Mengungsi Ke Negeri Kapir? Mengapa Tidak Ke Indonesia?

prancis23
Perancis, Versailes, credit foto wikipedia

DONGBUD. Wage Mahardika. Perebutan kekuasaan, perang dan kerusuhan bergolak di sejumlah kawasan. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa salah,  siapa dalang dan siapa domba aduannya, yang jelas perang selalu menimbulkan bencana, kerusakan, kesedihan dan air mata.

Disaat terjadi konflik atau perang, setiap orang secara naluriah akan berlari, menjauh atau menyelamatkan diri ke daerah yang lebih aman. Negeri aman yang paling mudah adalah negeri tetangga. Jadi penduduk yang berbondong-bondong melintasi perbatasan adalah kejadian kejadian lumrah disaat perang. Naman belakangan ini, terjadi fenomena yang “tidak lazim” yaitu para pengungsi berbondong-bondong mengadu nyawa melewati ganasnya lautan untuk menuju ke negeri impian yaitu Eropa.

Mengapa harus Eropa atau negeri Barat?

pengungsi3
Credit image : express.co.uk

Bukankah dengan mengungsi ke negeri Islam maka permasalahan seperti agama, makanan, budaya dll menjadi jauh lebih mudah? Apakah ini artinya kemakmuran material jauh lebih berharga dan menarik dibandingkan kemakmuran rohani seperti negeri Indonesia?

Entahlah yang jelas, sejak lama negeri ekonomi maju selalu menjadi impian para pengungsi. Bagaimana dengan Indonesia? Sangat menyedihkan karena selama ini, negeri kita tidak lebih hanya menjadi daerah transit alias tempat numpang lewat saja. Mengapa? Apakah negeri ini sedemikian tidak menariknya sehingga pengungsipun enggan untuk menetap?

Indonesia adalah negeri yang luas dan subur serta matahari bersinar hangat sepanjang tahun. Beda jauh dengan negeri barat yang memiliki empat musim, tentu bukan tempat yang mudah dan nyaman untuk ditinggali bukan? Kita dianugrahi wilayah yang luas, beda dengan negeri Eropa yang sempit dan sumpek. Jadi kurang apa lagi?

Entahlah, yang jelas, nyaris tidak ada pengungsi yang berminat untuk menetap di negeri bernama Indoesia. Mereka lebih memilih untuk pergi ke negeri barat, walaupun harus dengan mengadu nyawa sekalipun.

= Lha, mau mengungsi kemana itu urusan mereka. Ngapain mbah yang repot?

Bnear juga ya. Cuma kadang hati menjadi miris melihat tayangan kondisi para pengungsi yang sangat memprihatinkan. Namun di sisi lain saya juga kadang bingung melihat kelakuan sejumlah para pengungsi yang juga kadang keterlaluan. Tidak bisa diatur, tidak bisa tertib, kumuh, banyak menuntut dan bahkan membuang makanan karena dianggap tidak memenuhi standar. Kejadian seperti ini juga ada pada pengungsi di Indonesia, mereka menolak nasi padang dan minta KFC.Duh !

Namun saya mencoba memaklumi. Status sebagai pengungsi memang tidak mudah. Kehilangan rumah, pekerjaan, harta atau bahkan sanak keluarga adalah kondisi yang sangat berat. Situasi menjadi semakin berat karena mereka datang dari negeri yang notabene bukan negara maju, jadi dari awal pemahaman tentang desiplin, kebersihan dll standar-nya lebih rendah dari negara yang mereka datangi. Jadi ya wajar kalau terkadang kerusuhan, keributan atau bahkan baku hantam sesama pengungsi kerap terjadi.

pengungsi-budapest_station
Pengungsi dari negeri Arab di stasiun Budapest Hungaria, credit : Aljazeera

Saya tidak pernah menjadi pengungsi dan juga tidak pernah bekerja yang berhubungan dengan pengungsi, namun setidaknya saya pernah tinggal di negeri kafir jadi setidaknya memahami sedikit kesulitannya. Perbedaan budaya, ethos kerja, mental dan juga bahasa menjadi hal kendala awal yang bisa membuat stress. Tanpa mampu berbaur atau bersosialisi maka hidup di negeri asing akan menjadi semakin susah dan tertekan.

Penutup

pengungsi-welcomePengungsi adalah masalah pelik, diusir salah, sedangakn kalau ditampung tentu butuh uang atau dana. Serpertinya siapapun tidak ingin menjadi pengungsi dan negara manapun tidak ingin kedatangan pengungsi. Hanya karena alasan kemanusiaanlah maka banyak orang atau negara yang mau membantu.

Bagaimana dengan Indonesia? Kapankah negeri ini bisa menjadi surga atau impian banyak orang dari segala penjuru dunia? Kapankah negeri ini memiliki kepedulian pada kemanusiaan dan mampu menampung orang-orang yang kesusahan dan tanpa rumah? Lha, jangankan memberikan rumah dan menampung orang asing, penduduk sendiripun masih banyak yang tidak memilik rumah.

Kapankah negeri ini menjadi rumah tinggal bagai semua orang, mampu menampung manusia dengan beragam ras, bangsa dan agama? Lha, jangakan nambah penduduk dari ras asing, antar suku dari negeri sendiripun terkadang masih tidak bisa akur.

Ah, lupakankah pengungsi dan permasalahannya. Biarlah itu menjadi masalah negeri lain. Yang jelas pengungsi muncul akibat perang. Perang yang nyaris tidak pernah berakhir.

Perang bisa terjadi karena beragam sebab, namun perang yang paling bodoh dari yang paling bodoh adalah perang atas nama agama atau Tuhan. Perang agama alias perang bodoh yang tidak tertutup kemungkinan juga bisa terjadi di negeri ini.

Referensi :

Advertisements

15 thoughts on “Mengungsi Ke Negeri Kapir? Mengapa Tidak Ke Indonesia?

  1. FILE BERITA

    Properti Berita

    Bantu Pengungsi Suriah di Jerman, Arab Saudi Bakal Bangun 200 Masjid

    Kamis, 10 September 2015 | 23:00 WIB

    KOMPAS.com – Mempertimbangkan banyaknya pengungsi Suriah yang melarikan diri ke Eropa, khususnya negara Jerman, pemerintah Arab Saudi menawarkan untuk membangun 200 masjid di negara pimpinan Kanselir Angela Merkel tersebut.

    Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk membantu Jerman, karena pengungsi yang diterima negara itu berjumlah 20.000 orang. Mereka memasuki Jerman dengan menggunakan kereta api, bis, dan tak sedikit yang berjalan kaki.

    Menanggapi tawaran Arab Saudi ini, Merkel menjawab pihaknya sangat antusias menerima para pengungsi, dan bahwa Jerman telah menjadi negara yang dianggap banyak orang asing sebagai tanah harapan.

    Mengutip laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Arabian Business mengabarkan, tak kurang dari 400.000 diproyeksikan akan menyeberang Mediterania pada tahun 2015. Sementara gelombang kedua sebanyak lebih dari 450.000 orang diperkirakan mengungsi pada tahun depan.

    ++++++++

  2. Mengapa Warga Suriah Eksodus ke Eropa, Bukan ke Negara Arab ?

    SENIN, 07 SEPTEMBER 2015 | 09:37 WIB

    TEMPO.CO, Muenchen- Ada tanda tanya besar saat ratusan ribu warga Suriah melakukan eksodus menuju negara-negara Eropa, seperti Hungaria, Austria, Jerman, dan Inggris. Mengapa Eropa? Mengapa tidak pergi ke negara-negara Arab yang kaya minyak?

    Menurut International Business Times, ada beberapa faktor Eropa menjadi magnet besar bagi warga Suriah. Salah satu magnet itu adalah niat baik dari negara seperti Jerman. Selain ekonominya yang kuat, pemerintahan Kanselir Angela Merkel juga berjanji tidak akan menepatkan batasan soal jumlah aplikasi suaka.

    “Tidak akan ada batas atas yang ditetapkan pada penerimaan orang-orang yang melarikan diri penganiayaan dan membutuhkan perlindungan,” kata Manfred Schmidt, Kepala Migrasi Jerman, pekan lalu.

    Ini berbeda dengan negara-negara Teluk yang cenderung diam terhadap pengungsi. Secara geografis, para pengungsi Suriah memang lebih mudah menuju Eropa ketimbang ke Arab Saudi, misalnya. Untuk ke Arab, warga Suriah harus melewati negeri konflik lain, seperti Libanon dan Irak. Sedangkan untuk ke Eropa, mereka tinggal menyeberang ke Turki atau Yunani. Lalu dengan naik bus, berjalan kaki atau naik kereta menuju Hungaria, Austria, dan Jerman. Menurut The Guardian, rute favorit mereka adalah Istanbul (Turki)-Athena (Yunani)-Subotica/Rozke/Kanjiza-Budapest (Hungaria).

    Jumlah pengungsi dari daerah konflik Timur Tengah setidaknya 350 ribu yang mencapai perbatasan Uni Eropa. Sabtu lalu, ribuan pengungsi yang sebagian besar lari dari perang di Suriah itu pergi dari Hungaria setelah mendapatkan perlakuan keras dari pemerintah. Mereka melintasi Austria dengan tujuan Jerman. “Perang telah merampok impian kami, mencuri rumah-rumah kami,” kata Ahmad Yusuf, 62 tahun, pengungsi asal Suriah.

    Di antara negara Uni Eropa, Jerman muncul sebagai tujuan favorit para pencari suaka dan imigran. Lebih dari 3.000 pengungsi yang Sabtu lalu tiba di Kota Muenchen pada tengah hari dan secara keseluruhan akan ada sekitar 7.000 yang akan datang pada hari itu.

    Reaksi orang Jerman untuk pendatang baru memang belum sepenuhnya positif. Pegida, kelompok anti-Islam yang memproklamasikan diri sebagai neo-Nazi, telah berusaha mencegah para pengungsi memasuki negara itu dengan melakukan protes keras dan bahkan menyerang kamp-kamp pengungsi. Freital dan Heidenau, dua kota kecil di tenggara Jerman, dikenal sebagai tempat subur bagi kekerasan terhadap pengungsi.

    Namun banyak juga penduduk setempat yang menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka seperti yang ditunjukkan di stasiun Muenchen, Sabtu lalu. Sekelompok warga berkumpul di sana menyambut para pengungsi, membagi-bagikan permen dan air. Pengungsi, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tersenyum saat orang bertepuk tangan dan berteriak, “Selamat datang di Jerman!” ketika mereka tiba di stasiun kereta api.

    “Pada kenyataannya, kehidupan seperti yang kita alami di sini sudah jauh lebih beragam,” kata Presiden Jerman Joachim Gauck soal sikap warganya itu.

    Pihak berwenang mengatakan Jerman diperkirakan menerima 800.000 aplikasi suaka pada akhir tahun. “Biaya untuk menangani ratusan ribu pengungsi itu bisa US$ 2-3,6 juta,” kata Menteri Tenaga Kerja Jerman Andrea Nahles.

    International Business Times | The Guardian | BBC

  3. Selamat Malam Simbah Wager (Presiden Dongbud, Ketua Padepokan Mbelgedez & Owner, merangkap TSK, Komisi Semprit, Admin, Penulis, dll.);
    Selamat Malam kepada Para Pinisepuh, Para Winasis Waskita, Dewan Pembina, Dewan Penasihat, Komisi Semprit (Admin), Para Penulis, Para Pemandu Sorak, Para Sponsor, Para Warga Padepokan Mbelgedez, Para Alumni dan Para Sedulur Semua @ …

    Salam sejahtra ……

    Nuwun Sewu Simbah….. telat memposting (ke Artikel Simbah), maklum hr Sabtu & Minggu adalah hr yg dinantikan (membasuh penat & letih) dgn Nonton Sepak Bola terutama Liga Inggris. Spanyol & Italia, plus MOTOGP & F-1.

    Kalau Kita flashback ttg Timur Tengah (Timteng), semua Rasul & Nabi yg 25 orang, semuanya diturunkan di Timteng, kenapa tdk di Tempat lain atau Nusantara….?
    Dari empiris-nya saja.., sebagian besar sudah terjawab (datang Rasul dan/atau Nabi yang satu Penduduk-nya Beriman, Rasul dan/atau Nabi-nya meninggal, penduduk-nya Ingkar lagi, dst.., dst…), berbeda dengan Penduduk di Nusantara……. (mulai dari Religi Asli Nusantara, hingga Religi Hindu, Budha, Islam & Nasrani/Kristen, damai damai saja).

    Sejarah mencatat…., di Nusantara “hampir” tidak ada Perang Agama (baik antar Negara, pun antar Kerajaan), tidak seperti di Timteng atau pun di Eropa (Perang Salib), adapun Perang antara Kerajaan Demak dgn Kerajaan Majapahit, dan Kerajaan Pajajaran dgn Kesultanan Banten & Kesultanan Cirebon (yg dibantu Kesultanan Mataram Islam) bisa “dihindari”

    (NANTI AKAN saya bahas terpisah, di Halsus : “Orang Gila,” krn cukup puanjang, pembahasan bukan untuk membuka “luka lama,” ttp sbg “pembelajaran & diambil hikmah-nya,” kenapa bisa terjadi..? Dan jangan sampai terulang lagi.., sbg Anak Cucu-nya, pun di Zaman kini sebagai Komponen Bangsa).

    BERSAMBUNG

  4. SAMBUNGAN (1)

    Kembali ke Judul Artikel & Materi.., saya kesulitan mencari Data Struktur (pun persentase) Bangsa Suriah termasuk persentase Struktur Pemeluk Agama Penduduk-nya.
    Di Suriah Perang yang terjadi akibat intern & ekstern,

    Intern-nya adalah Perang Saudara antara Koalisi Nasional Untuk Revolusi Suriah & Pasukan Oposisi
    (Yang didirikan di Doha, Qatar, pada bulan November 2012. Mantan imam Masjid Umayyah di Damaskus, Moaz al-Khatib, dianggap sebagai orang yang moderat, terpilih sebagai presiden koalisi. Riad Seif dan Suheir Atassi, keduanya aktivis demokrasi terkemuka dan yang terakhir seorang feminis sekuler, terpilih menjadi wakil presiden. Jabatan wakil presiden ketiga akan tetap kosong untuk tokoh Kurdi yang dipilih.[2] Mustafa Sabbagh terpilih sebagai sekretaris jenderal koalisi.[3] Koalisi memiliki sebuah dewan dengan sekitar 63[1] kursi, yang 22 diantaranya adalah anggota Dewan Nasional Suriah – Sumber Wikipedia Bahasa Indonesia)

    dgn Penguasa (Pemerintahan) Bashar Al-Assad, mereka menolak dialog dan negosiasi dengan Pemerintah Al-Assad.

    Sedangkan Ekstern-nya adalah dukungan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Amerika dan sekutu-nya.

    Jumlah Penduduk Suriah sebelum Perang (Th. 2012) sktr 22 juta jiwa (sedangkan menurut Wikipedia Bhs Indonesia, 19.405.000 jiwa – Perkiraan Th. 2007)

    juta), dan Struktur Penduduk (Bangsa Suriah) terdiri dari Bangsa Arab dan Suku (Bangsa) Kurdi, yang terbagi lagi, diantara-nya; Kaum Shiah Arab, Sunni Arab, Suku / Bangsa Kurdi (Syria’s Civil War Could Stabilize Its Region – Daniel Pipes, The Washington Times, 26 Februari 2015, diterjemahkan oleh Jacobus E. Lato), dan Wahabi Arab Saudi, serta Kaum Nasrani (Kekristenan di Suriah mencapai jumlah Umat sktr 10% dari total populasi – Wikipedia Ensiklopedia Bebas )

    BERSAMBUNG

  5. SAMBUNGAN (2)

    Pada Mei 2011, International Christian Concern mengklaim bahwa orang-orang Kristen di Suriah lebih takut pada demonstran anti-pemerintah daripada pemerintah sendiri, karena di bawah pemerintahan Assad Suriah telah ada toleransi terhadap agama minoritas, dan Kristen Suriah memiliki pengadilan sendiri yang menangani kasus-kasus perdata seperti pernikahan, perceraian dan warisan berdasarkan ajaran Alkitab, serta Suriah tidak mengakui negara berlandaskan agama (Wikipedia Ensiklopedia Bebas).

    Suriah: Bagian Suriah yang masih dikuasai Bashar al-Assad kini menjadi lebih banyak didiami kaum Shiah. Diperkirakan separuh penduduk Suriah sebelum perang yang berjumlah 22 juta meninggalkan kampung halaman mereka.

    NAMUN DARI JUMLAH ITU, ADA 3 JUTA PENGUNGSI, YANG SEBAGIAN BESAR KAUM SUNNI YANG MELARIKAN DIRI KELUAR NEGERI,
    nampaknya kembali karena perang sipil yang terus berlanjut dan juga karena rejim Assad menarik kembali status kewarganegaraan mereka.
    Rejim itu nampaknya juga sengaja mengurangi pengawasan atas kawasan dekat perbatasan dengan Yordania guna mendorong kaum Sunni melarikan diri ke Suriah. Berbagai laporan memperlihatkan, ada renca na lain untuk memperbesar jumlah penduduk mashab Shiah. Cara yang dilakukan Suriah adalah dengan menyambut baik dan menempatkan kembali sekitar 500.000 warga Shiah Irak, bahkan menganugerahkan status warga Negara Suriah kepada beberapa pengungsi (Demographic Upheaval: How the Syrian War is Reshaping the Region – Pinhas Inbari).

    KESIMPULAN :
    Kasus Perang Saudara di Suriah adalah PELAJARAN YANG PALING BERHARGA & DIAMBIL HIKMAH-NYA oleh Komponen Segenap Anak Bangsa, NKRI, jangan sampai kita TERPROVOKASI oleh Pihak Asing & Para Kaki Tangan-nya yang Anasionalis.
    Mari kita TANAMKAN, RAWAT, JAGA & BINA KESATUAN & PERSATUAN YANG SOLID, TOLERANSI & KEDAMAIAN, SERTA KEADILAN SOSIAL, EKONOMI, HUKUM & POLITIK, DENGAN JUJUR (TRANSPARAN), LURUS, BAIK & BENAR, MAJULAH & JAYALAH NUSANTARA – IBU PERTIWI – NKRI.

    Sukses slalu, rahayu…
    Jayadanjayalahblogdongbudpadepokanmbelgedez…
    Majulahdanjayalahnusantaramerahputihibupertiwi…..

  6. Salam utk Kang Pejalan,

    Sama Kang, Hiburan saya dari televisi cuma sepakbola doang. Bukan penggemar berat tapi setidaknya jauh lebih menghibur dibanding tontonan lainnya. Saya hampir tidak menonton acara lainnya seperti artis, sinetron dan sejenisnya. Saya bahkan pernah hampir 7 tahun hidup tanpa tv. Hasilnya saya nyaris jadi orang goa yang tidak paham dengan omongan atau lelucon teman kerja. wakakakkk….

    Kembali ke topik. Hari ini saya atau kita membaca, menulis dan menyimak berita tentang pengungsi Syria, Irak, Afganistan Afrika di media massa, suatu saat nanti tidak tertutup kemungkinan kitalah yang akan jadi pengungsi dan gantian merekalah yang menonton kita lewat televisi. Tanpa ada rasa tenggang rasa, persaudaraan, humanisme dan sejenisnya maka perang akan mudah meletus ataupun disulut.

    Inilah inti dari tulisan di atas. Judul kadang provokatif atau bombatis ya sekedar untuk marketing gimmick saja utk menutupi isinya yang payah sentoloyo.

    salam

  7. kenapa tidak mengungsi ke sini?…

    walah mbah, wong kita yang notebenenya tuan rumah saja posisinya masih numpang di negri sendiri 😛

    anyway, salut untuk warga Jerman (bukan jeruk manis) yang mau menerima kehadiran para pengungsi. tapi ada tapinya nih mbah, belum apa2 beberap dari mereka udah berulah : mereka ada yang dengan pongah mengibarkan bendera isis… hmmmm 😦

    http://news360.com/article/311820821

    1. Tuan rumah numpang di negeri sendiri?
      Wakakakakkk…….

      Itu memang tidak bisa dihindari Nak. Orang Jawa keliling Jawa, walau masih di Jawa, kalau ndak bisa sewa hotel ya memang harus numpang di rumah rekan lain yang bisa jadi warga pendatang. Kalau belum bisa beli rumah ya kost alias numpang juga. wakakakkk….

      Eh, ndak nyambung ya?!

  8. Selamat Sore Simbah Wager (Presiden Dongbud, Ketua Padepokan Mbelgedez & Owner, merangkap TSK, Komisi Semprit, Admin, Penulis, dll.);
    Selamat Sore kepada Para Pinisepuh, Para Winasis Waskita, Dewan Pembina, Dewan Penasihat, Komisi Semprit (Admin), Para Penulis, Para Pemandu Sorak, Para Sponsor, Para Warga Padepokan Mbelgedez, Para Alumni dan Para Sedulur Semua @ …

    Salam sejahtra ……

    Di bawah ini saya kutip tentang Kata PERANG, dari Artikel : MENGUNGSI KE NEGERI KAPIR ? MENGAPA TIDAK KE INDONESIA ?

    • ……… yang jelas PERANG SELALU menimbulkan bencana, kerusakan, kesedihan dan air mata.
    • Disaat terjadi konflik atau PERANG, setiap orang secara naluriah akan berlari, menjauh atau menyelamatkan diri ke daerah yang lebih aman.
    • PERANG bisa terjadi karena beragam sebab, namun PERANG yang paling bodoh dari yang paling bodoh adalah perang atas nama agama atau Tuhan.
    ====================================

    Dari Tulisan Artikel di atas, menyatakan bahwa PERANG (SELALU) NEGATIF, DESTRUKTIF, MENYEDIHKAN & MEMILUKAN, TIDAK HUMANIS, TIDAK KONSTRUKTIF dll, dsb.

    Wuaduuuh Simbah……. (nuwun sewu) sepertinya Simbah out of date (coba gooling di Mbah Google), TIDAK SELAMANYA PERANGITU SEPERTI TSB DI ATAS, walau 97% BENAR seperti tsb di atas, ttp….. ada 3% YANG POSITIF, buktinya…???

    • PERANG yg menghibur, yaitu PERANG SINATRA (FRANK SINATRA), Dia sebagai PENYANYI TOP di Era-nya;

    • PERANG yg bisa bermain bola atraktif, yaitu PERANG LAMPARD (FRANK LAMPARD), Sebagai salah satu Gelandang Terbaik di dunia, di Era-nya;

    • PERANG yg bisa memakmurkan rakyat-nya, yaitu PERANG KLIN DELANO ROOSEVELT (FRANKLIN DELANO ROOSEVELT);
    Presiden Amerika Serikat ke-32 dan merupakan satu-satunya Presiden Amerika yang terpilih empat kali dalam masa jabatan dari tahun 1933 hingga 1945.
    Pidatonya (Pada Amanat Pelantikan) yg terkenal adalah : “Satu-satunya yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.”
    Setelah masa seratus hari pertama memegang jabatan, Roosevelt telah menunjukkan diri sebagai pemimpin negara yang cakap. Ia memperoleh dukungan rakyat yang unik dalam sejarah Amerika dalam melancarkan sebuah program percobaan yang bertujuan mencapai apa yang disebut sebagi sistem yang bersifat lebih sosial dan lebih demokratis. Program itu dikenal dengan nama “New Deal.”

    Nuwun sewu Simbah Wager, karena LIDAH saya berbau Pasundan (jadi pengucapan F menjadi P)….. Ataukah ini dampak dari JUM’AT KLIWON..?? Heheeheeeee………

    Sukses slalu, rahayu…
    Jayadanjayalahblogdongbudpadepokanmbelgedez…
    Majulahdanjayalahnusantaramerahputihibupertiwi…..

    1. Wakakakkk…..
      Busyet…. kopi yang sempat diteguk sampai muncrat membasahi keybord karena Ini baca tulisan Kang Pejalan, Dari mana datangnya ide joke semacam itu Kang?

      Kalau sering2 baca tulisan komentar model gini, bisa awet tua nih…..

    2. @ PEJALAN,

      Prank wetan apa prank kulon?? :mrgreen: … he he he…

      @ Wager,

      Maksutnya bukan fisiknya mbah, tapi lebih ke hak-hak sipilnya 🙂 …

      Sudah bukan rahasia lagi, kaum minoritas di kebiri hak2nya, di mata hukum mereka tak lebih hanya sekedar bisa menyambung hidup saja, sekali lagi di anak tirikan di negri sendiri.

    1. Bukti bahwa…Islam itu tidak …satu…Banyak orang Islam yang se…pendapat dengan Pak Ustad ini …Oom. kalau saya mau …share, alamat nya…apa / mana ?

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s