Sekolah Pawang Hujan ?!

images (1)Penulis: Wage Rahardjo – Pawang  adalah kata yang mungkin sudah akrab kita dengar.  Kata ini biasanya digunakan pada seseorang yang mempunyai keahlian menjinakkan atau melatih binatang seperti gajah, ular dll. Menurut kamus KBBI, pawang adalah orang yang mempunyai keahlian istimewa yang berkaitan dengan ilmu gaib dan tidak melulu harus berhubungan dengan binatang. Nah, mumpung sedang musim hujan, maka bulan ini kita khusus membahas tentang topik unik yaitu pawang hujan.

Profesi yang unik dan langka

Pawang hujan adalah merupakan profesi unik dan langka. Kenapa saya sebut langka? Jawabannya karena profesi hanya muncul dikala kala musim……… hujan. Semprul ! Pada even-even atau hajatan besar yang berlangsung di musim hujan, seperti misalnya perayaan tahun baru di Jakarta tahun lalu diberitakan  melibatkan sejumlah pawang hujan.

Di daerah Bali, pawang hujan dikenal dengan nama “Tukang Terang” dan proses menghentikan hujan disebut “Nerang”. Aktivitas ini umum ditemukan pada setiap prosesi upacaya budaya di tempat ibadah (pura) di kala musim hujan dan umumnya tanpa bayaran alias gratis. Belakangan beberapa even pariwisata seperti di hotel, pertunjukkan atau wedding secara rutin juga melibatkan para tukang terang (pawang hujan). Nah, kalau yang ini ada tarif-nya alias tidak gratis.  Kebetulan saya dulu kerja di hotel jadi tahu persis kalau payment khusus untuk pembayaran pawang hujan yang disebut dengan nama “rain stopper“.  Artikel berbahasa Inggris tentang Bali juga sering mengulas topik  unik ini.

Profesi pawang hujan juga tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di negara lain.  Di Kolombia contohnya, penutupan Piala Dunia FIFA U-20 di Kolombia 2011 melbatkan jasa pawang hujan yang akhirnya menuai kontrofersi dan penyelidikan karena dianggap sebagai pengeluaran tidak wajar, tidak masuk akal dan sia-sia.

Anda percaya ?

Apakah saya percaya bahwa pawang hujan bisa menghentikan atau memindahkan hujan? Hmmmm…..Entahlah. Di era modern sekarang, jasa pawang hujan masih digunakan oleh sebagian orang di masyarakat. Kenapa kita tidak mencoba berpikir bahwa mungkin saja keahlian unik tersebut benar ada?   

Nah, sekarang kita mencoba berandai-andai lebih jauh. Andai ilmu semacam ini benar ada, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Misalnya sebagai solusi alternatif penanggulangan banjir.  Uang miliaran rupiah  untuk study banding penanggulangan banjir ke keluar negeri bisa dialihkan untuk  pendirian sekolah pawang hujan atau Fakultas Pawang Hujan untuk tingkat universitas. Nantinya ilmu ini bukan hanya sekedar memindahkan hujan dari satu desa ke desa lain tapi juga memindahkannya ke negeri lain, daerah gurun Arab atau sekalian “ditumpahkan seluruhnya” ke negara Amerika atau  Israel. Nah, rasain lo!

Nah, hebat bukan? Nanti dijamin negara kita akan menjadi terkenal, disegani dan juga sekaligus ditakuti oleh negara lain. Nanti ilmunya bisa dijual atau diekspor ke negara lain. Pakar dan mahasiswa asing juga berdatangan untuk belajar. Ini artinya devisa alias duit yang melimpah. Maklum, siMbah ada bibit kapitalisnya…… 

  • Wakakakkk… ini serius atau gimana Mbah?

Asem!!! Ini serius Nak. Sampean kira ini blog abal?   

Wager

Referensi:

Keterangan gambar : Ritual budaya suku Inca di Bolivia (gambar hanya ilustrasi, tidak berhubungan dengan isi). Image source: unknown.

33 thoughts on “Sekolah Pawang Hujan ?!

  1. Dukun Rangkeng,
    Pawang Hujan Versi Betawi

    TEMPO.CO, Jakarta – Pergantian tahun dari 2013 ke 2014 tinggal hitungan jam. Masyarakat Jakarta dan sekitarnya menyemut sepanjang Bunderan Hotel Indonesia hingga Monumen Nasional. Mereka, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, larut dalam pesta bertajuk Jakarta Night Festival.

    Agar pesta tutup tahun berjalan lancar, Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta berupaya menghalau hujan dengan menggunakan jasa pawang hujan. Apakah pawang hujan merupakan tradisi Betawi sejak berabad-abad silam? Apakah istilah pawanag hujan zaman baeheula atau masa lalu?

    Budayawan dan ahli sejarah Betawi dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan penggunaan pawang hujan oleh para pejabat pemerintah dan masyarakat Betawi bukanlah hal aneh. “Zaman baheula, istilahnya Dukun Rangkeng,” kata Yahya kepada Tempo, Selasa malam, 31 Desember 2013.

    “Dukun Rangkeng ini selalu ada di setiap hajatan orang Betawi,” ujar Yahya. “Hajat apapun, seperti pernikahan, sunatan, syukuran rumah baru, pasti Dukun Rangkeng dilibatkan.” Sosok dukun ini, menurut dia, sudah menjadi semacam kesatuan dengan setiap upacara adat Betawi.

    Alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia itu menjelaskan, pawang hujan disebut sebagai Dukun Rangkeng, karena saat menjalankan ritualnya, sang dukun duduk di dalam sebuah kerangkeng bambu. “Dia biasanya melakukan ritual di dalam kamar yang ditutup rapat.”
    Adapun dalam ritual itu, si empunya hajat harus menyajikan sesajen seperti kopi pahit dan kopi manis, kembang turuh rupa, telur ayam kampung, aneka jajanan pasar, hingga pendupaan.

    Selama melakukan ritual, ujar Yahya, semua sesajen tersebut disimpan di dalam kerangkeng bersama sang dukun yang merapalkan mantra. Karena itu pula, Dukun Rangkeng punya nama lain, yakni Dukun Duduk Sajen.

    “Masyarakat Betawi percaya Dukun Rangkeng punya kemampuan memindahkan energi hujan dari satu tempat ke tempat lain,” Yahya menuturkan. Namun tidak hanya itu, Dukun Rangkeng pun dianggap mampu menarik minat warga agar datang ke lokasi hajatan.

    “Jadi, selain untuk menolak turunnya hujan, Dukun Rangkeng disewa orang yang mengadakan hajat untuk menarik warga agar datang meramaikan pesta,” kata Yahya.

    Hingga kini, Dukun Rangkeng masih digunakan oleh masyarakat Betawi. “Bahkan kami kalau mau bikin acara, tetap menghubungi orang-orang pintar yang punya kemampuan itu.” Menurut yahya, Jakarta cukup beruntung, karena masih memiliki beberapa Dukun Rangkeng yang masih tersisa.

    Sumber : Tempo.com>

    1. Sepertinya topiknya tidak menarik dan susah untuk dikomentari. Namun berhubung lagi musim hujan dan agar nyambung dengan tulisan sebelumnya maka ditayangkan ala khadarnya.

    2. Weehh…. yg sebagus ini level ala kadarnya…. hmmm… bagaimana ya yg level bukan ala kadar ya 🙄
      Tentang pawang hujan… barangkali tambah menarik bila ditambahi “cara/laku-nya”.
      Nuwun kang Wager.

    3. Maunya sih akan dilengkapi dengan cara ritualnya serta photonya Kang. Namun apa daya badan tak sampai. Akan coba kontak teman dulu Kang ……. Nuwun atas masukkannya.

      Tulisan bagus : informatif, isinya bisanya sedikit panjang, terstruktur, ada referensinya, ada riset lapangannya dan kalau dijual laku jadi…….duit.

      Tulissan ala khadar: pendek, nanggung, kagak jelas juntrungnya, tidak tahu ngebahas apa dan …….. kejar tayang. Tanggal 15 harus posting tulisan jadinya ya asal posting. Sudah terlanjur pamer judul dulu padahal tulisan belum dibuat jadinya ya asal tulis.

  2. Oom Wage, Paman Dalbo,Mas js,Mas ABR, Jeng Dewi Murni, dan saudara sekalian,

    Saya percaya ilmu untuk menolak hujan – meskipun sementara – ada. Saya jadi ingat seorang di Sumatra yang bisa memanggil … harimau yg telah memangsa orang. Beliau cerita (di koran) beliau memakai mantra yang ada di Al Quran. Saya percaya beliau tidak bohong.

    Di Nusantara banyak ilmu yang …aneh2. (Termasuk santet yg terkenal -jahat- itu.) Cuma, ‘ilmu2’ ini lain dengan ilmu ‘positif’ yg bisa dipelajari di bangku sekolah. Saya pernah menulis ,di blog mana saya lupa, mengenai banyaknya orang di Nusantara yang berilmu … kebal, tapi tetap saja kita bisa dijajah bangsa2 Belanda dan Jepang ! …
    Ada sementara orang di Nusantara yang bekerjasama dengan … setan – thuyul – untuk cari duit (banyak).. Saya belum pernah melihat sendiri si thuyul itu, tapi Mas ABR atau Mas JS mungkin bisa dan tahu.

    ilmu2 aneh memang banyak di Nusantara. Tapi, ke ‘guna’ an ilmu2 itu … terbatas … Bagi yang percaya dan pernah lihat dengan mata kepala sendiri, ya bisa didiskusikan. Bagi yang tidak ini cuma …omong kosong .

    Ngomong2, banyak orang di dunia yang percaya Tuhan pernah mengirim wakil2 Nya di Timteng , tapi tidak, misalnya, di Australia atau Selandia Baru kepada orang2 Aborijin atau Maori disana. Tapi, ini lain topik.

    Intinya, menurut saya, bukan hanya blog ini saja yang abal2. Hidup pun bisa abal2, mbelgedes, Yang kita percaya ada, ya memang ada, yang tidak, mungkin memang tidak.

    slumanslumunslametslumanslumunslamet (-:

    1. @Kang BALA,
      Ah, masak sih kagak pernah lihat tuyul? Khan sering muncul di TV? wakakakkk…..

      Tuyul itu anak kecil dan gundul. Ah itu cerita lama Kang. Sekarang tuyul seudah besar dan gondrong atau bahkan berambut…………….uban. (ah, maaf kalau ada yang tersindir karena nyebtut2 kata uban).

    2. Rahayu Om Baldew,

      Kalau memang benar simbah akan mengirim kontingen pawang hujan ke luar negri, ke luar planet dan luar akhirat, maka padhepokan Dongbud sepertinya bisa membuka pendaftaran bagi sukarelawannya 😉 …

  3. Salam Kang Bala(ne)dewa, Kang Wager, Cak JS, Kang Nur, Ning Dewi and all.
    Kalau ritual mendatangkan hujan di Jatim yaitu acara “Tiban”… mungkin hal ini dianggap ritual sesat oleh pemeluk agama yg fanatik.

    Kalau ritual menolak hujan…. sampai saat ini kelihatannya masih individual karena biasanya permintaan secara individual sehingga tak ada acara ritual yg untuk umum.
    Tentang Tuyul….. cara sederhana agar kita bisa melihatnya yaitu menyediakan gentong/kuali dari tanah liat yg diisi air separohnya dan masukkan anak katak (precil) dan anak kepiting kedalam gentong tersebut. Kalau rumah disatroni tuyul maka si tuyul tadi akan keasyikan mainin anak katak dan anak kepiting di dalam gentong sehingga bisa terlihat oleh orang biasa…. silahkan dicoba bila duit dalam rumah sering hilang secara misterius yg tidak terpantau oleh CCTV.
    Nuwun.

    1. @Kang ABR,
      Kalau artikel tentang ritual memanggil hujan, tampaknya relatif mudah membuat (tulisan)nya, karena ritual ini hampir ada di semua negara beriklim panas. Saya sudah punya draft tulisannya yang saya awali dari menulis tentang nekara.

      Nekara ini dipercaya sebagai genderang perang. Namun saya cendrung percaya pada pendapat sebagian pakar lain yang mengatakan nekara berfungsi sebagai alat ritual pemanggil hujan. Alasannya karena nekara selalu dilengkapi dengan motif hiasan kodok. Kodok adalah simbul binatang pemanggil hujan.

      Nanti tulisan akan saya publish di kala musim kemarau. Kalau sekarang khan musim banjir jadi kagak nyambung…….

  4. Salam Ning Dewi.
    Wuuaahhh…. jadi pini… sepuh dukun spiritual…lhah…lhah… tak nyampe lhah yaoo.. ilmu cuma abal-abal ala kazam kok…hehe.

    Salam Kang Wager.
    Betul kang…. nanti saat musim kemarau lebih tepat… akan jadi tulisan menarik sekaligus “nguri-nguri” budaya leluhur. Untuk saat ini lebih tepat memanggil Avatar pengendali angin… hehe… agar awan yg mengandung air dibawa angin sehingga menyebar dan tidak ngumpul di satu tempat.

  5. Nuwun..
    Slamat siang semuanya.
    Terlepas benar atau tidaknya, ada atau tidak adanya Pawang hujan, logika paman begini,
    Sudah jelas kalo pawang2 binatang memang ada, tidak perlu dipertanyakan lagi, dg metode2 dan technik2 tertentu untuk menjinakan binatang2 itu, karena binatang juga bisa di ajak berkomunikasi seperti halnya manusia, nah lalu bagaimana dg hujan apakah juga bisa diajak berkomunikasi?
    Melalui pendekatan spiritualitas, bahwa alam semesta ini adalah hidup , bumi, angin, air , tanah adalah satu kesatuan hidup alam semesta yg saling berhubungan dan yang namanya hidup tentu punya ruh/jiwa yg bersemayam didalamnya, nahh disinilah si Pawang hujan dg metode2 dan teknik2nya bekerja, berdialog dan bersinergy, soal detail tecknik/cara2nya Paman kurang tahu, yg jelas berkomunikasi dg hujan tidak sama dg cara berkomunikasi dg binatang atau manusia,
    Andai saja kita semua punya kemampuan untuk menjadi pawang hujan waahhh tentunya sayiikk sekaligus juga ngeri, nahh bayangken kalo kita ribut antar desa atau antar RW terus perang hujan tiap hari, jadi berabe dong.
    Oh ya jujur saja Paman juga pingin sekali jadi pawang nih, tapi Pawang Cewek aja kalo bisa.
    Asah asih asuh
    PD

    1. Tenaga pawang gajah dari India dan Thailand dipekerjakan di beberapa kebung binatang di luar negeri. Mudah mudahan nanti kita juga bisa mengirim tenaga pawang hujan ke negeri lain………

    2. Salam Paman Dalbo, Kang Wager and all.
      Tepat logika paman Dalbo, mereka bisa paham dan merespon bahasa batin kita.
      Tentang sekolah untuk itu… hmm.. sulit pelaksanaannya karena sulit mengukur parameter kemampuan komunikasi batin setiap siswa dengan mahluk (air, angin) tersebut.
      Nuwun.

    3. Pengalaman Menerang Hujan

      Untuk Paman Dalbo, Mas Wage R, O-O dan Pembaca semua Salam kenal untuk yang belum kenal.

      Nih Saya punya pengalaman menerang hujan nih…hehehe. Saya punya beberapa teman yang dapat menerang hujan, sebenarnya yang tepat bukan menerang hujan tapi mengalihkan hujan ke tempat lain.

      Yang Paman Dalbo katakan bagi Saya adalah realitas dan Saya bukan hanya berteori tapi mempraktekan berkominikasi dengan empat unsur, ini mungkin bagi orang awam dianggap tidak mungkin atau mengada-ada.

      Pada saat tetengga Saya punya gawe yaitu acara Pernikahan Anak-nya. Saya dimintai bantuan untuk menerang hujan supaya sore pas jam resepsi pernikahan tidak hujan dan Saya menyanggupi OK. Saya bukan Dukun lhooo…Pas hari resepsi pernikahan dari pagi sampai siang hari gerimis dan kadang hujan, awan putih padat padat. sekitar jam 11:00 tetangga Saya itu bertanya pada Saya kok hujan terus dari tadi pagi ?
      Saya jawab tenang saja tidak apa-apa nanti tepat jam 3 (tiga) langit membuka dan cuaca terang, jawaban ini Saya peroleh dari komunikasi 4 unsur supaya sore nanti tidah hujan dan alam memberi jawaban,

      Benar juga tepat jam: 3 sore langit membuka dan matahari menampakkan sinarnya, tetangga Saya itu merasa senang dan Saya juga merasa senang karena hasil komunikasi tepat 100%, ayam jantan berkokok (keluruk) tanda alami tidak akan turun hujan, hal ini untuk cara Kuno tidak boleh mandi diantaranya adalah Pawang Hujan dan semua keluarga mempelai termasuk pasangan Penganten.

      Untuk Saya selain dimintai jadi Pawang Hujan, dimintai juga untuk penerima Tamu. Disinilah Saya pikir-pikir kalau menerima tamu tidak mandi wah asik baunya….dari ini Saya melanggar aturan yaitu mandi dengan spekulasi saya tidak memakai cara kuno tapi cara yang Saya kembangkan. Apa yang terjadi ternyata pantangan tidak boleh mandi jika dilanggar walau dengan cara pengembangan akan berakibat sama yaitu Hujan terjadi.
      Dengan rincian waktu Saya akan mandi melihat ke arah barat sambil membawa handuk langit dan hawa udara sudah tidak seperti musim penghujan bahkan hawa seperti kemarau dan matahari bersinar terang, bulan Pebruari saat itu. Selanjutnya Saya masuk ke kamar mandi dan ketika Saya mandi pada siraman pertama langit mendadak mendung dan gelap, pada siraman kedua,langsung gerimis dan pada siraman ketiga langsung hujan deras. Cara menyiram mandi seperti pada umumnya orang mandi, tiga siraman hanya beberapa detik langsung hujan lebat. Saya terus mandi sampai selesai dan setelah selesai Saya bersila lagi untuk supaya kembali terang memerlukan waktu hampir 1 jam, penggerakan tenaga ini Saya sampai merasa kepala rasanya berat bagian depan dan Saya tidak pernah merasakan hal ini, mungkin karena Saya melanggar pantangan.

      Metode yang Paman Dalbo pertanyakan ada sedikit dari Saya mungkin dapat Anda perlukan, yaitu manusia punya 7 cakra yang berada pada tulang belakang dan bagian depan hal ini banyak diketahui orang, ketujuh cakra ini sebenarnya merupakan alat komunikasi manusia dengan alam dan merupakan alat penterjemah sehingga dapat dimengerti oleh pikiran sadar dan bahasa Manusia dengan jalan latihan Spiritual alami kok sesuai kodrat Manusia gak pakai merek agama atau aliran tertentu segala bahkan Saya optimis suatu saat dapat di Ilmiahkan dan dapat dipelajari seperti ilmu ilmiah lainnya karena berhubungan dengan gravitasi dan gravitasi diubah oleh Bumi dan dapat dipakai Bumi untuk untuk memindah awan, selain dengan gravitasi 3 unsur lainnya juga kerjasama untuk memindah awan dan merobah suhu udara.

      Untuk lebih jelas Cakra dan percobaan Saya lainnya, baca di halaman blog Saya ini, untuk Mas Wage sudah berapa link Saya hehehe… kalau menurut aturan disini kalau tidak salah hanya boleh 3 link.

      http://ufo-spiritual.blogspot.com/2010/08/setelah-bosan-melihat-dan-bicara-dengan.html

    4. @ Mas Nachli,
      Sharing yang sangat menarik. Mudah2an berguna untuk rekan lain. Banyak rahasia yang belum tersingkap. Sebetulnya ada koq rekan disini yang juga punya pengalaman sama dengan Mas Nachli, cuma beliaunya tidak mau menuliskannya. Malu katanya……..

      Tentang aturan 3link, ah itu cuma akal-akalan doang untuk menghidari pesan spam. Khan kadang ada orang yang doyan pasang banyak link tanpa jelas juntrungnya. Jadi blog saya setting, lebih dari 3 link otomatis akan masuk spam.

      3 link artinya per komentar, bukan per-orang. Sedangkah khusus untuk Mas Nachli, berapapun link-nya akan saya approve. salam

  6. @ M Nachli,

    Makasih sharingnya, salam kenal, saya sudah membaca artiel2 di blog njenengan, saya terkesan sekali bahwa kenyataannya ‘ilmu’ ini bukanlah monopoli agama tertentu, tetapi mungkin hal yang paling mendasar adalah ada suatu karunia ‘gift’ atau ‘bakat’ alam. atau kalau kata orang jawa ‘ilmu katon’ (?)…

    Saya belum berkomentar di blog njenengan, karena saya awam akan hal2 meta atau ghoib, namun saya lebih suka membahasnya dari sisi budayanya saja, seperti hubungan antara hal ghoib dengan aktivitas per-judi-an dsb,

    Dari segi humanistik, judi bukanlah perusak moral bangsa, tetapi ketika judi di jadikan ajang autonomi ‘pemerasan’ dan tidak fair play itu baru bisa di katakan tidak bermoral.

    @ Wager, PD, JS, Baldew, Nurkahirupan, Senyum, Lespi3t, ABR, All,

    Orang nusantara itu terkenal sakti-sakti mandraguna, punya hobi penekun dan praktisi ilmu kebatinan secara turun-temurun, tetapi kok bangsa ini selalu menjadi bulan-bulanan nasib, baik yang disebabkan oleh penjajah maupun ulah bangsa sendiri ??…

    What`s wrong with this nation?… was it curse or kamuflase ?… some kind of mistery though.

    if it all becouse we`re have no answer and hopeless, I hope there is always ‘Clue’ or maybe benang merahnya 🙂 …

    1. Salam Ning Dewi, Kang Wager, M Nachli.
      Pertanyaan yg bagus Ning Dewi, nanti akan saya buat tulisan cara mencari dan merunut “benang merah peristiwa” di klosobedah…. kalau masih ada semangat lho, mungkin 2 minggu lagi.

  7. 3 link artinya per komentar, bukan per-orang. Sedangkah khusus untuk Mas Nachli, berapapun link-nya akan saya approve. salam (wagerrrr)

    Saya dukung, Oom Wagerrr ! Btw, icon Mas Nachli ini mengingatkan saya pada… Kang RD yang (juga) ampuh itu. Maaf kalau keliru, tapi dukungan saya tetap . (-:

  8. Untuk Dewi salam kenal kembali…hehehe Saya dari semenjak anak-anak dan sampai sekarang tidak suka main judi, walau teman-teman Saya lebih banyak yang suka Judi dibanding yang tidak. Keperluan Saya hanya sebatas percobaan saja. Dari percobaan-percobaan Saya pada perjudian itu tersebar ke para penjudi dan banyak yang Saya tolak dan sampai akhirnya Saya menghentikan percobaan karena Saya merasa sudah cukup. Perjudian sebenarnya merupakan penyakit masyarakat, kerena orang berjudi waktunya banyak terbuang untuk judi, tidak berkarya (tidak bekerja).

    Sebenarnya ilmu semacam itu dan sejenisnya merupakan bakat dan mendasar, orang tidak bakatpun sebenarnya bisa tapi memelukan waktu lebih lama.
    Dalam kenyataan walau belajar dari Satu Guru, pelajaran yang sama dan jam belajar yang sama masing-masing murid bakatnya berbeda beda walau bisa semua pelajaran, masing-masing murid ada beberapa bagian pelajaran yang menonjol dan kehebatannya tidak dapat ditiru oleh siswa lain.

    Biasanya Agama atau kepercayaan mengklaim penemuan ilmu tertentu, sebenarnya kalau belajar lebih lanjut atau tingkat lanjut akan diberi tahu hal yang sebenarnya yaitu hal yang mendasar hal ini biasanya Murid yang memenuhi sarat kecerdasannya.
    Terimakasih kunjungan Dewi ke blog Saya.

    untuk Mas O-O, Bala Dewa dan Mas Wage.
    Untuk penjelasan linknya terimakasih dan juga benang merahnya dari Bala Dewa Saya tunggu wah…Dewi ternyata cerdas juga tahu mana yang harus dikerjakan.

    Saya senang deh kalau ada Orang lain yang sharing pengalaman menerang hujan, Saya kan bisa tahu juga pengalaman orang lain…..mungkin Saya dapat memperbaiki kekurangan Saya.

    1. Mas Nachli, maturnuwun, tak ada sebersit pikiran bahwa njenengan suka judi… santai mawon mas, saya hanya mengupas dari sudut pandang ‘sosiologi’ pandangan masyarakat tentang perjudian… kata bang Rhoma judi itu menghancurkan keimanan, oleh karena pekerjaan orang malas yang hanya di buai harapan… lagu ini sangat indah dan realisitis…

      Tapi semua itu mungkin juga tergantung ‘mental’… kebanyakan di pilem2 indonesia, ornag penjudi digambarkan termasuk dalam kategori kriminal, tapi kalau pilem2 mandarin ada dua: penjudi gangster dan penjudi sejati atau yang memang profesional seperti kangmas Chow Yun Fat dalam pilem ‘Dewa Judi’ atau ‘The God Of Gambler’…

      Di negara kafir seperti Monaco atau Las Vegas yang penghasilan pendapatan daerahnya dari ‘kasino’ maka judi di permak sedemikian rupa menjadi sarana rekreasi dan olah raga otak (non otot). Semua itu bisa terwujud kalau ‘pemerintahan’ nya juga bersih, sisiplin dan anti korup, juga masyarakatnya yang taat hukum. Jangan salah, walau masuk ke gedung judi, mereka juga menggunakan pakaian yang sopan-sopan, kalau lelaki memakai jas/ tuxedo seperti acara resmi, kalau perempuan pakai baju malam/ pesta seperti acara gala evening.

      Saya juga nggak pernah berjudi, dan kayaknya nggak ada bakat berjudi dan mungkin rejeki saya memang bukan disitu, tapi saya sangat senang jika melihat masyarakatnya bisa bertata tertib… terserah hobbynya apa, manusia tak ada yang sama, ada yang suka judi tapi jujur dan lugu, ada yang anti judi tapi suka korupsi dsb, tapi ada juga yang suka judi dan pemalas, ditambah suka mabok minuman keras plus mabok janda… he he he… itu lagu ya?…

      Oh ya, saya suka sekali dengan tulisan njenengan yang mengupas antara ilmu meta dan hewan aduan dalam area rekreasi atau olah raga non otot ini 😉 …

      Bravo!,,, two thum up! 🙂 …

  9. tentang judi
    yang paling banter togel( toto gelooo hahaah )
    pusatnya antara singapore,hongkong macaw etc.
    menurut kabar ada temen yang nembus kesana,wiiih penjagaannya sangat ketat,ada raja siluman kera( bukan sun go koeng )…mereka kewalahan
    kata saya sini Singa sama Singa..
    pas mau pasang server errorr, dan error itu skala antar benua loh?
    akhirnya dengan gotak gatik no hp temen tembus 2x 1rbx3angka 300rb, duite ora enak, kaya kertas basah dibawa ga enak rasanya..hahahaha
    cek tentang pawang hujan
    dicirebon pernah gak kemarau 1 tahun Full..ternyata dukun pawang hujan secirebon kalah sama 1 orang sekitar thn 2011-2012, tau sendiri cirebon gersang bener ga kang Nur…panasnya ngaheab,mybe kalau dewi kecirebon itu kemben melorot terusss hareudang hahahaha
    ….pantas saja tunjung putih adanya dicirebon anake dewa indra raja hujan hahahahaha
    wusssssssss

    1. teringat celotehan teman, jangankan tempat pusatnya sirkulasi bunker uang, bank-bank aja penjagaannya super ketat dan berlapis, secara wadag ya ada security atau bang satpam, kalau yang nggak terlihat ya dari dunia lain seperti jin, setan, gendruwo pada turun gunung ikut mengabdi pada yang punya bank, pokoknya yang ghoib-goib gitu deh…

      hmmm, bener apa nggak ya??…

      apa bener hantu dsb bisa di ajak bekerjasama padahal mereka tidak mendapatkan imbalan apa2, beda dengan manusia yang di pekerjakan menjadi karyawati, security, cleaning service dsb yang kesemuanya mendapatkan fasilitas dan gaji… lha kalau mereka, para jin setan dan teman2nya itu, untungnya apa sih ??!….

  10. Untuk Dewi…..Saya ngerti kok kalau Dewi menilai Saya seperti yang Dewi tulis.
    Saya kan sedikit goda Dewi sebagai momen untuk menyatakan ke teman-teman lainnya….hahaha…jangan marah ya Dewi.

    Untuk makhluk halus harus ada imbalannya……mereka tidak mau bekerja kalau tidak dapat imbalan…Yang jelas pasti rangkap nyata dan gaib….bisa hanya perlindungan berbentuk energi saja tanpa adanya mahkluk gaib…kesimpulan ini Saya ambil karena Saya pernah meneliti dari dorongan rasa keingintahuan Saya sendiri.

    Untuk RP salam kenal…..memang begitu bahkan Super ketat penjagaan gaibnya,,,,,

    Mas Wage terimakasih..

    1. asyik deh kalau di goda sama mas Nachli 😉 … he he he..

      makasih jawabannya, maaf telat merespons, dari kemarin saya muter2 cari komment njenengan di ruang ‘ilmu ghoib’ nggak ada, eh ternyata di ruang ‘pawang hujan’…

      imbalannya bentuknya berupa apa… bingung kagak tahu… ilmu belum sampai segitu… pusing rasanya tapi bikin penasaran juga…

      dan sangat menarik juga buat inspirasi artikel next time :

      mereview sastra jendra ke-5 edisi maksiat dan judi… xixixiixix….

      thanks mas Nachli 🙂 ….

    2. Imbalannya pada waktu tertentu…harus rutin kasih sesaji……bermacam-macam kok ada yang pake telur ayam+bunga-bunga, ada yang dari jeroan ayam (hati, rempelo dan santan kanil (diperas tidak pakai air), bau kemeyan (dibakar), dupa kerucut, dupa panjang, minyak wangi, darah binatang, panggang burung gagak, panggang ayam,……untuk makanan makluk halus Saya kurang banyak tahu, itu sebatas yang Saya tahu karena Saya tidak spesialis disini, Saya tahu dari teman-teman yang biasa pakai sesaji. caranya sesaji itu disuguhkan kepada yang di tuju namanya makhluk itu dengan perkatan biasa tapi sudah merupakan susunan kata.

      Menurut pengalaman sesaji dari unsur makluk hidup (telor, panggang ayam, panggang gagak dll, bisa membahayakan bagi yang memberi sesaji dan keluarganya. Hal ini Saya ketahui dari pengalaman menemani sambil memantau, waktu teman Saya mencari nomor TOGEL pakai sesaji telor ayam+bunga-bungaan+bakar kemenyan…pada waktu makluk gaib memakan sesaji….ada sinyal suara peringatan bahaya dan supaya tidak memakai sesaji yang dari unsur makluk hidup bernyawa karena membahayakan bagi penyedia sesaji bisa juga mengenai keluarganya. Sifat makluk halus ngelamak (mau yang lebih dari sesaji bernyawa).

      Pada waktu lumpur lapindo keluar dan diberi sesaji makluk hidup, sapi, kambing, dan binatang lainnya sepasang-sepasang…kata teman waktu itu karena Saya tidak melihat siaran berita di TV, Saya bilang bahaya ! teman Saya bertanya kenapa ? Yang diminta bisa lebih yaitu bisa makan manusia….yaitu membahayakan manusia akibatnya. Orang dari mana yang kasih sesaji ? tanya Saya pada teman. Dari luar pulau….kata teman Saya ! Wak….tambah bahaya karena tidak begitu tahu bagaimana tradisi di Jawa.

      Selanjutnya tidak sampai 2 minggu terjadi ledakan pipa gas LPG yang membawa korban banyak orang. Jika dipikir logis memang bisa juga ledakan akibat dari hawa panas melebihi titik bakar gas,…..panas yang berasal dari bumi dekat jalur pipa dekat dengan sumur panas itu.

    3. Selamat Pagi Mas Nachli,
      Nah, ini baru info yang mantap tentang mahluk halus, diulas tuntas lengkap dengan resikonya. Jadi mohon hati2 dan jangan main2 dengan mahluk halus.

      Sebetulnya mahluk halus itu banyak jenisnya, yang paling berbahaya dari yang paling berbahaya adalah pipi halus dan paha halus……

    4. @ Nachli,

      makasih mas Nachli, terharu saya membaca komment njenengan. memang begitulah ajaran ‘jawa’ yang asli, tak mengenal tumbal, dalam buku ki sondong mandali yang berjudul ‘falsafah ngelmu urip’ orang kita itu bisa memayu hayuning urip lan bawono, pantang menyakiti kewan, alam apalagi manusia. hingga sesajianpun hanya berupa kembang, dupa dsb, yang kesemuanya hasil alam, dari alam oleh dan untuk alam semesta serta manusia dan semua makhluk.

      sesaji yang memakai nyawa hewan justru setelah orang kita mendapatkan infusi budaya luar.

      di bali ada tradisi ‘mecaru’ yaitu menumbalkan ayam jago yang sengaja dipasangi tajen/pisau kecil di kakinya dalam bertarung, konon darah yang tercecer sangat disukai oleh salah satu makhluk halus sebagai penunggu.

      sementara di jawa sendiri sudha sejak lama juga mengkolaborasikan budaya kearifan jawa dengan kearifan asing, hasilnya… kerbau, kambing, ayam dsb turut menjadi korban dari hasil olah pikir manusianya sendiri.

      masalah bersembah bhakti kepada Tuhan, manusia dan alam, seyogyanya tidak merugikan dan mengorbankan siapapun dan apapun, semoga kita semua bisa berintropkesi diri… untuk segera kembali ke kearifan nurani ibu pertiwi, yang memang tidak menyukai aroma (pertumpahan) darah.

    5. jenggot uban – wager
      Selamat malam…..
      hahaha…kalau itu sih senjata ampuh paling halus, laki-laki bisa lupa daratan dan bisa dibikin KO…..

      @Dewi
      Mantap….dengan “memayu hayuning urip lan bawono” dan penjelasan selengkapnya membuat Saya terkesan, ternyata Dewi punya pengetahuan luas mengenai Leluhur Jawa.

      Saya melihat tradisi ‘mecaru’ (tajen) di Ubud-Bali beberapa kali, pisaunya katanya dikasih racun sehinggga kalau nyawa ayam jago hilang lasung tubuhnya kaku.

    6. makasih mas Nachli, saya masih awam dan saya memang tertarik ingin nguri-uri, menggali keluhuran dan kearifan lokal yaitu jawa dan nusantara, saya masih belajar dan masih kepingin banyak belajar, seperti dari tulisan2 poro pinisepuh dan juga dari buku, senang sekali bisa mendapatkan pengetahuan dan wawasan dari poro winasis dan pinisepuh.

      kebetulan dulu pernah tinggal di belakang banjar dekat ladang sawah, suatu kali warga menggelar acara hajat tajen, sayapun mencoba melihatnya sebentar, selain ada yang jual makanan dan minuman, juga ada juru masak yang siap mengolah ayam jago yang kalah dalam pertandingan, jadi begitu kalah langsung di masak dijadikan hidangan. tak ketinggalan pula arena ‘toh tohan’ tapi juga ada pendetanya selaku pimpinan upacara, ada juga pecalang/ hansip setempat, pokoknya riuh dan meriah, judi memang dilarang, tspi polisi dijamin juga nggak bisa berkutik dengan tradisi yang keramat ini. sebelum masuk arena ada penjaga loket tiket bagi yang mau melihatnya, semuanya memakai busana tradisional seperti acara pesta. konon uang yang terkumpul akan digunakan untuk pembangunan banjar atau kegiatan sosial lainnya.

      yang bikin ‘bete’ acaranya berlangsung selama beberapa hari, jadi kebayang bau ‘kandang ayam’ dan sampahnya berserakan… bikin kliyengan…

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s