Kisah Sunan Panggung dan Suluk Malang Sumirang

#CeritaRakyat

Penulis : Kang Lesungpipiet 

tropen23443Cuaca cerah, langit bertabur bintang sepanjang mata mengarah, rembulanpun sedang berada dalam puncaknya, purnama sempurna. Angin laut berhembus halus menerpa lembut seorang lelaki yang duduk diam di atas pasir pantai, Tegal Utara. Lelaki itu hampir menginjak usia ke-40 Tahun, kulitnya sawo matang, mempunyai wajah yang tampan dan cerah, secerah langit malam ini. Ia memakai udeng, surjan, dan celana hitam, pakaian khas rakyat Jawa pada umumnya. Dialah Drajat, yang lebih di kenal masyarakat sebagai Sunan Panggung.

Ia sedang berada dalam masa pengasingan dari dewan wali karena telah dinilai gagal sebagai pengawas yang dikirim Demak Bintoro ke Pengging, untuk menghentikan sepak terjang Syekh Siti Djenar dan Adipati Pengging, bukannya menghentikan, tapi Sunan Panggung malah menentang Dewan Wali dan mengikuti ajaran Syekh Siti Djenar. Membuat ia harus dihukum dengan diasingkan.

Sudah malam ke-7 ia tafakur di pantai ini, mencari petunjuk Tuhan, tentang kesejatian. Hampir tengah malam ketika rembulan sampai pada ubun-ubun kepala, dari langit muncul cahaya putih keemasan, serupa bintang jatuh, melesat dengan cepat menerpa Sunan Panggung, tubuhnya sekejap bercahaya. Sang Sunan membuka mata, ia tersenyum lalu berdiri mengangkat tangannya, mengucap syukur dan berdoa.

Dari kedua telapak tangannya, muncul cahaya yang bermanifesti menjadi seekor anjing hitam dan anjing merah. Itulah wujud nafsu ‘luwamah’ dan ‘amarah’ yang sudah beliau keluarkan dari tubuh wadagnya. Anjing hitam diberi nama ‘Iman’ dan anjing merah diberi nama ‘Tauhid’. Kemanapun Sunan Panggung pergi, kedua anjing tersebut selalu mengikutinya, duduk di belakang ketika Sang Sunan sedang sholat atau membaca Al-Qur’an.

Tingkah laku yang terkesan nganeh-nganehi itu segera menjadi bahan pembicaraan orang banyak, membuat Kesultanan Demak Bintoro kembali gempar. Dewan Wali segera berembug, untuk menjatuhkan hukuman kepada Sunan Panggung karena telah dinilai sesat, mengajarkan ilmu sejati dengan meninggalkan syariat dan menjalankan sholat dhaim yaitu sholat di dalam bathin. Keputusan Dewan Wali sudah bulat, Sunan Panggung dijatuhi hukuman mati.

Utusan dari Demak Bintoro segera dikirim untuk menjemput Sunan Panggung. Setelah sampai di Tegal, Sunan Bonang mengutarakan maksudnya bahwa Dewan telah memutuskan membawa Sunan Panggung ke Demak untuk menjalani hukuman mati, yaitu dengan cara dibakar dalam Tumangan (api unggun). Sunan Panggung tidaklah gentar sekalipun karena semua itu adalah kehendak Tuhan. Sunan mengajukan syarat agar ada yang memanggul kedua anjingnya karena anjingnya sedang sakit. Permintaan itu disanggupi Sunan Bonang yang semakin tidak mengerti tingkah Sunan Panggung. Berangkatlah rombongan itu menuju Kesultanan Demak Bintoro.

Tahun 1452 disaksikan oleh Sultan Demak Bintoro, Dewan Wali, abdi dalem dan lapisan masyarakat Demak Bintoro. Sunan Panggung dieksekusi. Kobaran api menyala-nyala dalam tumpukan kayu yang menggunung. Sebelum masuk kedalam kobaran api itu, Sunan Panggung meminta restu kepada Sultan Demak untuk disediakan nasi tumpeng. Permintaan itu dikabulkan, akan tetapi setelah nasi tumpeng diberikan, Sunan Panggung melemparkannya kedalam api yang menjilat-jilat udara, serta merta kedua anjing piaraannya memburu masuk kedalam Tumangan tersebut.

Ajaib! Kobaran api yang membara tersebut padam seketika, dan kedua anjing tersebut keluar dari tumpukan kayu tanpa terbakar sama sekali. Seluruh yang hadir menjadi terkesima dan masygul. Ditengah kemasygulan itu, Sultan Demak berkata “Duh ta kakang, sampun nyumerepi ing keh lampah elok, nanging maksih kirang utamine lamun mboten andhika pribadi kang umanjing agni, kirang antepipun dene among asusilih kirik lan tarumpah karo” (Duh kakang, sudah kami saksikan peristiwa yang masygul, akan tetapi masih belum sempurna kalau bukan kakang sendiri yang masuk kedalam kobaran api, kurang meyakinkan jika hanya diganti oleh anjing dan nasi tumpeng saja)

Dengan tenang Sunan Panggung berkata “Duh Sultan sampun kuatir, manira pribadi kang umanjing latu” (Duh Paduka Sultan jangan khawatir, saya sendiri akan masuk kedalam bara api) Sambil menunggu kembali api dinyalakan Sunan Panggung menulis sebuah pedoman agar ilmu yang sudah ia peroleh dari Tuhan dalam perjalanan hidupnya dapat berguna bagi masyarakat banyak. Setelah api kembali berkobar, segera Sunan Panggung masuk kedalam Tumangan tersebut diikuti kedua anjingnya. Setelah api padam, musnahlah jasad Sunan Panggung dan kedua anjingnya. Meninggalkan sebuah suluk (pedoman) yang belakangan dikenal dengan nama Suluk Malang Sumirang.

Maksud dari suluk tersebut adalah suatu peringatan kepada manusia agar jangan terburu-buru mengambil keputusan terhadap seseorang yang nampaknya menyalahi segala hukum (Malang Sumirang) dan tidak menurut syariat sebagai kafir dan kufur. Sebab bisa jadi orang tersebut pada hakekatnya lebih berdekatan dengan Tuhan. Tuhanlah Yang Maha tahu tentang kadar keimanan dan ketauhidan makhluknya.

Begitulah sepenggal kisah Syekh Abdulrahman yang lebih dikenal sebagai Sunan Panggung, Sunan Drajat, Sunan Geseng maupun Mbah Panggung. Makam atau petilasannya ada di Kelurahan Panggung, Kota Tegal. Yang dikenal sebagai Kawasan Keputihan dan daerah Pamali bagi pentas seni wayang. Konon kabarnya Sunan Panggung sangat tidak menyukai Wayang. Sudah bertahun-tahun pada malam-malam tertentu makamnya dipenuhi peziarah yang ‘ngalab berkah’, bukan hanya dari kalangan masyarakat biasa tapi juga kalangan penjabat dari dalam maupun luar kota.

Suluknya dapat dibaca di https://alangalangkumitir.wordpress.com/2008/08/10/suluk-malang-sumirang/

6 thoughts on “Kisah Sunan Panggung dan Suluk Malang Sumirang

  1. Trimakasih.
    sebuah kisah yg menarik sekaligus mendorong, Paman cuma mo nanya nih, “Sunan Panggung tdk menyukai sekali wayang” apkh artinya beliau membenci?
    Kl iya adakah kisah lbh lanjut kenapa bgtu?
    Oh ya sedikit nganeh2i namanya Sunan Panggung tp tdk menyukai sekali wayang, apakah beliau lbh suka Dangdut?

    Paman.

    1. “….apakah beliau lebih sukA dangdut?””

      Wakakaakkk……
      Harap dimaklumi saja deh Paman. khan jaman itu belum pelajaran tentang nasionalisme dan cinta budaya lokal. Kasusnya mirip dengan konsep mencitai alam, melindungi binatang dari kepunahan dan sejenisnya. Dulu, macan diBali atau Tasmania diburu hingga punah, Maklum saja, zaman itu konsep pelestarian (sepertinya) belum populer.

      Yang lalu biarlah berlalu, nah sekarang yang memprihatinkan adalah golongan muda yang tidak “membenci” wayang atau budaya lokal. Tidak suka sepertinya masih bisa diterima karena tiap orang pasti ada yang disukai atau tidak disukai. Tapi kalau membenci, itu mah parah…….

      Terlepas dari polmik wayang-nya, cerita rakyat yang ditulis ulang oleh Kang Lesungpipiet di atas sangat bagus, terlebih lagi dengan kepiwaian Kang Lesung merangkai kata. Nuwun untuk Kang Lesung

    2. “Sunan Panggung tdk menyukai sekali wayang” apkh artinya beliau membenci?
      ~~ sepertinya tidak

      Kl iya adakah kisah lbh lanjut kenapa bgtu?
      ~~ saya rasa tidak perlu saya jawab tentang seseorang yang suka atau tidak suka terhadap suatu hal

      Oh ya sedikit nganeh2i namanya Sunan Panggung tp tdk menyukai sekali wayang, apakah beliau lbh suka Dangdut?
      ~~ tidak nganeh2i sebenarnya paman, hanya saja panggung itu nama daerah simbah tinggal, mungkin klo nama daerahnya sepunggur ya jadi mbah sepunggur, bukan mbah panggung, begitu paman.

      saya sebenarnya ingin menghilangkan paragraf mengenai ketidaksukaan pada wayang, tapi rasanya ada dorongan yang bilang ndak apa2 biarkan saja begitu.. nah dari komentar paman saya sedikit paham, bahwa itu berkaitan dengan inti cerita tersebut. Simbah panggung ndak pernah mengajak ayok kita perbaiki jalan, simbah ujug2 ngambil batu sama pasir trus urug2 jalan yang belubang, nah warga sendiri berbondongbondong mengikuti simbah dll.
      tenang saja paman walaupun simbah panggung tidak suka wayang tp tidak serta merta warga tegal khususnya warga panggung alergi nonton wayang, warga turun temurun menghormati simbah dengan tidak mengadakan pentas wayang di daerah panggung begitu juga dalang2 seperti ki enthus susmono, ki pembarep maupun pendahulu mereka menghormati dengan tidak mengadakan pentas di daerah tsb dan sekitarannya sedikit..

      mohon maaf say baru balas, beberapa waktu saya memikirkan jawabannya..

      rahayu wibawa mukti

  2. ampun enjih..
    derek tanglet..

    Sunan Panggung Sunan Drajat Sunan Geseng apakah satu orang dalam beberapa nama ??

    Makam nya Sunan Geseng banyak donk yah, soalnya di Kediri juga ada. Tertulis MAKAM SUNAN GESENG tidak tertulis PATILASAN. Ada juga di Jogja atau di Pasuruan. Sunan Geseng kan ceritanya murid dari Sunan Kalijaga dan katanya lagi Si Sunan Kalijaga lah yang mempopulerkan budaya Wayang dan jaranan. Maka dari itu tarian cewek kuda lumping atau jaranan itu seperti gaya nya ketika berwudlu.

    Sepertinya mencintai tidak harus menyukai.
    Seperti cinta saya kepada Gusti ALLAH tanpa dasar rasa suka too.
    Seperti cinta saya kepada pujaan hati saya, meskipun doi sering buat saya sebel untuk saat ini..hehehe..saya masih mencintai buruk dan baiknya.

    hehehe..
    mugi manfaat..
    barokALLAH..

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s