INDONESIA: Negara Agama atau Negara Agraris ?

 sawahPenulis: Wage Rahardjo

Indonesia identik dengan istilah negara agraris dan negara maritim. Namun, sekarang istilah tersebut tak lagi tepat, justru Indonesia ini adalah negara agama. Kenapa? “Ini bisa dilihat dari perhatian pemerintah memberikan anggaran ke sektor agama yang jauh lebih besar dibandingkan di sektor pertanian bahkan di sektor kelautan dan perikanan,” ujar Koordinator Nasional untuk Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko dalam dialog presfektif Indonesia di Gedung DPD, Jumat (27/7/2012).

Potongan tulisan di atas saya ambil dari sumber: detik.com terbitan Jumat, 27/07/2012 16:06 WIB. Entah data yang disampaikan narasumber di atas benar atau tidak, yang jelas kalau melihat sekilas perbandingan berita di media massa antara topik  agama dan pertanian jelas terasa sangat  timpang.  Walaupun lingkup bahasan (pertanian) digabung dengan peternakan dan perikanan-sekalipun, porsinya tetap saja kecil. Ceramah agama ataupun acara mimbar agama bisa ditemukan secara rutin di televisi, namun mimbar pertanian atau penyuluhan perikanan? Hmmm…nyaris tidak ada. Ah, jaman gini masih ngomongin pertanian dan perikanan? Kotor, bau lumpur dan amis…..

Saya kadang tidak habis pikir, apakah perut lapar kekurangan pangan bisa dibuat kenyang dengan mendengarkan ceramah agama? Ah, pendapat yang keterlaluan tentu saja karena seoalah mengecilkan peran agama. Bukankah kondisi moral masyarakat di negeri ini sekarang sedang berada dalam titik nadir sehingga perlu diprioritaskan? Lagipula bukankah stok kebutuhan pangan saat ini masih tersedia dalam jumlah cukup? Entah cukup karena didapat dari swasembada atau hasil import yang jelas masih cukup adalah cukup……… :mrgreen:

Ah, nggak tahulah. Yang jelas, saya hanya bisa berharap, kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan sektor agama dengan mengalokasikan dana yang begitu besar adalah benar. Mungkin saja dengan besarnya alokasi dana untuk depteman agama ini maka  sektor pertanian, peternakan dan perikanan akan meningkat dengan sendirinya, konflik bernuansa agama menjadi hilang, korupsi tidak ada lagi,  negeri ini akan menjadi semakin aman dan makmur,   hujan turun sesuai musim dan panen melimpah ruah…….  Entah  nyambung atau tidak, yang jelas hanya inilah yang bisa saya lakukan yaitu berharap dan berharap………

wage-sign-rahardjo

Referensi:

Sumber image: klosobedah

Advertisements

15 thoughts on “INDONESIA: Negara Agama atau Negara Agraris ?

  1. ..karena anggaran pertanian yang sangat kecil, kalah sama anggaran untuk dept. agama.
    ——————————————————–
    wauw, mungkin kah banyak masyarakat doyan berdelusi..eh..beragama (juga bertuhan/menyembah berhala) ?.
    apalagi jika sering berharap setelah mampus akan bernasib lebih baik,
    ..jangankan dah mampus, wong saat tidur nyenyak saja tak dapat mengalami dan merasakan nasib (misal lagi kaya atau lagi miskin).

    sementara yg lain telah sadar bahwa tak ada miracle.
    kalo hidup mau bernasib lebih baik, yaaah mau tak mau.. sebagai komoditi/bisnisnya krn manusia ternyata lebih membutuhkan… (hasil) pertanian, pertambangan, dstnya.

    suatu kondisi yg akan sangat memprihatinkan jika harga komoditi sembako/pertanian atau kebutuhan primer melambung tak terjangkau.

    di planet ini, sanksi (total) embargo dapat berkesan horor bagi negara yg tak mampu bertani scr mumpuni/memenuhi kebutuhannya sendiri dgn harga terjangkau bagi seluruh warganya.

    btw.. sbg contoh,
    UEA setelah diprediksi SDA/hasil tambangnya akan habis, investasi apa yg mereka lakukan sementara wilayahnya tak cocok utk pertanian ?. apakah mereka memprioritas utamakan dan menambah jumlah investasi di bidang agama?.

    (^_^)v

    Komentar ini dipindah dari “Warung Kopi” oleh wager

  2. Betul itu Mbah. Ibarat menanam rumput tak mungkin tumbuh padi. Namun jika menanam padi maka rumput pun akan ikut tumbuh. Jika padi adalah “ajaran agama yang benar”, maka yang lainnya otomatis akan mengikutinya. Jika manusia lebih mengejar akhirat, maka secara otomatis dunia akan mengikutinya. Sebab, sektor itu hanyalah sebuah sarana, dan yang paling menentukan itu justru SDM-nya.

  3. …jika menanam padi maka RUMPUT pun AKAN ikut tumbuh..
    —————————–
    tdk tertutup kemungkinan, rumput itu dapat disebut sebagai gulma,

    http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma

    FYI, jika sy sebagai pengusaha serta petani padi, tentu saja sy akan mengalokasikan dana/termasuk investasi utk membayar teknologi/solusi mereduksi ato bahkan mematikan gulma. (^_^)v

    bukankah semakin banyak hasil panen padi, maka dapat menurunkan harga jual beras di pasaran lokal.
    kalopun stok beras produksi lokal msh lebih, maka diekspor kelebihannya agar dapat menambah devisa negara.

    1. semoga pengusaha padi TIDAK ADA yang juga MAMPU dgn formula/tehnik yg diusahakannya sendiri (“singel-handed”) utk mengatasi gulma, sehingga tetap ada LAPANGAN KERJA bagi yg lain utk mengatasi gulma.

      ya, lapangan kerja dgn tempo/masa kontrak pegawai yg sesingkat2nya. (^_^)v

    2. teknologi/solusi mereduksi ato bahkan mematikan gulma itu adalah lapangan kerja. Jangan berpikir mengatasi gulma hanya dengan mencabutinya saja. Bayangkan jika ada pabrik pembuat robot pembersih gulma, berapa orang yang bisa bekerja untuk membuatnya. Apa iya pegawai yang bekerja di pabrik tersebut akan dikontrak sesingkat-singkatnya?

      Inti dari pemikiran saya adalah…. dengan kondisi sekarang ini, jangan terlalu berharap banyak sama yang namanya anggaran. Siapa saja yang memang mempunyai kemampuan lebih, sebaiknya mau membantu dalam sektor apapun. Dan hanya orang-orang yang mengerti dan mau mengamalkan ajaran agamalah yang bisa melakukan hal demikian. Yaitu ajaran untuk mau saling tolong-menolong, mau bersedekah, peduli kepada sesama, dll. Intinya adalah menciptakan SDM yang mempunyai kesadaran, yaitu mempunyai kesadaran untuk apa ia diciptakan sebagai manusia. Dan SDM yang telah mempunyai kesadaran tetap akan berusaha memanam padi biarpun ia tahu besok akan kiamat.

  4. Ibarat menanam rumput tak mungkin tumbuh padi. Namun jika menanam padi maka rumput pun akan ikut tumbuh. Jika padi adalah “ajaran agama yang benar”, maka yang lainnya otomatis akan mengikutinya. Jika manusia lebih mengejar akhirat, maka secara otomatis dunia akan mengikutinya. Sebab, sektor itu hanyalah sebuah sarana, dan yang paling menentukan itu justru SDM-nya.
    ============================
    top markotoip… cieesss…poll

  5. I love you too mbah…

    antara agama, negara dan keperawanan…

    memilih tidak beragama/ ateis?… siapa takut?!…
    lebih memilih negara agraris?… siapa takut?!…
    tidak perawan sejak lahir?… siapa takut?!…

    semua berani karena hanya takut abal-abal :mrgreen:…

  6. bunga-bunga nusantara itu memanggil dengan gemerincing
    satu sorot cahaya merekah bagai bunga kuncup mengembang laksana wijaya kusuma
    entah di mana itu, istana cahaya solomon berpendar.

    inikah yang dimaksudkan itu ? kunci solomon palace (istana cahaya sulaiman )

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s