Mahluk Gaib Tanpa Wajah Di Bulan Purnama

dunia-gaib34ttDongbud. Wage Rahadjo. Tiga puluh tahun yang lalu, disuatu hari, di masa liburan sekolah, salah satu sahabat karibku yang paling kaya di kelas, anak seorang petani cengkeh dan vanili yang sukses, Mas Purwo, kembali mengundangku untuk menginap ke rumahnya di kampung halamannya yang terpencil nun jauh disana. Ini adalah undangan yang kedua bagku karena berselang tiga bulan lalu aku juga pernah menginap di rumahnya.

“Rumahku lagi sepi nih, keluargaku lagi mudik semua ke kampung kampung ibuku” katanya.  Akupun menyanggupinya.  Beruntung, kampung halamanku tidak terlalu “terpencil” seperti kampunya Mas Purwo, jadi nyaris tiap minggu aku bisa pulang. Namun siapa sangka ternyata dari niat awal ingin melewati liburan dengan suasana baru, ternyata berakhir pengalam yang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri…….

Singkat cerita, setelah melewati jalan yang berkelak kelok dan naik turun gunung yang bikin perut mual,  terguncang-guncang di jalanan desa berbatu yang bikin engsel tulang terasa lepas, serta menembus hutan dan melewati areal persawahan yang luas, akhirnya setelah hampir gelap, motor Honda bebek SuperCup 70 merah, motor yang paling keren di masa itu yang aku boncengi sampai halaman rumahnya yang besar dan asri.

Seorang gadis manis  manyambut kedatangan kami. “Marni !” seruku pada gadis itu. Dia adalah adiknya Mas Purwo. Tentu saja aku mengenalnya karena seperti yang sudah ditulis di depan, ini adalah kunjunganku yang kedua di rumah ini.

“Selamat datang kembali di gubuk kecil kami”, sambutnya ramah. Gubuk? Asem, rumah besar dan bagus gini dibilang gubuk. Gadis itu masuk kembali kedalam rumah dan dalam sekejap hidangan teh hangat sebgai wellcome drink sudah terhidang di hadapan kami. Dengan beralaskan tikar, kami bertiga duduk di beranda sambil menghirup teh manis.

“Hmm…. gadis yang sungguh pintar dan cekatan” gumamku dalam hati. Rasa lelah dan mual karena terguncang-guncang selama perjalananpun mendadak sirna. Namun sunggh mati, digigit semut, bukan karena alasan itu aku mau bersusah susah berkunjung ke desa ini.

“Mas Wage pasti lelah dan kapok ya datang ke desa ini?” tanyanya tiba tiba. Aku kaget dan tersipu malu sambil melirik si Marni tanpa bisa menjawab karena perut ini telah mendahului menjawabnya dengan berbunyi nyaring minta diisi. Asem, malu-maluin aja.

“Kita langsung makan malam saja yuk. Pasti sudah pada kelaparan nih!” kata si Marni sambil tertawa. “Makan malam sudah kusiapkan sejam lalu dan sepertinya masih hangat”. katanya. Tanpa perlu menunggu lama, semua hidangan yang tersaji telah berpindah ke dalam perut. Sebagai rasa terima kasih, walau dilarang-larang, akupun masuk ke dapur untuk ikut bersih-bersih dan cuci-cuci piring.

“Habis ini kita bikin kolak singkong yuk?” kata siMarni. “Cuma masalahnya singkongnya harus ambil dulu di ladang. Tinggal ambil saja koq karena tadi pagi sudah aku cabut dan bersihkan namun karena berat jadi aku tinggal di gubuk. Nunggu Mas Purwo pulang dan angkut pakai motor. “. kata si Marni.

“Besok pagi saja, khan sudah malam” kata Mas Purwo.

“Ok, biar aku saja yang ambil. Tinggal ambil saja khan?” kataku menawarkan diri karena entah kenapa akupun mendadak ingin makan kolak singkong. Tiga bulan lalu aku pernah bantu-bantu dil ladang cabut singkong, jadi sudah tahu jalan dan lokasi ladangnya.

“Jangan !! Khan tidak semua orang kampung kenal sama Sampean. Kalau kepergok, nanti dikira maling”. Kata Purwo. “Ok, gini aja, kamu bonceng siMarni ambil singkong di ladang, sedangkan aku nanti yang potong dan bikin kolaknya”  kata Purwo sambil menyerahkan kunci motor supercup-nya.

Kamipun setuju. Dengan membawa senter dan bakul bambu, akhirnya aku, sambil membonceng si Marni  pergi mengambil singkong ke kebun.

Suasana di jalan tampak terang benderang karena saat itu kebetulan adalah hari purnama. Bulan mulai menyembul dari arah timur. Suasana jalan tampak sepi dam motor yang aku kendarai merayap dengan pelan di jalan berbatu, Maklum saja, aku belum begitu fasih naik motor, dijalan berbatu lagi. Di zaman itu, motor adalah barang mewah dan aku beruntung bisa naik motor ya gara-gara diajari sama Purwo. Makanya aku merasa berhutang budi padanya.

Perjalanan kira-kira baru separuh jalan, setelah melewati jalan berkelak kelok dan menjelang memasuki hutan bambu dan, mendadak hatiku merasa tidak enak. Suara anjing hutan terdengar melolong dikejauhan. Suhu udarapun terasa dingin dan tiba tiba terasa ada yang menahan motorku sehingga membuatku terhenti.

“Lho, kok berhenti Mas? Sedikit lagi sampai lho. Setelah melewati pohon besar itu lalu belok ke kanan” katanya memberi petunjuk jalan.

“Bulannya sangat indah Dik dan sayang untuk dilewatkan. Kita istirahat sejenak ya. Semenit atau dua menit ndak keberatan khan?” kataku. Mesin motorpun aku matikan membuat suasana menjadi senyap. “Boleh tapi motornya jangan dimatikan dong” pinta si Marni. Namun aku pura-pura tidak mendengarnya.

Beberapa detik kemudian mendadak sesosok bayangan muncul. Astaga, itu Mbahku ! Sedikit penjelasan, agar pembaca tidak kaget, Beliau adalah orang yang merawatku sejak kecil lalu. Beliau sudah meninggal belasan tahun yang lalu, namun di saat saat tertentu memang kadang Beliau muncul menjenggukku.

Mbahku tampak memandang dengan muka serius “Aku ndak ngapa-ngapain koq Mbah. Sumpah!”.  Kataku mencoba menjelaskan. Embahku dulu memang pernah berpesan agar selalu hormat dan tidak bermain-main dengan wanita. Tapi aku khan sedang tidak “main-main”? Mbahku tampak tersenyum kemudian secara perlahan menghilang.

“Ngomong sama siapa sih?” tanya si Marni. Akupun hanya bisa melongo tanpa bisa memberi jawaban. Lha, harus jawab apa? Disaat aku sedang berpikir untuk memberi jawaban yang lebih baik  tiba-tiba motor bergoyang membuatku kerepotan bertahan agar tidak terjatuh. Si Marni tampak panik. Aku menoleh kebelakang sambil bertanya “Ada apa sih?”  Si Marni tampak ketakutan tidak menjawab.  Hanya memberi isyarat dengan menunjuk ke arah depan.

Cerita selanjutnya sungguh mengerikan. Aku kaget bukan kepalang. Apa yang tampak dihadapan kami benar benar membuat bulu kuduk merinding.

BERSAMBUNG …………. (cerita dilanjut lagi)

dunia-gaib3448

Sekumpulan orang tampak berdiri di ujung jalan sambil sambil membawa sejumlah obor. Obor? Entahlah, yang jelas sinarnya relatif kecil dan sangat redup, nyaris tidak bisa menerangi apapun. Hah?! Dari mana datangnya dan sejak kapan mereka berdiri disana? Jumlah mereka mungkin sekitar 8, 10 atau 15 orang? Entahlah. Sinar rembulan mendadak redup karena tertutup kabut awan yang cukup pekat membuat suasana menjadi terasa menyeramkan.

Siapa mereka? Penduduk kampungkah atau mungkin hansip, yang sedang patroli dan memergoki kami karena diduga berpotensi berbuat mesum? Hah?! Hansip? Aku mencoba merapikan pakaian dan kerah baju dan bersiap siap untuk menyapa memberi salam.

Tapi….. Hmmm…. sepertinya bukan bukan penduduk desa. Jadi siapa? Hiiii…..Aneh, mereka tampak diam tidak bergerak.

“Masss….. ii ii iitu ma..ma…manusia ……a…a…a….tau……. “

Asem!!! Gumaman anak ini malah bikin bulu kudukku berdiri. Dari awal prasangka buruk tentang setan, hantu atau mahluk halus sudah aku buang jauh-jauh, namun sekarang mendadak muncul kembali.

“Ah, itu orang yang lagi cari belut” jawabku sekedar menenangkan diri. Hah?! Jawaban ngaco bin koplak. Mana ada orang nangkap belut pakai obor?

Ketakutan mulai menjalari tulang sumsumku. Duh, apa yang harus kulakukan? Ingin rasanya cepat-cepat pergi dari sana, namun tangan dan kaki terasa beku tidak bisa bergerak. Lagipula jalan relatif sempit, nyaris jalan setapak. Untuk memutar sepeda motor rasanya tidak mungkin. Apalagi aku khan belum genap sebulan bisa nyetir motor?

Bagaimana kalau aku lari saja sendirian meninggakan motor dan si Marni yang sudah nyaris terkulai ketakutan bersandar dipunggungku? Ah, itu tentu tidak mungkin. Itu tindakan pengecut seorang pemuda. Bagaimana kalau berlari sambil menggendong si Marni, ah, itu lebih konyol lagi. Kayak penyamun melarikan anak gadis dong. Pikiranku benar-benar kusut.

Hening sesaat. Kemudian tiba tiba mereka bergerak perlahan ke arah depan membuat aku dan si Marni mendadak panik belangsatan. Sepeda motor yang kami duduki berdua oleng dan nyaris terjungkal.

Selang beberapa langkah mereka tiba-tiba berhenti. Mereka sepertinya tahu kepanikan kami. Sekarang mereka hanya belasan meter dengan kami. Aku mencoba tenang dan menajamkan mata, Walau jarak sudah sedemikian dekat, tapi wajah atau perwujudan mereka masih tetap kabur atau bahkan malah semakin kabur. Aku nyaris tidak bisa melihat lekuk ataupun guratan apapun di wajah mereka. Satu-satunya yang pasti adalah bahwa di depan kami berdiri belasan sosok yang sedang berhenti. Sosok apa? Entahlah……

Suasana menjadi semakin gelap ketika secara serentak mereka tiba-tiba mematikan obor membuat suasana yang semakin gelap dan mencekam. Selang beberapa detik kemudian secara perlahan mulai tampak cahaya senter yang sangat redup berwana sedikit kemerahan seperti senter yang kehabisan battery.

Aku kembali mencoba menajamkan pandangan. Hah?! Cahaya lampu senter? Hah?! Bukankah itu cahaya sorot mata?

HAH???!!!Ketakutanku sepertinya sudah mencapai puncaknya. Dengan gemetar dan sisa-sisa keberanian yang terakhir, aku meraih tuas stater mesin dengan tumit, menginjaknya 2 kLI dan mesin motorpun menyala. Dengan terburu-buru kumasukkan perseneling, kuraih tangan si Marni, kulingkarkan ke pinggangku, kumiringkan motor, putar gas dan ajaib, motor memutar arah dengan mulus.

Kemudian tanpa banyak membuang waktu aku pacu motor sekencang-kencangnya. Motor seakan terbang di jalan setapak yang sempit membelah kegelapan malam. Kupacu motor dan kupacu lagi sampai akhirnya si Marni berseru panjang “Massss Wageeeeeee…….” . Aku panik dan gelagapan.

Di depan kami jalan menbelok cukup tajam namun motor masih melaju dengan kencang. Aku kehilangan keseimbangan dan tidak bisa lagi mengendalikan situasi. Motor meluncur lurus menerjang ladang pisang. Tangan si Marni yang sebelumnya melingkar erat di pinggangku terepas, motor pinjaman itu terlempar entah kemana. Tubuhku melayang sejenak dalam kegelapan malam dan kemudian tertahan karena badan dan kepalaku membentur sesuatu. Brakkkkkk gedebukkkk. Akupun terjaga.

ASEM, ASEM, ASEM !!! Aku menyumpahi diriku berkali kali sambil memegang kepalaku yang pening dan berkunang-kunang karena terjatuh dari tempat tidur. Cuma mimpi toh. 

TAMAT

Catatan : Ginilah akibatnya kalau simbah koplak memaksakan diri bercerita tentang mahluk halus, hasilnya pasti double koplak. Cepat cepat kabur sebelum dilempar sandal……………..

Credit image : pinterest.com

42 thoughts on “Mahluk Gaib Tanpa Wajah Di Bulan Purnama

  1. Salam mbelgedes mbah wager

    Wah-wah simbah ternyata bisa komunikasi dengan sosok astral ya?bikin penasaran aja mbah pakai bersambung lagi. Saya juga penasaran juga ama sosok marni emangnya cantik ya mba? , simbah jatuh cinta apa modus ? Wakakak
    tapi kalo sekarang tentu udah peyot wakakak
    Awas lho kalo gak ada sambungannya

    Salam damai

    1. Wakakak…. Wajah boleh peyot tapi kenangan manis dan kebaikan hati tidak mungkin peyot Kang.

      Ampun Kang, nanti pasti disambung. sumpah…..

  2. Selamat Pagi,

    Salam utk semua rekan. Maaf sebesar-besarnya, cerita terpaksa dibuat bersambung sekedar utk test sambil nunggu reaksi pembaca. Kalau banyak yang suka dan minta disambung maka cerita akan dilanjut.

    Maklum, bikin cerita ginian khan cukup banyak nguras energi, double kopi, double pisang goreng, double rokok dll. Proses editing, agar alur cerita enak dibaca juga double waktu.

    Apakah ini cerita nyata dan serius? Ah, ndak penting. Nyata ndak nyata yang penting kumpul. Lagipula ini khan blog ngibul. wakakakkk……..

    Note : ssemua rekan yg telah komentar sudah dikasi jempol dari simbah. Maaf, jempol tdk bisa ditukar jadi duit.

    1. Weleh, Kang Nur juga ikut-ikutan nunggu?
      Cerita ini sekedar penawar untuk kang JS, agar tidak setress dikejar-kejar, dipancing-pancing agar bercerita.

      Weleh jadi tahu bagaimana tidak enaknya ditunggu-tunggu disuruh cerita wakakakkk….

    1. Mungkin saja Kang. Cuma kasihan ikannya, seumur hidup cuma muter-muter di tempat sempit. Dan tiap hari dilihatin orang jelek seperti saya. wakakakk……

  3. good writing cerpen mbah, little bit spooky but very enjoyable…

    aku sempet klik gif.com…. wooww, ada penampakan ninja black casper…

    maunya supaya seram tapi malah bikin merinding asyik 😆 ….

    1. Emang ada yang mau beli Kang? Kalaupun ada, paling yang beli cuma 10 orang doang yaitu ya, rekan yang komentar dan meramaikan blog ini. Khan jumlahnya tidak lebih dari 10 orang? Itupun mau beli setelah diancam-ancam. wakakakk…..

    2. ah gaklah bang 30 oranglah eh 40 orang, 10 orang yg abang ancam…30 karyawan disini……atau malah 200 copy, maksudnya di fotocopy gitu……nah ikutan pesimis jadinya, harus optimis bang! 1.000.000,- copy , gitu! salam

    3. 1 juta copy itu missi bunuh diri Kang. Kalau 1000 copy sepertinya masih masuk akal.

      Di negeri Pandawa ini khan baca buku belum jadi budaya. Beda dengan negeri Kurawa rata rata tiap orang membaca 1-3 judul buku pertahun. Salah seorang tetangga saya dari Jepang malah membaca 11 judul buku pertahun. Kalau saya sih cuma baca judul judulnya doang, kepala langsung ngantuk.

  4. Kemarin waktu main catur ketemu teman, Dia bercerita ada sekelompok ibu2 yang … potret memotret. Nah, tanpa sengaja, atau mungkin mereka tidak tahu, tempat mereka berpotret bersama adalah bekas …makam …Nah, ibu2 yang jumlahnya delapan ketambahan …satu cowok yang meringis sambil memberikan salam V – victory. Teman saya membawa tablet nya dan foto cowok dari ‘sono’ itu ada disitu . Saya tergoda untuk …minta foto itu – dikirim ke saya – mungkin bisa saya ,,,share disini… Tapi saya …ragu2 … Ibunya anak2 juga …penakut, dia tidak setuju saya minta foto itu .

    Ini bukan cerita baru. Saya sudah beberapa kali mendengar cerita seperti itu …Tapi, ini kan untuk …menambah mbelgedes di blog ini ! (-:

  5. Daripada lihat foto Jin dan bikin takut, lebih baik lihat foto Miss Jin yg bikin hati senang. (Barusan coba google nama Jin, eh yang keluar malah miss universe china 2013, pakai bikini lagi. waduh, gigi palsu langsung copot…). Google memang kitab suci jempolan.

  6. Horee… Kang Banjar hadir lagi !
    Benar, ini lagi niru gaya sinetron, jadi ada sambungannya. Tulisannya baru jadi setengah tapi langsung dipublish karena kejar tayang. Sambungannya pikir belakangan…..

    1. good mbah (y) …

      sambil nunggu cerber-nya saya lagi memandanngi cover dinding dongbud yg keren dan kece ini mbah, gambar kartun burung2 hantu dimana belinya? saya mau pasang wallpaper di dinding kamar saya 😀

      NB : mbah, kalau mau lebih seram dan merinding bisa di postingkan sekarang pas malam jum`at, bukan jum`at malam sabtu, jadi dugem dong 😛

    2. owhh niki malem jum`at kliwon to??

      mangkane aku ora iso turu (^_^)

      (atau mungkin lagi terserang insomniadotcom)

      untungnya ada padepokan simbah yg buka 24 jam

      jadi aku bisa kluyuran kesini walau malem2 😉

    3. Sayang, gambar latar burung hantunya tidak terlihat kalau diakses lewat hp. Yang tampak malah bercak coklat kotor di layar. Sayang beribu sayang, padahal pengguna hp jumlahnya nyaris 60% dibanding pc. Kalau dihilangkan, di layar pc malah kelihatan gersang.

      Beli? itu hasil nyolong punya orang.

    4. whahahahaa simbah,

      aku tahu pasti simbah ini hanya iseng ngerjain aja…. alias mendongeng seram cap abal-abal… huuhh, merinding disko ni yee 😛 …

      iya ok nggak pa2 mbah, nyolongwall nggak nyolongwall yang penting tetap ngumpul ya mbah :mrgreen:

  7. Dongeng dari Timteng : Tuhan menciptakan …dunia dan seisinya. Dongeng dari India : kita, pikiran kita lah yang menciptakan dunia ini. Pilih yang anda suka …(-: Dongeng itu akan berarti , menurut saya, kalau kita ….eh hem, beri arti…Kalau ndak, ya tetap dongeng mbel saja, pengantar bobok…

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s