa barat merambat ke jawa tengah hingga jawa timur … dan semua akan berakibat kehancuran alam ataupun manusia yang akan merobatkan pembaruan kehidupan dimulai hingga sekarang hingga 12 tahun yang akan datang dan seterusnya hingga menyaring manusia.manusia yang kasar akan mati dan yang halus akan hidup.kabar dari langit dan bumi

  2. analisa :

    Sanget-sangeting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinengkalan tahunira, Lawon sapta Ngesthi Aji, upami nyabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandhang, jerone nglelebne jalmi, kathah manungsa prapteng pralaya

    (Waktu paling sengsara yang terjadi di tanah Jawa terjadi pada sengkalan tahun Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama menyeberang sungai setelah sampai di tengah-tengah, sungainya banjir besar, kedalamannya menenggelamkan manusia, banyak manusia yang tewas)

    Pemaknaan atas isi Jangka Sabda Palon tersebut sudah tentu bisa bermacam-macam tergantung cara pandang yang dimiliki penafsirnya.

    Tradisi Jawa sendiri tidak memiliki metodologi yang jelas dalam berinteraksi dengan bentuk-bentuk teks semacam ini.

    Salah satu cara pandang yang bisa dikemukakan adalah dengan melihat peristiwa apa saja yang terjadi pada tahun Jawa tersebut.

    Angka tahun 1877 tahun Jawa jika dikonversi ke dalam penanggalan masehi maka akan didapatkan angka tahun 1945 atau 1946 M.

    [11] Jika angka tahun tersebut dihubungkan dengan “kesengsaraan yang terjadi di tanah Jawa” maka akan didapatkan hasil yang membingungkan.

    Sebab diketahui bersama bahwa pada tahun 1945-1946 ini bangsa Indonesia termasuk penduduk tanah Jawa sedang berada dalam suasana kegembiraan karena “ Atas berkat rahmat Allah yang maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur … maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

  3. tafsir 2

    Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji, …

    (Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)

    Justru Jangka Sabda Palon dari segi isinya menunjukan bahwa ada keinginan mendalam dari tokoh “Sabda Palon” untuk menganut Islam pada masa yang akan datang, yaitu pasca lima ratus tahun ramalannya. Dalam pandangan Sabda Palon ajaran Islam yang dibawa oleh para Wali Songo, termasuk Sunan Kalijaga, belum merupakan ajaran Islam yang sempurna. Sabda Palon berkehendak menganut ajaran agama ini jika telah diajarkan secara sempurna, bebas dari sinkretisme. Hal ini ditunjukkan sebagai berikut:

    Thathit kliweran ing nusa Jawa, pratandhane wong nuduhna, sampurnakna agamane, yeku agama rasul, anyebarna Islam Sejati, duk jaman Brawijaya, ingsun datan purun, angrasuk agama Islam, marga ingsun uninga agama niki, nlisir saking kang nyata.[13]

    Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, menafsirkan kalimat di atas bahwa pada masa kehidupan Prabu Brawijaya, raja Majapahit, tokoh Sabda Palon belum bersedia menganut Agama Islam dan lebih memilih menganut Agama Budha.[14] Alasannya, Sabda Palon masih menganggap bahwa penganut Islam saat itu masih menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Namun pada saatnya kelak, jika Agama Islam telah diajarkan secara murni, maka Sabda Palon akan bersedia memeluk Agama Islam.[15]

  4. Dalam anggapan Sabda Palon, Islam belum dianggap mencapai kesejatian atau kemurnian jika hanya diamalkan menjadi ibadah ritual belaka tanpa memperhatikan kebersihan jiwa. Juga tidak menjadi murni jika hanya diucapkan dibibir namun tidak menjadi praktek nyata.

    [16] Bahkan pada bagian akhir Jangka ini tokoh Sabda Palon mengancam “manusia Jawa” jika mereka tidak mengikuti dirinya memeluk agama rasul yaitu islam yang sejati. Maka akan berat tanggungjawabnya kelak. Hal ini ditujukkan sebagai berikut:

    Sampurnakna agamane, yeku agama Rasul, Islam kang sejati … Ngelingana he pra umat sami, yen sira tan ngetut kersaning wang, yekti abot panandhange, ingsun pikukuhipun, nuswantara ing saindenging, …

    [17] Dengan demikian anggapan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya sastra yang memperkuat mitos bahwa Islam akan lenyap dari bumi Jawa terbukti tidak benar. Jangka Sabda Palon justru berbicara sebaliknya bahwa Islam akan sampai kepada pemurnian ajarannya dimana Sabda Palon sendiri berkehendak memeluk agama tersebut. Hal demikian memang sulit dipahami, sebab banyak bahasa simbol yang digunakan dalam kitab tersebut.

    1. Salam rahayu buat mbah Wager

      Hanya tulisan yg ngawur yg inyong sajikan di atas. Mengenai makam tokoh sabdo palon dan noyo genggong ini ada di kraton barat Majapahit yaitu di Trowulan, inyong baru tahu di Trowulan ada makam 7 ( tujuh) tokoh Majapahit dan tokoh2 laen dlm satu area makam. Inyong ke tempat/daerah tsb krn di ajak oleh org (pk Huda) penduduk setempat (3 th lalu) yg datang ke rumah inyong.

      Latar belakang org tsb datang ke rumah inyong krn pwtunjuk dari hasil bertapa di gua Banyuwangi, dapat petunjuk “agar mencari KEMBARANNYA EYANG SURYO” (lalu siapakah eyang suryo itu pd masa silam? beliau ini adlh raja majapahit (rada bingung inyong ttg nama ini tp sptnya mirip dgn logo majapahit SURYA Majapahit”) inyong ini kan org bodoh sejarah dan juga gak pernah nenu nama JAKA SURYA/EYANG SURYA/O. Dalam cerita inyong ini kesampingkan dulu ttg nama tsb krn gak masuk akal ttg cerita KEMBAR. Krn Eyang Suryo ini lah yg pegang kunci KODE KUNCI TIGA (mungkin saja atau barangkali yg disebut pd karya sastra dgn sebutan TRISULA VEDA (bukan wedha) perputaran bintang daud sbg pembuka pintu gerbang kemakmuran, kata org tsb diutarakan ke inyong.

      Ada2 saja org itu, tambah bingung inyong, lalu inyong di ajak mampir ke rumah beliau di Trowulan (tapi org ini gk bicara akan ajak ziarah ke Trowulan, hanya ngajak ke rumah nya).
      Singkat cerita sampai dirumahnya sore hari kamis, lalu mandi dsb, inyong di ajak jalan2, inyong nurut aja. Pertama inyong diajak ke makam mbah Semar ada di bukit (wah inyong seneng banget di ajak wisata ziarah).

      Sampailah di lokasi tsb, oh ini makam semar. Inyong biasanya kalau ziarah suka bawa amparan, persiapan minim, hanya bawa kinangan kumplit beli di pasar deket rmh inyong, inyong juga bawa pusaka semar sepasang sebesar telapak tangan bayi, alat ini bisa untuk fokus mediumisasi oleh temen inyong (pk Gento). Selesai kirim hadiah yaasinan, lalu mediumisasi. Yg masuk pinjem raga adlh wanita (lupa namanya) yg ada sekitar itu, kata beliau eyang semar lg gk ada, pergi rapat (xi3 rupanya di alam ghaib ada rapat rapat juga), “oh rapat, kalau ibu (Semar putri istrinya) ada di mana? di jawab ” ibu ada di atas bukit itu (sambil jari telunjuknya di arahkan ke bukit), kalau begitu, tolong sampaikan ke beliau Jaka Surya sowan anaknya”, di jawab ” ya nanti sy sampaikan ke beliau. Teman sy bingung kok ada semar perempuan? Lalu mrk bertanya kpd juru kunci makam tsb, apakah benar di atas bukit itu ada makam semar lagi? dijawab “ya ada”.

      Lalu inyong diajak lagi ke kraton Trowulan, wah gk kepikir akan di ajak jalan2 ke tempat yg ada makamnya sabdo palon dan noyo genggong ,,,,, spt biasa, cara2 inyong menolong leluhur dgn cara islam dan terakhir pakai ajian KEMBANG CANGKOK WIJAYA KUSUMA, ini ajian inyong menolong para leluhurku sebab masa lalu. Cerita mistiknya adlh ribuan para ruh ruh mengikuti setiap kata yg inyong lantunkan (suara yg ramai tsb didengar oleh 2 org temenku tsb sambil nyolek2 punggungku, dan inyong gk terpengaruh colekan tsb sampai selesai ritual inyong tuntas), tadi ada apa colek2? kata mrk ” aneh, kok suara mu diikuti oleh mrk banyak banget”, jawab inyong “cuma tersenyum” krn inyong gk mendengar mrk pd ngikutin doa inyong, akhirnya inyong pamit kpd leluhur melanjutkan perjalanan lg, alhamdulillah mrk tlh diterima Allahu ,,,,

      Inyong di ajak kemana lagi? di ajak wisata ziarah ke makam putri champa, wah asik nih ,,,, dlm perjalanan, inyong bertanya kpd teman inyong “biasanya tidak jauh dari makam tsb ada lebak cawene (pemandian sakral) itu gudang asetnya disimpan disitu”, jawab mereka ” nanti dlm perjalanan kita melihat pemandian tsb, tp malam ini pintunya dikunci, jadi gk bisa masuk”.

      Sampailah di pintu gerbang areal pemakaman putri champa, turun dari mobil, lalu jalan ke dalam, ada 2 org wanita (salah satunya bernama ibu sundari) yg menyodorkan buku tamu, ada pembicaraan menarik disini, bu sundari bertanya kpd inyong “maaf pak, bapak disini berapa lama?, jawab sy sambil nulis buku tamu ” sudah lama bu, tapi baru nyampai”, lalu sy langsung jalan ingin cepat2 pergi ke pesarean ibu ku dari champa, rindu ,,, lalu teman sy bertanya “ada apa bu dgn bapak yg tadi?” jawab bu sundari “itu bapak yg tadi, kemarin malam datang ke sini tp kok sekarang datang lg” (teman2 inyong bingung, lah baru nyampai ke sini kok dibilang kemarin malam datang kesini, jgn2 ibu ini udah pikun), kata bu sundari “sy masih muda, gk mungkin pikun, krn kemarin malam bapak itu juga ngasih uang ke sy rp 50.000,-, hanya saja ketika ditawarin minum bpk itu gk mau minum”, 2 org teman sy tertawa (tidak bermaksud mentertawai ibu tsb) ” kalau bapak yg td ibu tawarin minum, lagsung diminum bu ha3″,,,, sontoloyo bener temen inyong itu, ngasih tahu nya udah masuk mobil, coba kalau ngasih tahunya msh disana, bu sumdari tak kasih gepokan ,,,,

      Cerita sabdo palon di atas adlh perjalanan sy di kehidupan sekarang atau akhir jaman, jaman memaafkan para ruh2 yg bermasalah saling memaafkan dan bersalaman harmonis, mk tdk salah jika ada yg meramal 2012 adalah kiamat, hanya saja para ahli tafsir keliru mengartikan arti kiamat ,,,,

      Ini hanya cerita ngawur dari inyong, anggap saja inyong orang gila, mknya nulis di blognya mbah wager

      Salam
      Panci

  5. Salam Kang PANCI,
    Santai aja Kang. Diblog ini tak akan ada yang nyebut Akang gila. Khan disini emang blog orang gila. Enak, banyak teman. wakakakkk….

    Tulisan Sabdo Polan sudah saya edit dan nama Akang saya tambahkan jadi pengasuh halaman ini. Jadi tulisan2 Akang tentang perjalanan gaib, spiritual dll ditulis disini saja sehingga terkumpul dan mudah mencarinya dikemudian hari.

    salam

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s