Agamanya Apa Mbah ?

Tulisan Tidak Penting

DONGBUD. Wage Rahardjo. Hari ini saya ingin menulis topik yang sangat tidak penting yaitu tentang “agama saya”. Ya, agama saya, bukan agama dalam bahasan umum. Tulisan yang lebih lebih cocok diposting di facebook ketimbang diblog. Namun ada beberapa alasan yang membuat saya tetap ngotot untuk menuliskannya disini.

Penyebabnya adalah beberapa tudingan gencar belakangan ini yang “menuduh” saya beragama Islam. Saya sih senang-senang saja serasa dapat hidayah. Cuma… ya itu, tidak enak dengan para sahabat muslim yang pasti akan senyum masam karena harus saudaraan dengan orang koplak seperti saya. Nah, untuk antisipasi tuduhan yang sama mungkin muncul di kemudian hari maka tulisan ini saya buat.

NOTE : Topik agama tidak lama lagi akan segera tamat dan blog ini sepertinya akan saya ubah menjadi blog masak-memasak atau merangkai bunga.

Kembali ke topik. Apa sih agama saya? Bagi warga lama mungkin tahu jawabannya. Namun bagaimana dengan pengunjung baru? Nyaris dipastikan mereka bingung, terjebak dan tersesat sehingga akhirnya membuat kesimpulan sendiri sesuai dengan imajinasi yang ada dikepalanya.

Disaat mereka membaca sepenggal tulisan dengan topik agama Hindu, mereka akan menarik kesimpulan saya beragama Hindu. Disaat membaca tulisan saya dengan topik agama Buddha, mereka tentu akan menyimpulkan saya beragama Buddha. Dan sayapun tidak kaget ketika pernah ada pesan masuk yang menuduh saya sebagai seorang Atheis, gara-gara tulisan saya yang membahas tentang atheis. Entahlah, apa yang terjadi kalau mereka juga membaca tulisan saya tentang LGBT. Mungkin mereka akan menyimpulkan “Oh, Si Koplak Wage itu ternyata seorang homo, penyuka sesama jenis yang beragama Buddha Hindu Atheis”. Hah?!

= Panjang amat. Jadi agamanya Mbah apa dong?

Jujur, saya tidak tahu tahu jawabannya. Saya tidak tahu apa itu agama dan apa acuan yang digunakan? KTP? Apakah agama dinilai dari selembar kartu bernama KTP? Acuan yang lebih benar mungkin penampilan, panjang janggut, warna baju, bentuk kalung, ukuran batu akik atau foto avatar di medsos dll. Namun apakah agama adalah penampilan? Tidak bukan? Berpakaian serba putih bukan berarti orang suci, karena bisa jadi kuntilanak. Jadi acuan yang lebih valid mungkin adalah ritual ibadah yang dijalankan.

Namun acuan terakhir itupun tidak berguna bagi saya. Dulu mungkin rajin ibadah, rajin sembahyang, tapi sekali lagi itu dulu. Sekarang ini, saya nyaris tidak pernah sembahyang tidak pernah pergi ke tempat ibadah. Bahkan saya sendiri tidak ingat, kapan terakhir kali saya melakukannya? Saya sudah lupa cara membuat sesajen, lupa 6 bait mantra puja Tri Sandya. Yang tersisa adalah sesekali masih menyanyikan Gayatri mantra atau Hum Mani Padme Hum, namun itupun bukan dinyanyikan dengan duduk terpekur tapi sambil cuci piring atau sapu halaman…

Sesekali masih berkunjung ke tempat ibadah (kalau pas lagi lewat). Tempat ibadah apa saja yang dekat-dekat rumah. Ya kuil Buddha, kuil Krishna, kuil Shinto atau bahkan Katedral sekalipun. Sembahyang tidak perlu ribet, tapi cukup pakai SLR kamera, mencakupkan tangan mengagumi keindahan arsitekturnya, kemegahannya, kesederhanaanya, kebersihannya ataupun kelezatan hidangan vegetarian yang mereka suguhkan.

Sumpah, saya senang sekali lihat orang taat beragama apalagi disaat lagi khusuk beribadah dan sayapun merasa ikut damai. Ibarat nonton orang menari, enak dilihat tapi ogah kalau diajak gabung apalagi pentas di panggung. Tidak semua orang harus belajar menari bukan? Apalagi sampai wajib membawakan tarian yang sama….

= Jangan ngalor ngidul. Jawab yang jelas. Agama Mbah apa?

Apa ya? Bagi saya, agama tidaklah terlalu penting untuk diributkan. Kalau mau jujur, semua agama sebetulnya adalah sama saja yaitu sama-sama… produk asing. Agama adalah produk peradaban budaya yang hendaknya disikapi dengan lebih bijak. Karena produk budaya jadi ya tidak ada bedanya dengan budaya barat, yang artinya ya diambil sisi baiknya saja atau yang cocok dengan kondisi sendiri. Tidak semua budaya asing itu cocok dan agampun menurut saya adalah sama saja.

Mengkopi budaya asing secara total sampai ke akar-akarnya akan membuat kita kehilangan jati diri. Terasa benar di mata sendiri namun aneh di mata orang lain. Fanatik terhadap agama menurut saya tidak ubahnya seperti orang yang memeluk mobil Toyota dan menganggapnya sebagai agama mobil teknologi leluhur.

= Semakin ngawur aja. Jawab bertele-tele. Jangan bawa-bawa nama Toyota segala. Jawab yang jelas, agama Mbah apa???

Maaf, mbah belum budek, jadi jangan main bentak. Lagian untuk apa sih nanya agama? Apakah Sampean petugas kependudukan atau ormas yang sedang sweeping KTP? Ingat kata-kata bijak Gus Dur, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan Tanya apa agamamu”.

Saya tidak bisa memilih tempat lahir, keluarga, budaya suku dan bahkan juga agama. Kalau dilahirkan di keluarga yang beragama Yahudi maka hampir dipastikan saya juga akan beragama Yahudi, berpikir dan hidup ala Yahudi. Jadi mengapa harus berdebat atau baku hantam karena agama?

= Ok, terserah Mbah aja deh. Aku juga capek nanyanya…

Baiklah, agar tidak ngambek, maka sini mbah sekarang kasih tahu. Agama simbah adalah Animisme sub sekte nyembah pohon. Lha, khan dulu sudah pernah ditulis DISINI: Diary Animisme ?

Mungkin sebagian pembaca ada yang bingung: “Lho, koq?! Jadi selama ini banyak nulis tentang agama Hindu itu artinya apa?”. Tulisan tersebut adalah merupakan balas jasa atau ungkapan terima kasih atas berbagai pengetahuan dan wawasan yang telah diberikan. Dari kecil saya mendapatkan pelajaran agama Hindu dan Buddha jadi ya hanya agama itulah yang saya tahu dan tuliskan.

Semua yang saya tuliskan memuat pengetahuan umum biasa jadi bukan mengajak anak orang agar pindah agama. Lagian mau pindah ke agama mana, wong saya sendiri agamanya tidak jelas? Saat kecil keluarga saya pernah memiliki tradisi merayakan Natal, lengkap dengan pohon natalnya dan saat dewasa saya mengikuti tradisi Shinto. Jadi apa agama saya? Tampaknya tidaklah penting dan juga tidaklah jelas.

Hidup adalah persembahyangan terus menerus, ya cuci piring, sapu halaman, jalan kaki dll. semuanya aktivitas yang dilakukan dengan dedikasi dan tujuan baik adalah ibadah. Veda artinya pengetahuan Jadi, kitab suci versi saya semua pengetahuan, tidak terpaku pada satu kitab yang berisi deretan ayat saja. Buku yang berisi pengetahuan menanam sayur, belajar komputer, masak-memasak ataupun sains adalah kitab suci alias Veda menurut versi saya. Tripitaka artinya tiga keranjang. Itu dulu. Di zaman sekarang saya lebih cocok menggunakan tiga flash disk atau tiga drive disk. Itulah arti kitab suci menurut saya.

PENUTUP :

Bertuhan adalah urusan saya dengan YANG DIATAS, jadi sangat penting, wajib atau mutlak saya miliki. Sedangkan beragama adalah urusan saya dengan masyarakat atau negara, jadi walaupun sebetulnya menganggap tidak penting, yeah… terpaksa sedikit mengalah dengan jalan “sedikit beragama”.

Sedikit beragama yang saya maksud adalah :

  • Saya tidak menjalankan ajaran dan ritualnya secara penuh 100% persis seperti yang telah ditradisikan. Tidak terpaku pada text kitab suci apalagi terjemahan resminya.
  • Kebaikan, humanisme dll bisa ditemukan atau dipelajar dari mana saja, teman, cerita film, komik, cerita wayang, binatang ataupun dari agama lain. Demikian juga sebaliknya, kejahatan, kebejatan bisa ditemukan dari mana saja baik dari komunitas agama sendiri ataupun dari agama lain. Jadi berpikir realistis dan mengedepankan logika dan humanisme adalah penting. Hindari prilaku mabuk baik minuman keras ataupun mabuk dogma.
  • Kitab suciKu adalah Veda. Weda yang saya maksudkan bukan Weda ala para pendeta, tapi hanya sekedar meminjam isitalh saja, lebih menunjuk ke maknanya yaitu PENGETAHUAN. Jadi semua pengetahuan, pelajaran, sains, ilmu bercocok tanam, ilmu komputer dll adalah Weda versi saya. Aturan tidak tertulis, Hindu melarang umat biasa membaca Weda. Jadi ya udah, saya juga tidak minat baca karena isinya cuma tulisan doang.
  • Berusaha belajar lebih terbuka dan tidak segan belajar dari rekan beragama lain, dari masyarakat negeri lain, termasuk dari negeri yang dianggap tidak beragama sekalipun. Nah, itulah makna “sedikit beragama” menurut saya.

Beragama menurut saya tujuan utamanya adalah agar hati damai, jiwa tenang, menumbuhkan welas asih atau bahasa abal-abalnya “agar hati senang”. Kalau hati sudah terasa senang dan nyaman maka LABEL AGAMA menjadi tidak diperlukan lagi.

=  Maaf tadi mbah nyebut-nyebut kata YANG DIATAS. Itu maksudnya apa? Tokek, cicak atau atap rumah?

Yeah… Terserah Sampean aja deh. Demikianlah sekilas tulisan tidak penting tentang agama saya.

Wage Rahardjo

Getsuyobi, 26 Oktober 2015

………………..

Blog ini ditulis di wordpress gratisan (bikinnya gratis). Karena gratisan maka akan muncul iklan di bagian bawah artikel. Iklan ditampilkan secara acak (kadang muncul kadang tidak). Iklan tersebut adalah milik wordpress, bukan milik si penulis blog, jadi BIAR BANYAK YANG LIHAT / KLIK TETAP NDAK JADI DUIT. Info lebih jelas, silakan tanya pengguna wordpress lainnya.

Advertisements

9 thoughts on “Agamanya Apa Mbah ?

    1. @ BRAM,
      Selamat pagi. “Sedikit Beragama”, LUAR BIASA. Pilihan kata yang sangat cerdas, menarik bin menggelitik. Mbah kesengsem dengan gaya bahasanya dan mohon izin untuk menggunakannya. Tulisan di atas sudah diedit dengan tambahan kata…. sedikit beragama.

      KTP? Yeah… pakai yang sudah ada saja, ngikut pakem kelahiran artinya agama ditulis berdasarkan dikeluarga mana kita dilahirkan.

  1. Kayaknya KTP yg baru ini boleh gak nyantumin agama mbah….
    Cuman biasanya yg rewel itu malah petugas kelurahannya.
    Begitu kita ngomong agama ‘gak usah d cantumin pak’ dengan tiba2 si petugas menjadi pensiar agama scra otomatis.
    Entah apa yg dia kibulkan dengan imajinasinya…
    Akhirnya aq bilang ‘yo sak karepmu’
    Wakakakakaaa

    Reply wager: Kibulan imajinasi. Nah, ada lagi gaya bahasa yang lebih menarik. Udah saya tandai Kang, dengan huruf tebal.

  2. Agama sang pencipta
    Agama menciptakan Tuhan dan manusia ,
    Jika kamu bukan ciptaan dari agama (sensor) maka kamu tidak layak hidup di bumi .
    Tuhan dan manusia menyembah agama .
    Peluklah agama (sensor) maka Tuhan akan membenarkan semua perilakumu .
    Tuhan hanya hakim kok , yang bertugas menentukan manusia masuk surga atau neraka . Semua tergantung agama yang kamu anut itu apa.
    Salam Jancuk

    Reply wage :
    Agama menciptakan Tuhan dan manusia. ha…ha…ha…
    Untung Akang menulisnya di blog abal-abal. Kalau di blog lain, mungkin sudah digebukin rame-rame.

  3. Ini orang Yahudi koq bisa sesat gini sih?

    Status menarik dari Mark Zuckerberg:
    I had the opportunity to visit Wild Goose Pagoda in Xi’an and offer a prayer for peace and health for the world and for my family. Priscilla is Buddhist and asked me to offer a prayer from her as well.

    Buddhism is an amazing religion and philosophy, and I have been learning more about it over time. I hope to continue understanding the faith more deeply.

  4. Kalau kata Bob Sadino, kalau sudah berhadapan dengan duit, agama semua orang sama. Jadi sudahlah, nggak perlu dipermasalahkan lagi yang kayak begini, sibuk aja masing-masing cari duit, yang penting pas mati anak istri bisa makan. Ya toh? *kabur*

    1. Salam Mas Arkan,

      Kalau mau jujur, memang seperti itulah kenyataannya. “Kalau berhadapan dengan duit, agama semua orang adalah sama”.

      Apapun agamanya bukanlah hal penting bagi saya, cuma…. bagi sebagion orang lain kadang sangat penting bahkan sering menanyakannya, jadi ya terpaksa harus dituliskan.

      Sebagian besar penghuni blog abal2 ini tampaknya tidak menganggap penting tentang “agama saya”, tapi sebagian kecil menganggapnya penting. Jadi ya sebagai jalan tengah, terpaksa dituliskan.

      Eniwe, blognya Anda sangat bagus dan artikel2nya sangat cerdas, apalagi cerpen2nya. Maklum saja, anak sastra. Bagi rekan yang tertarik silakan klik link berikut:
      http://aethrium.wordpress.com/

    2. Salam Bang ARKAN.

      Wakakakkk…..Benar, namun kata sesat memiliki dua efek yaitu bikin penasaran atau sebaliknya bikin pengunjung malah lari terbirit birit, begitu melihat papan nama SESAT dalam hururf merah.

      Pengunjung baik-baik yang cuma penasaran, biasanya tidak akan tahan berlama-lama diblog ini. Jadi yang tersisa hanyalah golongan bandel bin koplak doang. Beliau2 bahkan betah ngumpul bertahun2 di blog ini. Sesat khan?

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s